Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 26 Mei 2018 | 02.05 WIB

Napak Tilas ke Promenade de Anglais, Jalanan Indah yang Ternoda Teror

Anak tangga menuju Villa Massena Musee. - Image

Anak tangga menuju Villa Massena Musee.

Sebulan jelang peringatan dua tahun teror truk di Nice, tidak tampak pengamanan berlebihan di sekitar lokasi kejadian. Komunitas muslim tak jauh dari sana jadi lebih giat menanamkan pemahaman Islam yang mengajarkan damai sejak insiden tersebut.


CANDRA KURNIA, Nice


---


ILLIA membidikkan kamera ke arah kekasihnya yang sedang berpose dengan bermacam gaya. Setelah itu, turis asal Jerman tersebut memberikan instruksi agar sang belahan jiwa melompat pada hitungan ketiga.


Tentu saja dia ingin kekasihnya tampak seperti terbang di udara dalam jepretan kamera telepon pintarnya. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya mereka mendapatkan hasil yang sempurna Tempat yang digunakan kekasih Illia untuk bergaya tersebut adalah sebuah anak tangga menuju bangunan seperti podium di halaman Villa Massena Musee (Museum Villa Massena).


Ada delapan anak tangga di sana. Pada 7 Mei lalu, di atas anak-anak tangga tersebut dipajang foto-foto korban keganasan teroris di jalanan Promenade de Anglais.


Pangeran Charles dari Inggris Raya menyempatkan datang ke museum tersebut di sela-sela kunjungan kerjanya ke Prancis. Dia hadir untuk meletakkan buket bunga di depan foto-foto para korban, berdoa, lalu memberikan peghormatan.


Demi menunjukkan begitu besarnya simpatinya kepada para korban, karangan bunga yang dibawa Prince of Wales tersebut diambil dari kebun halaman tempat tinggalnya sendiri, Highgrove Park. Pangeran Charles terlihat khusyuk dengan doanya di hadapan foto-foto para korban.


Villa Massena Musee memang tepat digunakan untuk acara mengenang para korban teror truk Nice. Karena letaknya pas berada di seberang TKP berhentinya truk kargo Renault Midlum seberat 19 ton setelah menabraki setiap orang yang berada di jalan sepanjang 1,7 kilometer pada 14 Juli 2016.


Pelakunya, Mohamed Salmene Lahouaiej-Bouhlel, memacu kendaraan gigantik tersebut dengan zig-zag berkecepatan tinggi hingga 90 kilometer per jam dari perempatan Magnan berbelok ke kiri menuju Promenade des Anglais, lalu berhenti di dekat Rumah Sakit Fondation Lenval Children.


Menabrak siapa saja. Padahal, ribuan orang tengah meriung di sana untuk merayakan Bastille Day alias Hari Persatuan Rakyat Prancis. Alhasil, 86 orang tewas dan 458 lainnya luka-luka.


Di setiap aksi teror selalu muncul pahlawan. Dalam kejadian itu, Franck Terrier, 51, turun dari skuternya, lalu melompat ke pintu kokpit truk dan memukul Bouhlel. Pelaku sempat membalas pukulannya hingga Terrier terjatuh.


Tapi, dia kembali lagi naik untuk menghajarnya. Aksi bengis tersebut akhirnya berakhir setelah polisi berhasil menembak mati pelaku setelah terlibat saling serang menggunakan senjata api.


Serangan teror, biarpun hanya terjadi dalam hitungan detik, sudah sangat mengerikan bagi siapa pun. Sedangkan aksi Bouhlel dua tahun silam berlangsung selama lima menit. Tepatnya pukul 23.30 sampai 23.35.


Yang tak kalah mengerikan, teror truk itu seperti mengilhami pelaku lain melakukan aksi serupa di kota-kota lain. Di antaranya, di Stockholm, Swedia, dan New York, Amerika Serikat.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore