
Topi Ka (kiri) dan Sunara (kanan), sang penakluk Tsunami saat berada di Dermaga Nelayan Sidamukti Tanjung Lesung Banten.
Kuatnya terjangan tsunami membuat kapal-kapal pencari ikan itu pecah. Nelayan awak kapal pun berusaha menyelamatkan diri. Mereka berpegangan pada benda apa pun yang mengapung di laut lepas. Bagi mereka, yang terpenting adalah tidak tenggelam dan terbawa arus.
JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Pandeglang
---
TATAPAN wajah Sunara, 25, tampak kosong. Pemuda lajang itu tak banyak bicara sesaat setelah turun dari boncengan sepeda motor. Kasmuni, 55, menyambut anaknya itu dengan begitu gembira. Sebab, sejak kejadian tsunami Sabtu malam (22/12), dia tidak tahu kabar putra ketiganya tersebut.
Nara -sapaan akrab Sunara- yang dicari dan dinanti setelah melaut ke Selat Sunda itu ternyata selamat dari tsunami. Dia menjadi salah seorang anak buah kapal (ABK) Warga Baru yang dinakhodai Sunar. Mereka semua warga Sidamukti, Kecamatan Sukaresmi, Pandeglang.
"Saya selamat karena pegangan fiber," kata Nara. Selagi bercerita, datang seorang rekan Nara, Topika. Pemuda 25 tahun itu juga selamat bersama Nara dan bisa kembali ke kampung.
Topika lebih tegar bercerita. Dia menuturkan baru saja sampai ke Sukaresmi Minggu sekitar pukul 22.00. Dia mengalami luka robek di tangan kanan, pangkal paha kanan, dan dagu. "Lukanya tidak boleh dijahit karena sudah menginap semalam," ungkap Topik, sapaan akrab dia.
Sebelum sampai ke kampung itu, Topik bersama Nara harus menempuh perjalanan darat hingga 14 jam. Mereka berangkat dari Pulau Handeuleum di kawasan cagar alam Ujung Kulon. Menyeberang ke kawasan konservasi itu dan menembus jalan darat. Perjalanan jadi begitu lama karena kondisi jalan yang rusak akibat terjangan tsunami. "Banyak batu di jalan. Beberapa ruas jalan juga terputus," tutur Topik.
Di Pulau Handeuleum itulah mereka bertemu dengan petugas penjaga konservasi pada Minggu (23/12) sekitar pukul 06.30. Mereka bisa sampai ke Pulau Handeuleum dengan menggunakan perahu kolek berukuran kecil. Perahu tersebut tidak hanya dinaiki mereka berdua. Tapi, sepuluh orang. Delapan lainnya adalah Tarmidi, Sunar, Tinggal, Masturo, Agus, Niko, Agus Cita, dan Zaenal.
"Kami pulang duluan untuk meminta bantuan warga agar mereka bisa dijemput. Lokasinya di Pulau Handeuleum," ungkap Topik. Untuk mencapai pulau tersebut, perjalanan laut bisa sampai setengah hari. Itu bila menggunakan kapal berukuran 4 gross tonnage (panjang 15 meter dan lebar 2,5 meter) seperti milik Rasyim. Mereka juga berkoordinasi dengan Basarnas atau petugas polairud setempat untuk penjemputan.
Sepengetahuan Topik, mereka bersepuluh yang selamat dari terjangan tsunami itu. Mereka berasal dari kapal pencari ikan yang berbeda. Sedangkan rekan-rekan mereka yang lain mungkin sedang menyelamatkan diri ke tempat berbeda. "Ada dua orang yang kemungkinan hilang dan tenggelam. Karena mereka memang tidak bisa berenang. Pak Kumis dan Pak Raswin," tutur Topik.
Apa yang dilakukan Topik agar bisa lolos dari terjangan tsunami? Sama dengan Nara, dia ternyata juga berpegangan pada fiber. "Itu lho, tutup boks untuk nyimpan ikan," kata Topik.
Topik menceritakan, sesaat sebelum tsunami menerjang, dirinya bersama nelayan lain berada di dekat Pos Citelang di kawasan Ujung Kulon. Saat itu mereka tidak tahu ada gelombang tsunami. Mereka tahunya ada ombak tinggi yang tidak biasanya. Lima perahu pun berdekatan. Tujuannya, saling melindungi dari ombak. Lima perahu itu milik Takrudi, Sunar, Wardaya, Aspani, dan Tarmidi.
"Datangnya tsunami seperti kapal (besar yang menerjang). Gluguurr," ujar Topik yang menirukan suara gelombang tsunami itu. Dari kejauhan terlihat putih seperti kabut atau awan. "Pik, engkol, Pik," kata Topik menirukan perintah Tarmidi yang juga kakak iparnya. Dia diminta Tarmidi untuk menyalakan mesin kapal. Namun, mesin kapal itu tak mau segera berfungsi. "Dari kamar mesin saya keluar. Saat posisi (kami) sudah di atas kapal, langsung digulung ombak," ungkap Topik.
Kapal Srimakmur berkapasitas 4 gross tonnage yang dinaiki Topik itu diterjang ombak hingga empat kali. Tingginya 5 hingga 7 meter. Semua muatannya semburat. Kapal terguling. Lalu pecah.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
