Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 8 Desember 2018 | 22.28 WIB

Jalan Panjang Dodi Benges Membangun 'Kerajaan Kreatif' Komunitas Punk

BERUBAH BERSAMA: Benges (kiri) dan Komeng menunjukkan proses produksi Masberto Kingdom yang dibangun bersama anak-anak punk sejak 2011. - Image

BERUBAH BERSAMA: Benges (kiri) dan Komeng menunjukkan proses produksi Masberto Kingdom yang dibangun bersama anak-anak punk sejak 2011.


Susah payah pula dia mempertahankan tempat itu. Awal mula dia memilih menjual minuman keras (miras). Ciu yang paling laku. "Di sini sumbernya ciu dulu. Gila-gilaan jualan ciu supaya nutup kebutuhan anak-anak," tambahnya.


Tapi, berkali-kali Benges didatangi aparat. Mulai polisi, anggota satpol PP, sampai aparat pemerintah setempat. Pernah juga ramai-ramai digeruduk masyarakat. Dua tahun berjalan, bisnis miras mulai dia tinggalkan. "Kami juga nggak mau terus melanggar hukum," tutur Benges yang juga beristri anak punk.


Rekan-rekan sesama anak punk yang mendiami Masberto Kingdom lantas belajar menyablon. Semula mereka membeli T-shirt jadi. Yang kemudian disablon ala kadarnya dan dijual dengan sedikit memaksa.


Lambat laun pola itu berubah. Mereka belajar menjahit. Lantas membeli bahan. Dan membuat T-shirt sendiri. Prosesnya tentu saja tidak mudah. Butuh waktu. Tapi, kegigihan mereka berbuah. Kini produk mereka dicari.


Saat ke markas Masberto Kingdom pada akhir Oktober lalu, Jawa Pos menyaksikan proses produksi mereka. Ada yang memilah, membuat pola, dan memotong kain. Ada pula yang sibuk menjahit. Juga tentu saja yang bertugas menyablon. Pelakonnya laki-laki semua. Bertato. Bertindik. Anak-anak punk.


Peyang salah satunya. Berproses bersama Masberto Kingdom telah membawa begitu banyak perubahan baginya. "Dulu ngamen di metro mini," ujarnya tentang hari-hari sebelum bergabung bersama Masberto Kingdom. Malahan banyak di antara mereka yang kini sudah berkeluarga seperti Benges. "Ada lima orang," ucap Benges.


Mereka berani menikah dan mengikat janji sehidup semati setelah bergabung dengan Masberto Kingdom. Dengan penghasilan saat ini, mereka memang sudah bisa menata hidup jauh lebih baik.


Pintu Masberto Kingdom, kata Benges, terbuka bagi setiap anak punk. Asal mau berkarya dan bekerja. Hanya, diakui banyak juga yang datang kemudian pergi. Mereka tidak betah lantaran dia "memaksa" setiap anak punk yang ada di Masberto Kingdom berubah. Dari kebiasaan lama yang serba berantakan menjadi lebih tertata.


Mulai membuka mata saat bangun tidur sampai menutup mata menjelang istirahat di malam hari. Mereka boleh tinggal tanpa bayar sama sekali. "Malah digaji lebih besar daripada pekerja pabrik," kata Benges.


Syaratnya, harus mau disiplin. Selain berkarya dan bekerja, mereka harus bersedia bangun pagi. Lantas masak sendiri dan bersih-bersih rumah sekaligus tempat mereka bekerja. Sebab, Masberto Kingdom yang dia impikan tidak cuma bisa menghidupi, tapi juga mengubah pandangan orang terhadap anak punk.


Agar Masberto Kingdom kian dekat dengan masyarakat, Benges tidak lupa memberikan ruang kepada mereka. "Kami ada pengajian rutin di sini," ungkap dia.


Kegiatan itu merupakan usulan masyarakat. Yang kemudian ditampung dan dilaksanakan. Benges dan anak-anak punk yang tinggal di Masberto Kingdom juga turut andil. Mereka ikut pengajian rutin tersebut.


Gunawan, seorang pemuda setempat, mengaku sangat merasakan perubahan Masberto Kingdom itu. "Dulu nggak begitu," ucap dia. "Sekarang ramai, bersih, enak," imbuhnya.


Bagi Benges, yang telah dia dan kawan-kawannya tunjukkan itu bukti bahwa anak punk juga bisa menata diri. Dengan semangat kemandirian dan kegigihan, mereka bisa bermimpi dan berlari mewujudkan impian tersebut. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore