Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 Oktober 2018 | 21.14 WIB

Hamil 18 Minggu, Suwarti Rebut Emas di Asian Para Games 2018

Suwarti menunjukkan medali emas yang diraihnya dari cabang ganda campuran tenis meja. - Image

Suwarti menunjukkan medali emas yang diraihnya dari cabang ganda campuran tenis meja.


Eko Warsono, suami Warti, pun mengizinkan. ''Cuma pesan, tidak usah terlalu ngoyo. Yang penting jaga kondisi,'' ungkapnya.


Trimester pertama kehamilan merupakan masa sulit bagi Warti saat menjalani latihan. Selalu merasa mual dan muntah setiap pagi. Itu membuatnya sering telat datang latihan.


''Jam 10.00 baru sampai Hartono Trade Center (Solo). Kalau masih nggak enak badan, cuma tiduran aja,'' katanya.


Biasanya, selepas istirahat siang, sekitar pukul 12.30, Warti baru mulai berlatih hingga pukul 14.00. Sebagai gantinya, ibu satu anak itu menjalani latihan sore bersama klub MM Shiamiq. Sekaligus mengantarkan sang anak, Muhammad Nur Fauzi, berlatih.


Di klub tersebut, Warti juga ditangani Ajie. Lokasi latihan pun sama. Perempuan yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Jateng itu berlatih pukul 18.00-21.00. Tetap mengikuti program pelatnas yang ada. Kecuali latihan fisik.


Di tengah obrolan, Warti mengeluh pinggangnya agak sakit. Dari semula yang duduk di atas kursi, dia memilih selonjoran sambil menyandarkan punggung di tembok. Maklum, janin di perutnya aktif. Seperti menendang-nendang perutnya. Ditambah, paha kirinya kurang begitu kuat menahan beban berat.


Dia tidak menampik bahwa kondisi hamil membuat kondisi fisiknya sedikit menurun. Tak hanya itu, atlet 31 tahun tersebut kerap merasakan nyeri di bagian perut dan pinggang ketika bertanding. Untuk mengurangi rasa sakit tersebut, Suwarti membebat perutnya dengan korset saat turun ke lapangan.


Tekadnya memang sangat kuat. Harus dapat emas. Meski tidak ditarget medali setelah ketahuan hamil. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan tampil dalam multievent level Asia di negara sendiri.


Dan, akhirnya memang bisa diwujudkan. ''Hamil seperti ini kondisinya memang tidak seratus persen. Cuma, mental Mbak Warti memang mental juara,'' puji Ajie.


Raihan prestasi Warti di Asian Para Games sekaligus membungkam cemoohan orang-orang yang dulu mengejek kekurangannya. Semasa kecil, dia kerap dirundung teman sekolah maupun tetangganya di Pati, Jawa Tengah.


Namun, semua itu tidak lantas membuatnya patah arang. Justru menjadikan dia semakin giat berlatih tenis meja.


Warti mengungkapkan, tenis meja bukan olahraga pertama yang digelutinya, melainkan bulu tangkis. Pada 2006 Warti memutuskan untuk banting setir menggeluti tenis meja. Setahun berselang, dia mengikuti seleksi nasional para tenis meja yang digelar Komite Paralimpik Nasional Indonesia. ''Dan ternyata lolos waktu itu. Alhamdulillah,'' lanjutnya.


Kemudian, Warti berinisiatif melakukan latihan pribadi dengan Bejo Kustino dan kemudian bergabung dengan klub tenis meja Mitra Medika. Saat itu tujuannya cuma satu. Bisa mendapat medali emas seperti teman-temannya sesama penyandang disabilitas.


Kini Warti menahbiskan diri sebagai juara Asia ganda campuran TT 8. Capaian tersebut sekaligus mewujudkan janji kepada keluarga kecilnya sebelum berlaga.


''Saya nazar, kalau dapat emas, akan umrah bareng suami dan anak. Mungkin setelah melahirkan kali ya,'' ujarnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore