
Vaughan Hatch warga negara Selandia Baru yang sangat mencintai musik tradisional Bali bersama Putu Evie Suyadnyani (istri), Kadek Prana Gita (dipangku anak kedua) dan Gede Semara Richard (anak pertama) bersama seluruh keluarga.
Faktor kedua bencana alam. Tanah longsor dan gunung meletus mengubur banyak manuskrip, perangkat gamelan, sekaligus para seniman senior yang memahami nada-nada. Misalnya, meletusnya Gunung Agung pada 1963.
Faktor ketiga adalah politik. Banyak seniman hebat yang ikut terbunuh dalam prahara 1965. "Padahal, mereka adalah penghafal nada-nada gamelan kuno."
Rekonstruksi atau penulisan ulang pun dilakukan Vaughan dengan bekerja sama bareng seniman lokal sembari mempelajari sejumlah manuskrip. Beberapa kali dia bertolak ke Selandia Baru, misalnya, untuk mengunjungi perpustakaan. Sejumlah manuskrip yang dia cari berhasil ditemukannya di sana.
Vaughan juga menyempatkan diri bertemu para ahli di bidang seni ketika berkunjung ke luar negeri. Dari hasil kerja keras itu, dia berhasil melakukan rekonstruksi 50 gending yang nyaris punah. Lima yang terpenting adalah Sumambang Jawa, Perong Subandar, Bramara, Suduk Maru, Lasem, dan Tabuh Gari.
Dia lantas mencontohkan perjalanan mencari gending Tabuh Gari. Tabuh Gari hanya berisi instrumental gamelan. Tidak diiringi tari-tarian. "Biasanya dimainkan pada pembukaan sebuah upacara kerajaan Bali."
Manuskrip itu ditemukan dalam sebuah buku berjudul Music in Bali karya Colin McPhee, seorang seniman asal Kanada.
Buku tersebut keluaran 1941. Okok gending atau pancanada dalam buku itu begitu utuh. Sehingga membantunya mencatatkan kembali nada-nada tersebut, lantas melestarikannya.
Hasil penyelamatan gending-gending itu kemudian disimpan Vaughan dalam komputer pribadi. Beberapa dia upload ke YouTube.
Vaughan juga menciptakan beberapa gending dan direkam dalam dua single rekaman CD serta dua single rekaman DVD untuk kepentingan komersial. "Hasil penjualan kemudian kami gunakan untuk kebutuhan sanggar," katanya.
Namun, tidak semua gending dia rekam. Orang lain juga tak boleh merekam saat Vaughan dan keluarga memainkan gending-gending itu. Contohnya, ketika memainkan Geguron Ranggatating.
Gending tersebut digunakan untuk mengawali sebuah upacara sakral beribadah. Ada suara dewata dalam nada-nada musik itu yang pantang direkam. Harus didengarkan langsung oleh pendengarnya. "Orang-orang di desa takut kehilangan kesakralan gending tersebut kalau direkam. Maka kami hormati keinginan mereka itu," tuturnya.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
