Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 24 Januari 2019 | 21.26 WIB

Cerita Duet Kakak Beradik Menembus Persaingan Badminton Dunia

Gebriela Stoeva/Stefani Stoeva seusai bertanding melawan Greysia/Apriyani pada gelaran Indonesia Masters 2019 di Istora Senayan. - Image

Gebriela Stoeva/Stefani Stoeva seusai bertanding melawan Greysia/Apriyani pada gelaran Indonesia Masters 2019 di Istora Senayan.


Kakak beradik itu mulai bermain bulu tangkis ketika bersekolah di Haskovo School Club. Saat itu Gabriela baru berusia 10 tahun dan Stefani 9 tahun.


Kebetulan, ada lapangan bulu tangkis di dekat rumah mereka. "Saat masih kecil, kami hanya ingin bermain dengan teman-teman. Ya, sekadar bersenang-senang," kenang Stefani.


Eh, ternyata keterusan. Setahun berselang, mereka sama-sama masuk timnas Bulgaria. Pada 2009, mereka memulai debut internasional. "Awalnya memang hobi, mengisi waktu luang setelah pulang sekolah. Lalu, jadi tambah serius sampai bisa seperti ini," ungkap Gabriela yang berambut pirang menimpali.


Karena fasilitas bulu tangkis di Bulgaria tidak mencukupi, dua bersaudara itu berlatih di Prancis. Mereka tinggal di Paris sejak 2017. Mereka juga sempat mendapat pengalaman berlatih di Klub Jaya Raya.


"Kami pulang ke Bulgaria saat mengunjungi orang tua di rumah atau ketika tidak ada jadwal turnamen. Semua fasilitas dan pelatih ada di sana (Paris)," jelas Gabriela yang pernah menjalin kedekatan dengan pemain ganda putra andalan Indonesia Marcus Fernaldi Gideon.


Sebagai pemain profesional, hari-hari mereka pun dihabiskan untuk mengikuti turnamen demi turnamen. Dari satu negara ke negara lain. Tapi, tiap kali ada waktu luang, mereka akan menyeriusi "olahraga" mereka lainnya: e-sport.


Mereka terlihat sering memainkan salah satu game yang populer saat ini, PUBG. "Ya, kami pemain PUBG full time," ujar Gabriela antusias. Stefani pun tertawa keras mendengarnya.


Mereka menyukai game tersebut sejak tahun lalu. Sekitar Juni. Saat itu, ketika mengikuti Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis, mereka kalah pada babak 16 besar. Mereka marah karena tampil buruk.


Keduanya pun membutuhkan pelampiasan. "PUBG adalah game yang membuat kami bisa rileks. Menyenangkan bisa melakukan sesuatu di luar badminton," tutur Stefani.


Namun, e-sport hanyalah hobi. Tak akan mendorong keduanya menjadi pemain profesional. "Tidak, tidak, tidak. Ini tidak untuk diseriusi," tegasnya.


Konsentrasi utama mereka tetap ke bulu tangkis. Apalagi, ada sederet target yang mereka bidik pada 2019. Salah satunya mempertahankan gelar di Kejuaraan Eropa yang berlangsung Juni nanti di Minsk, Belarusia.


Selain itu, yang lebih penting adalah memburu poin agar bisa tampil di Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang. Di Olimpiade sebelumnya di Rio de Janeiro, Brasil, mereka tersisih di fase grup.


"Olimpiade adalah mimpi kami. Kami akan berjuang keras untuk bisa mendapat medali di sana," kata Gabriela.


Pasti akan "berdarah-darah" untuk bisa me­wujudkan target tersebut. Persaingan di ganda putri dunia begitu ketat. Namun, Gabriela dan Stefani tak akan pernah lupa semangat awal yang membawa mereka menekuni badminton: untuk bersenang-senang bersama kawan-kawan.


Jadi, kalah-menang tak akan sampai melunturkan keramahan mereka. Misalnya, yang mereka tunjukkan di Istora kemarin. Yang membuat mereka mendapat banyak kawan. Disambut meriah saat melintasi mixed zone. "Selalu menyenangkan bermain di sini. Penontonnya begitu antusias," kata Gabriela. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore