Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 15 Maret 2019 | 23.44 WIB

Difa Bike, Layanan Transportasi Difabel untuk Difabel

Triyono bersama Sugiyono menggunakan motor modifikasi dari Difa Bike. - Image

Triyono bersama Sugiyono menggunakan motor modifikasi dari Difa Bike.


Sampai sejauh itu, Triyono mengaku tak pernah benar-benar mengetahui problem yang dihadapi sesame difabel. Mungkin karena sepanjang hidupnya, Triyono tak menganggap kondisi fisiknya sebagai kekurangan. Apalagi, semangat belajarnya sangat tinggi.


Sampai kemudian, dia salat di sebuah masjid di Sleman, Jogjakarta, suatu hari pada 2014. Di sana dia bertemu dengan seorang difabel yang sembari menangis menceritakan permasalahan terkait kesulitan dalam hal mobilitas.


Rupanya, itu benar-benar menggugah Triyono. Muncullah ide transportasi untuk difabel. Sebab, dia merasa miris dengan kondisi penyandang disabilitas yang aksesnya terbatas untuk ke mana-mana. "Gimana mau maju, gerak saja susah," ungkapnya.


Diluncurkanlah Difa Bike bertepatan dengan Hari Difabel Internasional empat tahun silam. Ada ratusan penyandang disabilitas yang sebenarnya berminat menjadi driver. Akhirnya yang dipilih yang memenuhi persyaratan berupa kemampuan geraknya minimal 70 persen.


Sugiyono bersyukur sekali termasuk yang terpilih. Sebab, pria yang tangan kanannya lumpuh akibat polio itu sudah merasakan betul sulitnya mendapat pekerjaan.


"Dulu saya angon bebek karena ditolak kerja di mana-mana," kenangnya.


Karena kondisi fisiknya, motor dimodifikasi dengan mengganti gas motor. Dari tadinya di kanan menjadi di kiri.


Tak seperti layanan ojek daring lain, yang setelah mengantar lalu langsung meninggalkan penumpang, driver Difa Bike seperti Sugiyono harus menunggu sampai si penumpang pulang. Sebab, kalau tidak demikian, si penumpang yang umumnya difabel itu bisa dipastikan bakal sulit mendapatkan layanan transportasi lain.


Karena itu, dalam satu hari driver Difa Bike maksimal hanya bisa melayani dua penumpang. Sebab, dibutuhkan waktu lama untuk mengantar bolak-balik. "Kami ini ada hubungan emosional dengan penumpang. Saling mengenal, sudah seperti keluarga," ungkap Sugiyono.


Harga layanan Difa Bike Rp 2.500 per kilometer. Biaya masa tunggu per jam Rp 10 ribu. Rata-rata driver menunggu pelanggan bisa sampai tiga jam. Khusus untuk penumpang difabel yang hendak ke rumah sakit, Difa Bike memberikan layanan gratis.


Bagaimana jika yang naik penumpang nondifabel? Tetap harus ditunggu. Sebab, rata-rata tujuan penumpang non penyandang disabilitas itu berwisata di sekitar Jogjakarta.


Untuk merintis Difa Bike, Triyono menggandeng Sedekah Rombongan dan beberapa kolega pengusaha lain. "Saya kumpul-kumpulin jadi tiga, karena bikin boks itu satunya Rp 5 juta," tuturnya.


Kendala awal mendirikan Difa Bike adalah belum adanya penumpang, sedangkan driver harus tetap dibayar karena mereka butuh uang untuk makan. Dalam sehari satu pengemudi dibayar Rp 20 ribu jika tidak dapat penumpang selama berbulan-bulan.


Beberapa sumbangan dari donatur dia alihkan untuk layanan itu. "Kadang mereka masih tetep ngasih Rp 5 ribu apa Rp 10 ribu, udahlah itu buat driver saja," ujarnya.


Padahal, agar bisa total mengurusi Difa Bike, Triyono memutuskan untuk melepaskan berbagai bidang usaha yang sebelumnya digeluti. Keuangannya pun sempat anjlok. Tapi, dia mengaku tetap puas karena merasa bisa berguna bagi banyak orang.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore