Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 23 Mei 2018 | 19.15 WIB

Pesantren Al Hidayah, Tempat Deradikalisasi Anak-Anak Teroris (1)

Khairul Ghazali, Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Deli Serdang Sumatera Utara sedang memberikan arahan kepada para santri yang merupakan anak mantan teroris pada Senin (21/5) - Image

Khairul Ghazali, Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Deli Serdang Sumatera Utara sedang memberikan arahan kepada para santri yang merupakan anak mantan teroris pada Senin (21/5)


Saat itu, dia melihat negara menelantarkan anak-anak mantan teroris. Tak ada biaya, banyak di antara mereka yang akhirnya tak bisa bersekolah. Padahal, bisa dibilang, mereka juga korban.


Komitmen tersebut akhirnya dia realisasikan ketika bebas bersyarat pada 2015. Di kampung halamannya, Desa Sei Mencirin, Kecamatan Kutalimbaru, Deli Serdang, Gazali pun merintis pesantren yang awalnya diberi nama Pesantren Darusy Syifa’.


Yang pertama dibangun adalah musala kecil berukuran 5 x 5 meter yang terbuat dari kayu mindi. Musala tanpa dinding itu sampai sekarang masih berdiri.


’’Dana tidak ada. Jadi, kami bangun tanpa dinding. Yang penting bisa untuk salat,’’ tutur dia.


Pada 2016, Gazali mulai membangun asrama berukuran 5 x 7 meter. Asrama itu dibangun dengan dinding gedek dan atap rumbia daun pohon nipah. Asrama tersebut dia bangun dengan biaya pribadi dari royaltinya menulis tiga buku bertema kontraradikalisme.


Selanjutnya, Gazali pun membawa anak-anak mantan teroris tinggal di pesantren kecil tersebut. Ada 10 anak yang menjadi santri. Mereka berasal dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Yang paling banyak dari Medan.


Masuk 2017, dia membangun asrama lagi. Santri pun bertambah menjadi 20 orang sampai sekarang. Tapi, kemudian muncul penolakan dari sebagian warga.


Papan nama pesantren dua kali dirusak orang. Mereka menganggap pesantren tersebut akan dijadikan sarang teroris. Gazali pun melaporkan kejadian itu ke polisi.


Akhirnya, polisi memberikan pemahaman kepada masyarakat. Bahwa yang akan dilakukan di pondok tersebut justru program deradikalisasi.


***


Pesan itu berkali-kali ditekankan Gazali kepada saya sebelum mengisi kelas. ’’Tolong, jangan ditanyakan tentang orang tua mereka. Apalagi tanya bagaimana ayah mereka meninggal,’’ katanya.


Dia terus mewanti-wanti itu karena selain tak sejalan dengan semangat deradikalisasi, juga berdasar pengalaman tak mengenakkan. Suatu waktu, tutur dia, pernah seorang jurnalis datang ke Pesantren Al Hidayah bersama rombongan pejabat.


Wartawan itu menemui seorang santri dan langsung bertanya tentang nama orang tua dan seperti apa sepak terjang mereka selama menjadi teroris. Dan yang paling mengoyak jiwa anak-anak adalah ketika si wartawan itu bertanya bagaimana orang tua mereka meninggal.


Santri tersebut tidak bereaksi. Hanya diam. Tapi memendam perasaan yang menggelora. Rasa sedih dan dendam bercampur ketika masa lalu orang tuanya diungkit.


Sejak kejadian itu, Gazali selalu mewanti-wanti tamu yang datang agar tidak menanyakan masa lalu orang tua santri. ’’Sebab, yang kami lakukan di sini justru berupaya menghilangkan rasa dendam dan kebencian di hati para santri,’’ tegasnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore