Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 Oktober 2018 | 20.06 WIB

Inspirasi dari Yang Berjaya di Asian Para Games 2018

Presiden Joko Widodo bersilaturahmi dengan para atlet Asian Para Games 2018, dI Istana Kepresidenan Bogor, Sabtu (13/10). Para atlet Asian Para Games 2018 menerima besaran bonus sama seperti Asian Games. - Image

Presiden Joko Widodo bersilaturahmi dengan para atlet Asian Para Games 2018, dI Istana Kepresidenan Bogor, Sabtu (13/10). Para atlet Asian Para Games 2018 menerima besaran bonus sama seperti Asian Games.


Lama-kelamaan, ayah dua anak itu kian menaruh hati pada permainan "lomba membunuh raja" tersebut. Intensitas bermainnya pun terus ditingkatkan. Kemampuannya bertambah.


Buntutnya, kawan yang mengajari pun dapat dia imbangi. Bahkan kemudian dikalahkan.


Karena kian lama tidak ada lawan tanding di kalangan penyandang tunanetra di kampungnya di Solo, dia kerap bermain dengan kerabatnya yang mampu melihat. Meski terkesan tidak berimbang, itu tak menciutkan keinginan Edy untuk menguji kemampuan.


"Dia nggak mau papan catur braille. Saya pakai catur yang tidak bisa diraba. Tapi, saya memberanikan diri, berani saja," tuturnya dengan antusias.


Tentu saja itu menyulitkan Edy. Namun, pria yang sehari-hari bekerja sebagai pemijat tersebut sesekali berhasil mengalahkan si lawan yang bisa melihat.


Meski kemampuan bermain caturnya cukup menjanjikan, Edy tidak lantas menjadikan catur sebagai jalan hidup. Maklum, saat itu perlombaan-perlombaan juga belum menjanjikan penghasilan yang mamadai.


Bagi dia kala itu, bermain catur hanya digunakan untuk menyegarkan pikiran. Sekaligus menjadi wadah untuk berinteraksi dengan orang-orang di sekitar.


Nah, untuk menutupi kebutuhan hidupnya, Edy memilih untuk menjalani profesi tukang pijat. Profesi yang memang sangat identik dengan penyandang tunanetra. Dia lantas berkeliling dari rumah ke rumah. Mendatangi siapa pun yang membutuhkan jasanya.


Meski tidak bisa menjanjikan uang dalam jumlah besar, pekerjaan itu setidaknya bisa membantu keuangan keluarga yang juga disokong pekerjaan sang istri, Yuniarti, sebagai penjahit. Pekerjaan sebagai tukang pijat itu pun Edy lakoni sampai 2007 atau dua tahun setelah dirinya resmi terjun ke catur profesional. Ajang bergengsi pertama yang dia ikuti adalah ASEAN Para Games di Manila, Filipina, pada 2005.


Di ASEAN Para Games edisi ketiga tersebut, Edy berhasil merebut medali emas. Kesuksesan itu kemudian berlanjut di ajang ASEAN Para Games selanjutnya. Yakni, edisi 2007 di Thailand, 2009 di Laos, 2011 di Indonesia, 2013 di Myanmar, 2015 di Singapura, dan 2017 di Malaysia. Menurut perhitungannya, sudah ada 15 medali emas ASEAN Para Games yang berhasil dia raih.


Sejak terjun ke kelas profesional, tidak ada hari tanpa bermain catur bagi Edy. "Latihan pikiran, selalu mikirin catur terus. Bahkan tidur pun mimpi main catur," tuturnya, lantas terkekeh.


Dengan rentetan medali yang kerap diraih, kehidupannya pun telah lama berubah. Mimpi Edy berikutnya adalah pergi ke Tanah Suci. Selain itu, dia berencana mengembangkan usaha sang istri di bidang konfeksi.


"Jenis usaha istri saya menjahit dan jual baju. Terserah istri saya mau bagaimana," kata dia.


Bagi dia, itu hadiah yang sangat pantas untuk sang istri yang telah demikian penuh kasih mendampingi. "Istri saya setia banget sama saya. Kemarin, pas saya dapat emas, dia nangis saking senengnya," katanya. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore