Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 17 Oktober 2018 | 21.50 WIB

Impian 2 Desainer Tunarungu Setelah Tampil di Panggung Internasional

Putri Permata Sari didepan mesin jahit di Kediamannya di Cikini Jakarta Pusat, (21/9) - Image

Putri Permata Sari didepan mesin jahit di Kediamannya di Cikini Jakarta Pusat, (21/9)


Dia mengisahkan, partisipasinya di Jakarta Modest Fashion Week (JMFW) dimulai dari perkenalannya dengan organisasi Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang bekerja sama dengan Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia). Berikutnya, Gerkatin menjalin kontak dengan perusahaan fashion marketplace Markamarie besutan Franka Soeria.


Penjajakan pun dilakukan untuk mengajak desainer dari Gerkatin agar bisa berpartisipasi dalam ajang JMFW 2018. Setelah melalui proses kurasi, beberapa desain karya Ninik dan rekan-rekannya dari Gerkatin dinilai memenuhi kualifikasi untuk tampil di ajang bergengsi itu.


Ninik mengajukan enam desain. Yang lolos tiga. Demikian juga beberapa rekannya di Gerkatin. Selain itu, ada beberapa desain yang diajukan rekan-rekannya dari Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) dan Majelis Ta'lim Tuli Indonesia (MTTI). Namun, yang paling banyak lolos adalah desain dari Gerkatin.


Total, ada 20 desain yang akhirnya ditampilkan dalam ajang mode itu. "Desain baju saya modelnya tertutup. Bukan baju muslim juga, tapi bentuknya sederhana," ungkap Ninik dengan ditemani putrinya yang juga membantu dalam wawancara.


Kekurangan dalam pendengaran tak pernah menghalangi kemauan keras Ninik untuk mengembangkan keterampilan. Dia malah semakin termotivasi untuk membuktikan bahwa penyandang disabilitas pun bisa berkarya dengan baik.


Demikian pula Puput -sapaan akrab Putri Permata Sari. Dia mulai belajar menjahit di usia 15 tahun. Saat masih duduk di bangku SMP.


Kecintaan kepada dunia menjahit itu bisa dibilang "warisan" dari ibu dan neneknya. "Saya suka menjahit. Enak, bisa menjahit baju sendiri," ungkap Puput dalam tulisan di kertas.


Sebelum mengikuti JMFW 2018, Puput punya pengalaman mengikutkan karyanya di Fashion Week Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (ISWI) 2005. Juga, Fashion Week Lasalle 2008.


Sepuluh tahun kemudian, barulah dia kembali ikut serta dalam peragaan busana dengan skala yang jauh lebih besar: JMFW. Sehari-hari Puput yang mengenyam pendidikan D-3 Jurusan Desain ISWI Jakarta juga cukup produktif dalam melayani pesanan jahitan baju.


Jika desain pesanan sederhana, Puput yang masih lajang bisa menyelesaikan dua hingga tiga baju dalam sehari. Namun, kalau desain rumit, kadang dia butuh waktu dua hingga tiga hari untuk menggarap.


"Biasanya, yang pesan kerabat dan teman-teman. Ada yang datang langsung, ada yang lewat WhatsApp," ungkap perempuan kelahiran 16 November 1980 itu.


Dalam perbincangan dengan Jawa Pos di kediamannya di kawasan Jakarta Pusat, Puput lebih sering menggunakan media tulis. Sebab, sesekali pesan yang disampaikan sulit ditangkap. Namun, itu sama sekali tak mengurangi keramahannya.


Keikutsertaan dalam JMFW 2018, menurut Ninik, juga sangat mengangkat kepercayaan diri para desainer tuli. Namun, ada satu keinginan Ninik dan rekan-rekannya yang belum terlaksana: memasukkan hasil karya mereka ke department store. "Salah satu kendalanya komunikasi. Banyak yang masih melihat sebelah mata kepada kami," katanya.


Namun, Puput yakin, suatu saat desain karyanya dan rekan-rekannya dari Gerkatin bakal bisa mencatatkan prestasi yang lebih tinggi lagi: menembus pasar internasional. "Pasti bisa," ucap dia. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore