Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 21 Maret 2019 | 00.14 WIB

Kampung Baca Bukik Ase, Merawat Literasi Minangkabau

Anak-anak berlatih randai di Kampung Baca Bukik Ase - Image

Anak-anak berlatih randai di Kampung Baca Bukik Ase


Menurut Yuri, tantangan mengajar di Kampung Baca ini terletak pada tingkatan pendidikan. Sebab, tidak ada batasan sekolah untuk belajar di rumah literasi itu. SD, SMP dan SMA, semua disejajarkan. "Agak sulit menyeimbangi saja mungkin. Tapi itu bukan kendala sih," bebernya.


Yuri sendiri melatih anak-anak belajar bahasa Inggris. Menurutnya, mayoritas sekolah dasar di sekitar Bukik Ase tidak mengajarkan siswa-siswi berbahasa Inggris. "Agak sulit juga. Tapi kami coba terus mengajarkan bahasa Inggris," kata mahasiswi semester akhir jurusan Agri Bisnis Universitas Andalas itu.


Kampung Baca ini juga wadah berlatih randai (teater asli Minangkabau), silek tradisi, tari-tarian Minangkabau. Pagi hari, anak-anak belajar bahasa inggris. Kemudian dilanjutkan dengan kegiatan mendongeng. Lalu, latihan menari, silek dan randai dengan guru-guru yang mumpuni di bidangnya.


"Usai salat dzuhur, kami juga bantu siswa yang memiliki tugas sekolah," katanya.


Guru Silek Kampung Baca Bukik Ase, Zulhelman Pandeka Dirajo mengatakan, semua anak-anak dibebaskan untuk bergabung di Bukik Ase tanpa kecuali. Sebab, tujuan Kampung Baca dilahirkan memang untuk melestarikan dan mewariskan budaya pada generasi Minang selanjutnya.


"Bagaimana silek tidak hilang, randai tidak lenyap, itulah tujuan kami menghadirkan ini," kata Zul yang karib disapa Pandeka.


Pandeka sendiri merupakan salah satu penggagas lahirnya Kampung Baca Bukik Ase. Dia tidak sekadar bergala pandeka (pendekar), namun juga memegang tampuk jabatan tuo tapian (orang yang dituakan di sasaran silat). Serta kapalo rang mudo (mengantar nikah kemenakan) dalam kaum Jambak di Kenagarian Pauh Sembilan.


Di sini, lanjut Pandeka, sudah berdiri sasaran silek sejak zaman Belanda. Sedangkan Pandeka sudah angkatan ke empat menerima amanah sebagai tuo silek. Dengan lahirnya Kampung Baca, dia meyakini, tradisi silek akan terus terlestarikan. Apalagi, selain silek, anak-anak di Bukik Ase juga dilatih randai dan kesenian Minangkabau lainnya.


"Sekarang sudah rutin sekitar 50 orang anak ke sini setiap Minggu. Namanya baru, tentu berangsur-angsur," katanya.


Investasi Budaya


Mengusir kejenuhan usai belajar silek, randai dan tari, sekali dalam sebulan, anak-anak di Kampung Baca Bukik Ase juga disajikan rekreasi mandi ke sungai. Kampung ini juga menggiatkan belajar petatah-petitih adat.


"Pesertanya campur. Tapi diutamakan yang sudah dewasa. Ini latihannya malam," katanya.


Geliat Kampung Baca Bukik Ase memang baru tampak lima bulan terakhir. Namun, gagasan dan upaya menjadikannya taman baca sudah dimulai sejak tahun 2017 silam. Saat itu, areal Bukik Ase yang kini sejuk di bawah rumpun bambu masih berbalut semak-belukar alias rimba.


Berangsur satu persatu-satu. Mulai dari pendataran lokasi, membuat tempat berjenjang. Ada sasaran silek, lingkaran randai yang semuanya masih beralas tanah. Nyaris semula tak satupun ada di sana, kecuali hanya Surau Rumah Gadang yang juga belum sempurna.


"Sengaja kami bangun dekat surau. Minangkabau identik dengan surau dan silek. Jadi, habis belajar, anak-anak salat dan pulang. Begitu konsepnya berjalan seterusnya nanti," kata Pandeka.

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore