Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 27 Oktober 2018 | 18.05 WIB

Penyeberangan Ujung-Kamal, Nasibmu Kini

KM Jokotole salah satu kapal ferry yang masih melayani penyeberangan Surabaya-Madura. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos) - Image

KM Jokotole salah satu kapal ferry yang masih melayani penyeberangan Surabaya-Madura. (Ahmad Khusaini/Jawa Pos)


Sebagian teman Aziz pergi meninggalkan pelabuhan. Banyak yang beralih profesi. Selain menjadi buruh pabrik, banyak mantan pedagang yang bekerja sebagai kuli di pasar tradisional.


Aziz memakluminya. Kejayaan penyeberangan Ujung-Kamal yang semakin tergerus. Pendapatan pedagang turun drastis gara-gara sepinya penumpang. "Dulu saya bisa mengumpulkan uang hingga Rp 150 ribu per hari. Sekarang hanya Rp 40 ribu per hari," keluhAziz.


Berdasar catatan PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Surabaya, ada 16 kapal yang beroperasi sampai 2009. Sebagian besar milik swasta. Setiap hari kapal-kapal itu berangkat dengan penuh penumpang.


Perubahan lantas terjadi setelah Suramadu difungsikan. Jumlah kapal terus turun. Banyak perusahaan pelayaran yang menarik asetnya. Sebagian kapal dipindahkan ke luar Pulau Jawa.


Hingga kini, hanya tersisa tiga kapal yang masih eksis menyeberangi Selat Madura. Selain KM Tongkol, ada KM Joko Tole dan KM Gajah Mada. Tiga kapal itu memiliki kapasitas berbeda.


"Joko Tole berstatus milik swasta. Dikelola PT Dharma Lautan Utama," papar General Manager PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Surabaya Rudy Bangsawan Hanafiah saat ditemui di ruangannya.


Pria asal Palembang, Sumatera Selatan, itu membenarkan, keberadaan Suramadu memang berdampak besar bagi kehidupan Ujung-Kamal. Penumpang jalur laut sepanjang 2 mil menurun drastis. Penurunan itu masih terus berlanjut hingga tahun ini.


Sepinya penumpang dipaparkan Rudy melalui gambaran grafik omzet perusahaan. Pada 2009, pendapatan PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Surabaya mencapai Rp 164 miliar. Angkanya terus mengecil. "Tahun 2016, omzet jadi Rp 14 miliar," tutur Rudy.


Tentu saja, penurunan omzet berdampak pada kesehatan keuangan perusahaan. PT ASDP merugi setiap tahun. Secara rata-rata, kerugiannya mencapai Rp 10 miliar-Rp 15 miliar.


Rudy membeberkan, dana perusahaan banyak terkuras untuk operasional kapal setiap hari. Sebagian untuk perawatan rutin. Termasuk, biaya perbaikan saat terjadi kerusakan. "Sedangkan kami tak punya harapan untuk mencari pendapatan lebih," kata Rudy.


Satu-satunya pemasukan dari tiket tak bisa diandalkan. Bahkan, tarifnya sempat diperkecil. Kebijakan itu terjadi pada 2013. Tarif tiket dipangkas 50 persen. Upaya itu dilakukan untuk meramaikan Ujung-Kamal. Hanya, hasilnya kurang memuaskan. Penumpang tetap sepi. "Sekarang ini harga tiket sudah cukup akomodatif. Tidak mungkin dikurangi lagi," tambah Rudy.


Berdasar informasi, tarif untuk penumpang Rp 5.000, sepeda motor Rp 7.000, mobil Rp 46.000, dan truk mulai Rp 56.000 hingga Rp 74.000. Tarif truk menyesuaikan jenisnya.


PT ASDP terus berupaya mengakali agar perusahaan tidak banyak merugi. Salah satu caranya, mengurangi jam operasional penyeberangan. Sebelumnya, tiga kapal beroperasi 24 jam.


Sekarang kapal hanya berjalan 16 jam. Yakni, mulai pukul 05.00 sampai 21.00. Satu kapal berlayar sepuluh kali pergi pulang (PP). "Sempat saya usulkan pengurangan jadwal pemberangkatan. Namun, ditolak perusahaan swasta," kata Rudy.


Untuk efisiensi operasional, PT ASDP juga mengurangi jumlah dermaga yang difungsikan. Dari tiga dermaga, hanya satu yang dipakai. Hingga kini, tiga dermaga dimanfaatkan secara bergantian.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore