alexametrics
Dunia Anak di Posko Pengungsian Merapi (2)

Pesan Mitigasi Diselipkan sembari Bikin Layangan

19 November 2020, 14:34:53 WIB

Belajar bersama, kelas memasak, dan bermain bola membantu para pengungsi anak di Posko Glagaharjo menemukan keceriaan kembali. Usulan seorang bocah yang kerap kalah bersaing dalam antrean ke kamar mandi melahirkan toilet anak.

ILHAM WANCOKO, Sleman, Jawa Pos

TANGAN kecil itu bergerak cepat. Tapi, tetap saja terlambat. Roti sudah berada di mulut si peracik.

”Uenak,” tutur si peracik sembari mengiming-imingi temannya yang mau menyerobot. Mereka sama-sama tertawa.

Sebagian lainnya berebut bahan. Ada pula yang berteriak, ’’Rotiku mana.” Tapi, tak seorang pun menyahut. Semua asyik meracik sandwich atau roti lapis.

Taman Ceria, ruangan yang diperuntukkan belajar dan bermain anak di Posko Pengungsian Merapi Glagaharjo, Sleman, Jogjakarta, itu pun awut-awutan. Tapi, semua memang benar-benar ceria mengikuti kelas memasak pada Selasa lalu itu (17/11).

Tak terkecuali buyung berbaju merah yang tak peduli dengan teman-temannya yang tengah menikmati roti lapis. Dia memilih meraih sebuah mainan sapi yang bisa diduduki. Lantas, meloncat-loncat bersama si sapi.

Saking girangnya meloncat, dia sampai keluar dari tenda Taman Ceria. Menjauh dari anak-anak lain beberapa belas meter. Setelah bermandi keringat, baru dia mengambil minum yang berada di dalam tenda.

Pada Selasa lalu itu, sudah 10 hari anak-anak tersebut berada di posko bersama orang tua mereka. Anak-anak, ibu hamil, dan lansia dari kawasan rawan bencana memang diprioritaskan untuk dievakuasi terlebih dahulu. Itu dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan status Merapi menjadi siaga pada 5 November lalu.

Menurut anggota Tim Perlindungan Anak dan Perempuan Barak Pengungsi Glagaharjo Arief Winarko, karena sudah 10 hari, anak-anak di posko telah beradaptasi.

’’Semua sudah ceria sekarang, tapi tiga hari pertama wah,” kenang Arief, lantas tersenyum.

Tiga hari pertama di Glagaharjo itu seperti tiga hari pertama di Posko Deyangan, Magelang, dan Posko Klakah, Boyolali, yang juga sudah disambangi Jawa Pos: ramai karena ’’konser” tangisan bayi di hari-hari pertama.

Di tiga hari pertama di Glagaharjo, hampir setiap hari anak-anak sulit tidur. Hingga pukul 00.00, masih ada saja anak-anak yang melek. Tidak sedang bermain, hanya duduk-duduk.

Memang di hari-hari pertama, belum ada kipas angin, juga televisi. Belum pula ada program social recovery (pemulihan sosial). ”Setelah semua dilengkapi, akhirnya pelan-pelan mulai normal,” tuturnya.

Aktivitas social recovery berupa bermain dan belajar seperti kelas memasak tadi membuat psikologis anak-anak membaik. Akhirnya anak-anak jadi sering bercerita soal keadaan mereka. ”Curhat kalau bosan, akhirnya minta dibikinkan layangan, main sepak bola, dan terkadang sepedaan,” ujarnya.

Dalam aktivitas itu, tim berupaya untuk menyelipkan materi mitigasi bencana. Misalnya, mengajarkan cara membawa kotak P3K. Saat pandemi ini, kotak P3K juga ditambah masker dan hand sanitizer. ”Itu cara-caranya,” urainya.

Bahkan, tim juga menerima berbagai keluhan anak. Salah satunya yang bikin kaget, keluhan seorang anak yang masuk akal: toilet khusus anak. ”Setelah kami sadari, ternyata anak itu sering kali tersisih kalau mengantre toilet,” paparnya.

Akhirnya, dibuatlah toilet khusus anak. ”Itu toiletnya,” ujar Arief sambil menunjuk ke samping tenda Taman Ceria.

Fasilitas bermain di Posko Glagaharjo memang jauh lebih lengkap daripada posko lain. Selain terdapat toilet khusus anak, ada taman bermain yang dilengkapi ayunan hingga perosotan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Joko Supriyanto menuturkan, tak hanya mainan seperti jaranan dan ayunan, BPBD juga memberikan fasilitas wifi dan TV. ”Agar anak bisa tetap belajar, kan semuanya online sekarang,” ujarnya.

Kepekaan terhadap situasi di posko menjadi salah satu kunci untuk menghindari trauma. Kasi Mitigasi BPBD Sleman Joko Lelono mencontohkan, karena perbedaan aktivitas, pengungsi posko dipisahkan berdasar kriteria.

”Lansia di posko dekat lapangan. Lalu, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak-anak di posko lainnya,” urainya.

Dengan begitu, tidak terjadi gangguan. ’’Lansia tidak terganggu dengan bayi dan anak-anak yang biasanya rewel menangis,” jelasnya.

Sebenarnya BPBD Sleman telah berupaya untuk membuat pengungsian sister village yang lebih nyaman. Mengungsi ke rumah orang, tapi seperti di rumah sendiri.

Namun, upaya yang telah dilakukan beberapa tahun belakangan itu tertunda akibat adanya pandemi. ”Sudah ada memorandum of understanding antara sister village. Tapi, ya nggak jalan karena pandemi ini,” urainya.

Baca juga:

Joko Lelono mengatakan tidak akan menyerah untuk membuat pengungsian yang bisa menghilangkan kesan mengungsi. Dengan traumanya, dengan kerumunannya. ”Kami ingin membuat pengungsian yang bermartabat, pengungsi tetap bisa menjalankan aktivitas biasa,” tuturnya dengan suara tegas.

Di posko tersebut, tim juga menyiapkan lahan seluas 2 hektare untuk transit ternak. Tujuannya, pengungsi tidak takut kehilangan ternak yang merupakan bagian dari mata pencaharian.

Dengan luas itu, lahan tersebut bisa digunakan untuk sekitar 200 ekor ternak. Menjaga kesejahteraan pengungsi juga merupakan bagian menjamin kesehatan dan pendidikan anak-anak.  (*/habis)

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c7/ttg



Close Ads