Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 Mei 2018 | 22.13 WIB

Ikhtiar Pasangan Vaughan Hatch-Putu Evie Suyadnyani Lestarikan Gamelan

Vaughan Hatch warga negara Selandia Baru yang sangat mencintai musik tradisional Bali bersama Putu Evie Suyadnyani (istri), Kadek Prana Gita (dipangku anak kedua) dan Gede Semara Richard (anak pertama) bersama seluruh keluarga. - Image

Vaughan Hatch warga negara Selandia Baru yang sangat mencintai musik tradisional Bali bersama Putu Evie Suyadnyani (istri), Kadek Prana Gita (dipangku anak kedua) dan Gede Semara Richard (anak pertama) bersama seluruh keluarga.


Faktor kedua bencana alam. Tanah longsor dan gunung meletus mengubur banyak manuskrip, perangkat gamelan, seka­ligus para seniman senior yang memahami nada-nada. Misalnya, meletusnya Gunung Agung pada 1963.


Faktor ketiga adalah politik. Banyak seniman hebat yang ikut terbunuh dalam prahara 1965. "Padahal, mereka adalah penghafal nada-nada gamelan kuno."


Rekonstruksi atau penulisan ulang pun dilakukan Vaughan dengan bekerja sama bareng seniman lokal sembari mempelajari sejumlah manuskrip. Beberapa kali dia bertolak ke Selandia Baru, misalnya, untuk mengunjungi perpustakaan. Sejumlah manuskrip yang dia cari berhasil ditemukannya di sana.


Vaughan juga menyempatkan diri bertemu para ahli di bidang seni ketika berkunjung ke luar negeri. Dari hasil kerja keras itu, dia berhasil melakukan rekonstruksi 50 gending yang nyaris punah. Lima yang terpenting adalah Sumambang Jawa, Pe­rong Subandar, Bramara, Suduk Maru, Lasem, dan Tabuh Gari.


Dia lantas mencontohkan perjalanan mencari gending Tabuh Gari. Tabuh Gari hanya berisi instrumental gamelan. Tidak diiringi tari-tarian. "Biasanya dimainkan pada pembukaan sebuah upacara kerajaan Bali."


Manuskrip itu ditemukan dalam sebuah buku berjudul Music in Bali karya Colin McPhee, seorang seniman asal Kanada.


Buku tersebut keluaran 1941. Okok gending atau pancanada dalam buku itu begitu utuh. Sehingga membantunya mencatat­kan kembali nada-nada tersebut, lantas melestarikannya.


Hasil penyelamatan gending-gending itu kemudian disimpan Vaughan dalam komputer pribadi. Beberapa dia upload ke YouTube.


Vaughan juga menciptakan beberapa gending dan direkam dalam dua single rekaman CD serta dua single rekaman DVD untuk kepentingan komersial. "Hasil penjualan kemudian kami gunakan untuk kebutuhan sanggar," katanya.


Namun, tidak semua gending dia rekam. Orang lain juga tak boleh merekam saat Vaughan dan keluarga memainkan gending-gending itu. Contohnya, ketika memainkan Geguron Ranggatating.


Gending tersebut digunakan untuk mengawali sebuah upacara sakral beribadah. Ada suara dewata dalam nada-nada musik itu yang pantang direkam. Harus didengarkan langsung oleh pendengarnya. "Orang-orang di desa takut kehilangan kesakralan gending tersebut kalau direkam. Maka kami hormati keinginan mereka itu," tuturnya. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore