
Khairul Ghazali, Pimpinan Pondok Pesantren Al Hidayah Deli Serdang Sumatera Utara sedang memberikan arahan kepada para santri yang merupakan anak mantan teroris pada Senin (21/5)
Saat itu, dia melihat negara menelantarkan anak-anak mantan teroris. Tak ada biaya, banyak di antara mereka yang akhirnya tak bisa bersekolah. Padahal, bisa dibilang, mereka juga korban.
Komitmen tersebut akhirnya dia realisasikan ketika bebas bersyarat pada 2015. Di kampung halamannya, Desa Sei Mencirin, Kecamatan Kutalimbaru, Deli Serdang, Gazali pun merintis pesantren yang awalnya diberi nama Pesantren Darusy Syifa’.
Yang pertama dibangun adalah musala kecil berukuran 5 x 5 meter yang terbuat dari kayu mindi. Musala tanpa dinding itu sampai sekarang masih berdiri.
’’Dana tidak ada. Jadi, kami bangun tanpa dinding. Yang penting bisa untuk salat,’’ tutur dia.
Pada 2016, Gazali mulai membangun asrama berukuran 5 x 7 meter. Asrama itu dibangun dengan dinding gedek dan atap rumbia daun pohon nipah. Asrama tersebut dia bangun dengan biaya pribadi dari royaltinya menulis tiga buku bertema kontraradikalisme.
Selanjutnya, Gazali pun membawa anak-anak mantan teroris tinggal di pesantren kecil tersebut. Ada 10 anak yang menjadi santri. Mereka berasal dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Yang paling banyak dari Medan.
Masuk 2017, dia membangun asrama lagi. Santri pun bertambah menjadi 20 orang sampai sekarang. Tapi, kemudian muncul penolakan dari sebagian warga.
Papan nama pesantren dua kali dirusak orang. Mereka menganggap pesantren tersebut akan dijadikan sarang teroris. Gazali pun melaporkan kejadian itu ke polisi.
Akhirnya, polisi memberikan pemahaman kepada masyarakat. Bahwa yang akan dilakukan di pondok tersebut justru program deradikalisasi.
***
Pesan itu berkali-kali ditekankan Gazali kepada saya sebelum mengisi kelas. ’’Tolong, jangan ditanyakan tentang orang tua mereka. Apalagi tanya bagaimana ayah mereka meninggal,’’ katanya.
Dia terus mewanti-wanti itu karena selain tak sejalan dengan semangat deradikalisasi, juga berdasar pengalaman tak mengenakkan. Suatu waktu, tutur dia, pernah seorang jurnalis datang ke Pesantren Al Hidayah bersama rombongan pejabat.
Wartawan itu menemui seorang santri dan langsung bertanya tentang nama orang tua dan seperti apa sepak terjang mereka selama menjadi teroris. Dan yang paling mengoyak jiwa anak-anak adalah ketika si wartawan itu bertanya bagaimana orang tua mereka meninggal.
Santri tersebut tidak bereaksi. Hanya diam. Tapi memendam perasaan yang menggelora. Rasa sedih dan dendam bercampur ketika masa lalu orang tuanya diungkit.
Sejak kejadian itu, Gazali selalu mewanti-wanti tamu yang datang agar tidak menanyakan masa lalu orang tua santri. ’’Sebab, yang kami lakukan di sini justru berupaya menghilangkan rasa dendam dan kebencian di hati para santri,’’ tegasnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
