Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 3 Juni 2018 | 19.05 WIB

Di Pantai Utara Jawa Tengah, Mereka Hidup Bersama Rob

TERGENANG: Jalanan pantura Cirebon tepatnya di Klayan Kecamatan Gunungjati Kabupaten Cirebon terendam banjir Minggu (11/3). - Image

TERGENANG: Jalanan pantura Cirebon tepatnya di Klayan Kecamatan Gunungjati Kabupaten Cirebon terendam banjir Minggu (11/3).


"Air laut naiknya 30 meter tiap tahun. Kadang lebih," kata Baidi kepada Jawa Pos.


Desa Bulak, juga di Jepara, malah sudah pernah berpindah dua kali. Pertama Kam­pung Bulak Lama, lalu pindah ke Bulak Baru. Kampung Bulak Baru itu pun terpaksa dipindah agak ke dalam daratan.


"Sekarang letaknya 7 km dari pantai," kata Purwoko, mantan Kades Bulak.


Nelwan, pakar pengembangan wilayah dan tata ruang laut dari Universitas Diponegoro, dulu juga lahir dan besar di Kelurahan Tanah Mas, Semarang, bertetangga dengan Laut Jawa. "Dulu aman-aman saja tuh, orang nggak tahu apa itu rob," katanya.


Tapi, itu dulu. Sekarang Nelwan sudah pindah jauh ke dalam kota. Kampungnya telah lama tenggelam.


Di antara lima kabupaten tersebut, Demak yang terparah. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Demak Agus Nugroho mengatakan, sudah empat kecamatan di sepan­jang pantai utara Demak yang terserang rob. "Sayung, Karang Tengah, Bonang, Wedung," katanya ketika dihubungi Jawa Pos kemarin (2/6).


Ada banyak penyebab rob. Mulai reklamasi, pemanasan global, pemanfaatan air tanah secara berlebihan, pembabatan hutan mangrove, kondisi topografi suatu wilayah, sampai drainase yang tak terjaga.


Terkait reklamasi, Nelwan meyakini, pembangunan Pelabuhan Tanjung Emas di pantai utara Semarang pada 1980 jadi salah satu biang keladi banjir rob. Dia ingat, semasa kuliah di Delft University di Belanda, sering diberi tahu dosennya, orang-orang Belanda dulu sangat hati-hati dalam pembangunan wilayah pantai utara Jawa.


Sebab, tanah di pantai utara sangat sensitif. Jenis tanahnya lunak. Semarang contohnya. Sampai 100 meter ke bawah adalah tanah lunak.


Di bawah 100 meter baru batuan padas. Jadi, meski sejak zaman kolonial Semarang jadi titik penting bongkar muat logistik, Belanda tidak berani membangun pelabuhan besar. "Mereka mengandalkan Stasiun Tawang," tutur Nelwan.


Namun, pemerintah tetap membangun Pelabuhan Tanjung Emas pada 1980. Tanah pantai diuruk sampai membentuk semenan­jung hampir 1,5 km menjorok ke lautan.


Untuk menjaga agar kolam pelabuhan tetap dalam untuk kapal-kapal besar, pengerukan dasar laut pun dilakukan terus-menerus. Terjadilah subduksi permukaan tanah (land subsidence), faktor pertama dalam analisis Nelwan yang menyebabkan bencana rob besar.


Nelwan menggambarkannya seperti tumpukan pasir. Ketika salah satu permukaan digali, pasir-pasir di pinggirnya akan longsor ke lubang galian tersebut.


Jika lubang itu semakin dalam, akibatnya, permukaan tanah yang longsor ke bawah pun kian luas. Menarik wilayah di sekitarnya. "Penurunannya 30 sentimeter per tahun, lebih buruk daripada Jakarta," tuturnya.


Dalam ilmu tata ruang air, arus dan ombak pantai berperilaku sesuai dengan bentuk geografis pantai. Mengubah bentuk pantai (morfologi teluk), sama saja dengan menciptakan distorsi dalam keharmonisan arus dan gelombang. "Pantai utara Semarang telah berubah bentuknya semenjak ada Pelabuhan Tanjung Emas," kata Nelwan.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore