alexametrics

Kalau Makannya Prasmanan, Justru Rawan Penularan

Pengungsi Merapi di Tengah Pandemi
14 November 2020, 12:45:41 WIB

Sebagian pengungsi dan relawan di berbagai barak pengungsian mulai menjalani rapid test atau swab test. Kerja sama sister village diharapkan bisa menekan dampak jika Merapi benar-benar meletus.

SEVTIA E.N., Sleman-ANGGA P., Klaten-TRI W., Boyolali, Jawa Pos

GEDUNG sekolah dasar itu ramai lagi. Tapi, tentu bukan karena pelajaran tatap muka akan dimulai. Atau, karena bakal digelar rapat wali murid.

Ratusan orang meriung di SD Muhammadiyah Cepitsari, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Jogjakarta, itu karena mengungsi. Ini sebagai antisipasi peningkatan status Gunung Merapi menjadi siaga.

’’Kami juga sudah menyiapkan 30 sekolah lain untuk barak pengungsian, mulai gedung TK, SD, sampai SMP,’’ kata Kepala Dinas Pendidikan Sleman Ery Widaryana kepada Jawa Pos Radar Jogja kemarin (13/11).

Dan, sebagaimana tempat berkumpulnya banyak orang di masa pandemi, protokol kesehatan pun diterapkan di SD Muhammadiyah Cepitsari. Satu ruangan di sekolah tersebut, ruangan kelas VI, disiapkan sebagai ruang isolasi.

Saat ini sudah ada enam bilik yang disediakan dalam ruang kelas tersebut. ’’Ruangan dibuat setelah ada arahan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X,’’ ujar Panewu Cangkringan Suparmono kemarin (13/11).

Mengungsi dalam kondisi bagaimanapun tentu tak nyaman. Ketika itu harus dilakukan di tengah pandemi seperti sekarang ini, ketidaknyamanan atau kerepotan yang dialami tentu berlipat.

Protokol kesehatan yang meliputi 3M (mencuci tangan, memakai masker, menjauhi kerumunan/menjaga jarak) tak boleh diabaikan. Belum lagi harus bersiap menjalani rapid test atau swab test.

Dan, itu tak cuma terjadi di Sleman. Tapi juga di berbagai barak pengungsian di Klaten, Boyolali, dan Magelang yang masuk wilayah Jawa Tengah. Merapi memang berada di wilayah dua provinsi: Jogjakarta dan Jawa Tengah.

Di barak pengungsian di Desa Balerante, Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, misalnya, kemarin pagi mulai diadakan swab test atau uji usap. ’’Ada swab test untuk para relawan dan pengungsi sebanyak 25 orang. Perinciannya bagaimana saya kurang tahu. Yang pasti acak,’’ jelas Kaur Perencanaan Pemdes Balerante, Kecamatan Kemalang, Jainu kepada Jawa Pos Radar Solo kemarin.

Jainu menjelaskan, swab test yang dilaksanakan itu bagian dari identifikasi terhadap pengungsi maupun relawan. Termasuk pencegahan persebaran Covid-19 di barak pengungsian.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten Sip Anwar menyatakan, pihaknya belum mengetahui pasti siapa saja yang menjalani swab test di barak pengungsian. Tapi, dia sudah berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten Cahyono Widodo.

’’Kepala dinas bilang ke saya setidaknya dalam sehari bisa melaksanakan swab test hingga 40 orang. Tetapi, kan kami tidak bisa memaksakan kehendak meski swab test ini gratis,’’ jelasnya.

Di Boyolali, kepala bidang (Kabid) kedaruratan dan logistik badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) setempat, Kurniawan Fajar Prasetyo, mengatakan, 200 relawan diterjunkan untuk membantu warga di lereng Gunung Merapi. Ratusan relawan itu berasal dari berbagai SAR di eks Karesidenan Surakarta.

’’Kami akan mendirikan posko induk di lapangan Kecamatan Selo,’’ katanya.

Selanjutnya, disebar di posko-posko yang telah ditentukan. Yakni, di KRB III di Dusun Stabelan, Takeran, dan Belang, Desa Tlogolele. Lalu, Dusun Bakalan, Sumber, dan Kembangsari, Desa Klakah, serta Dusun Sepi dan Jarak, Desa Jrakah.

’’Seluruh relawan yang membantu penanganan darurat Gunung Merapi ini memiliki spesialisasi khusus. Seperti SAR dengan spesialisasi di bidang kesehatan, logistik, evakuasi di medan berat, dan lainnya,’’ ujarnya.

Mereka akan siaga hingga 31 Desember. Secara teknis, para relawan itu bergantian dari tiap-tiap posko selama 10 hari. Sebelum bertugas, mereka juga diwajibkan menjalani rapid test di kantor Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalop) BPBD Boyolali.

MENYEMANGATI ANAK-ANAK: Relawan membantu belajar anak di barak pengungsian di Glagaharjo, Cangkringan, Sleman. (ELANG KHARISMA DEWANGGA/JAWA POS RADAR JOGJA)

Sementara itu, data per kemarin (13/11) dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebutkan bahwa aktivitas kegempaan Merapi lebih intens daripada minggu lalu. Deformasi Merapi yang dipantau dengan electronic distance measurement (EDM) menunjukkan ada laju pemendekan jarak dengan kecepatan 10 cm/hari.

Meski demikian, hingga saat ini belum terdeteksi pertumbuhan kubah lava baru selain kubah lava lama 2018 dengan volume 200.000 meter kubik.

BPBD di empat kabupaten, yakni Boyolali, Klaten, Magelang, dan Sleman, telah mengevakuasi dengan prioritas kelompok rentan. Kelompok rentan tersebut berasal dari dusun-dusun yang direkomendasikan BPPTKG untuk dievakuasi ke tempat aman.

Di Boyolali, ada tiga selter yang disiapkan untuk pengungsi dari kawasan rawan bencana. Salah satunya di Desa Demakijo, Kecamatan Karangnongko. Selter itu diproyeksikan untuk menampung pengungsi dari Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang.

Jawa Pos Radar Solo melaporkan, bagian lantainya tampak sudah diberi tanda penyekat dari lakban. Beberapa kali selter tersebut dicek, baik oleh BPBD maupun puskesmas.

’’Sebenarnya gedung utamanya bisa menampung pengungsi hingga 300 orang. Tapi, karena diterapkan protokol Covid-19, hanya 80 orang nanti,’’ kata petugas jaga selter pengungsian, Demakijo Triyono.

Triyono menjelaskan, penyekatan para pengungsi saat ini menggunakan lakban dengan cara ditempel di lantai. Setiap kotak memiliki ukuran sekitar 1 x 2 meter untuk satu orang. Tetapi, ke depan disekat dengan tripleks tebal.

Sementara itu, evakuasi warga dari KRB Merapi terus dilakukan. ’’Tadi malam (Kamis, 12/11) sudah menurunkan pengungsi dari Dusun Bakalan, Klakah, 150 orang. Masyarakat diimbau turun ke pengungsian sementara,’’ ungkap Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Boyolali Masruri kemarin (13/11).

Baca juga:

Pihaknya berharap sistem sister village atau desa bersaudara antara Desa Klakah, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, dengan Desa Gantang, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, mampu meminimalkan dampak yang ditimbulkan apabila Gunung Merapi meletus. ’’Sudah kami koordinasikan. Semua sudah siap,’’ ujarnya.

Masih terkait dengan protokol juga, Panewu Cangkringan Suparmono menjelaskan, penyajian makan untuk para pengungsi diperhatikan secara khusus. Salah satu caranya dengan dibungkus.

’’Kalau prasmanan, sangat riskan terjadi penularan. Apalagi, satu sendok dipegang banyak orang potensi menyebarnya virus,’’ ungkap Suparmono.

Masih ada beberapa hal yang dirasa kurang. Mulai belum menggunakan sarung tangan saat memasak hingga membagikan makanan. ’’Namun, dalam waktu dekat, diupayakan penggunaan sarung tangan guna menjaga kebersihan,’’ katanya.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */tau/c19/ttg



Close Ads