Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 16 Juli 2019 | 03.42 WIB

Kisah Djoko Kuswanto, Pendiri Rumah Prostesis Indonesia

AGAR LEBIH PD: Djoko Kuswanto menunjukkan beragam tangan palsu dengan karakter superhero untuk anak-anak. (Robertus Risky/Jawa Pos) - Image

AGAR LEBIH PD: Djoko Kuswanto menunjukkan beragam tangan palsu dengan karakter superhero untuk anak-anak. (Robertus Risky/Jawa Pos)

KEINGINAN Djoko Kuswanto untuk membantu masyarakat luas begitu besar. Dia mendirikan Rumah Prostesis Indonesia, gerakan sosial memberikan kaki dan tangan palsu gratis untuk tunadaksa.

SEPTINDA AYU PRAMITASARI, Surabaya

Puluhan desain 3D printing karya Djoko Kuswanto terpajang di Laboratorium Integrated Digital Design di Departemen Desain Produk Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Jumat (12/7). Mesin printer 3D terus bergerak mencetak implan tengkorak dari data pasien di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA). ”Ini custom implan yang dicetak untuk kasus pasien,” kata dosen di Departemen Desain Produk (Despro) ITS itu sambil menunjukkan proses 3D printing desainnya.

”Sekarang saya sedang mengembangkan tangan palsu untuk anak-anak dengan karakter superhero. Jadi, tidak hanya sebagai tangan palsu, tetapi juga bisa untuk mainan,” ucapnya sambil menggerak-gerakkan tangan palsu kuning itu.

Ya, selain dosen aktif di ITS, dia merupakan kepala Laboratorium Integrated Digital Design Departemen Desain Produk Industri ITS. Dia mengembangkan integrated digital design untuk medis. Saat ini yang sudah dikerjakan adalah pembuatan custom implan serta tangan dan kaki palsu. ”Tidak ada desainer khusus alat-alat kesehatan di Indonesia. Hampir 95 persen alat kesehatan diimpor dari luar negeri. Kebetulan selain desainer produk saya juga seorang biomedical enginer ,” ujarnya Djoko berkeinginan membantu masyarakat lebih banyak. Sejak 2017, dia mengajukan penelitian nasional dengan membuat printer 3D untuk mencetak prostesis (organ palsu). Dia merancang prostesis untuk organ luar tubuh. Penelitian awal yang dikembangkan adalah pembuatan kaki palsu di bawah lutut dan tangan palsu di bawah siku. ”Saat penelitian itu, saya sudah belajar soal eksoskeleton,” katanya.

Djoko mengatakan, dalam pembuatan eksoskeleton, biasanya dibutuhkan biaya yang besar. Misalnya, tangan bionik yang tengah tren saat ini. Biaya yang dikeluarkan untuk bisa membeli tangan atau kaki bionik bisa mencapai Rp 25 juta–Rp 100 juta. ”Saya rasa itu mahal. Tidak semua tunadaksa di Indonesia mampu membeli. Sementara cover BPJS untuk kaki palsu hanya Rp 2,5 juta,” ujarnya.

Karena itu, Djoko mulai membuat prostesis murah saat penelitian 2017 yang didanai PPTI RISTEK DIKTI. Kaki palsu pertama yang diciptakan masih di bawah lutut. Begitu juga bagian tangan di bawah siku. ”Saya bikin prostesisnya dan uji coba ke pasien di bawah divisi rehab medik RSUD dr Soetomo,” kata pria kelahiran 12 September 1970 itu.

Dalam pembuatan kaki dan tangan palsu tersebut, Djoko mulai menyentuh tunadaksa anak-anak. Mereka biasanya kurang percaya diri karena kondisi cacat pada tubuhnya. Karena itu, Djoko menciptakan tangan palsu dengan karakter-karakter superhero. Tujuannya, anak-anak lebih merasa fun. ”Agar teman-temannya bisa lebih bangga dan menjadi pusat perhatian,” ujarnya.

Keinginan membantu masyarakat tunadaksa lebih luas juga diwujudkan Djoko dengan mendirikan Rumah Prostesis Indonesia. Menurut Djoko, di luar negeri sudah banyak lembaga sosial yang fokus membuatkan kaki dan tangan palsu untuk tunadaksa. Karena itu, karya printer 3D yang dibuatnya tersebut di-upload di website resminya agar bisa di-downloadmasyarakat luas.

”Saat ini yang download sudah banyak. Ada karya kami yang favorit sudah di-download hingga 12 negara. Kami kembangkan karya kami dan di-open source-kan,” jelasnya.

Djoko menuturkan, Rumah Prostesis Indonesia itu bertujuan untuk membantu mencetak kaki dan tangan palsu untuk para tunadaksa. Program sosial tersebut dibentuk sejak 2017. Harapannya, dapat mengajak masyarakat luas untuk bisa menjadi donatur, desainer, pemilik printer 3D, volunter untuk membuat database orang-orang di daerah.

”Ke depan arah kami lebih ke internet of things (IoT). Target saya punya database orang-orang yang membutuhkan, membuat, dan mencetak kaki dan tangan palsu untuk banyak orang,” ujarnya.

Jadi, setiap orang yang ingin menjadi donatur tinggal memilih desain kaki dan tangan palsu rancangannya untuk membantu salah satu tunadaksa yang sudah terdapat dalam database. Setelah pembayaran, baru direkomendasikan pemilik printer 3D terdekat dari tunadaksa yang akan dibantu.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore