
Korban bom JW Marriot Fifi Nomasari dan korban bom Bali Chusnul Khotimah memberikan pendapatnya pada Suasana silaturahmi kebangsaan mantan Napi terorisme dengan korban terorisme di Jakarta, Rabu (28/2)
Seiring hilangnya trauma fisik dan psikis, para korban bisa berdamai dengan masa lalu dan para mantan pelaku teror. Ada komitmen dari pemerintah untuk menyiapkan bantuan usaha, pelatihan, dan pendidikan.
---
HASIBULLAH Satrawi masih ingat benar momen itu. Momen ketika dia berdoa dalam hati agar Ni Luh Erniati tak bertanya, "Makam Amrozi yang mana?"
Ketika itu, Mei 2015, bersama rombongan, mereka tengah melintas di tempat pemakaman umum Desa Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur. Mereka baru balik dari kediaman Ali Fauzi, adik Amrozi, salah seorang terpidana mati Bom Bali I.
Doa direktur eksekutif Aliansi Indonesia Damai (Aida) tersebut memang terkabul. Erni tak sempat bertanya apa-apa kala itu. Atau lebih tepatnya memilih memendamnya. "Saya sebenarnya ingin duduk di depan makam Amrozi sambil membawa bunga," kata Erni kepada Jawa Pos. Tak ada pendaman amarah dalam keinginan tersebut. Pada 2015 itu, marah dan dendam telah cukup lama dikubur Erni. Meski akibat pengeboman yang dilakukan Amrozi dkk di Sari Club pada 12 Oktober 2002 itu, Erni kehilangan suami yang bekerja di kelab tersebut. Sekaligus bapak bagi kedua anaknya. Dan gantungan perekonomian keluarga.
Tentu proses yang harus dilalui Erni tak sebentar. Apalagi jika dia terkenang kembali sisa-sisa horor tragedi yang menewaskan 202 orang yang kemudian dikenal sebagai Bom Bali I itu. Bahkan, untuk sekadar bisa mendapatkan kepastian identifikasi suaminya, dia harus menunggu sampai empat bulan.
Proses yang tak kalah lamanya juga harus dijalani Agus Suaersih yang menjadi korban ledakan bom di Hotel JW Marriott pada 5 Agustus 2003. Dia menjadi waiter di salah satu kafe di hotel saat pengeboman yang menewaskan 12 orang itu terjadi.
"Saya luka di pipi kanan, hidung, kepala atas, dan pecahan kaca hampir di seluruh badan dari tangan sampai kaki," kata Suaersih yang ditemui di sela silaturahmi korban dan mantan napi terorisme yang diadakan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Jakarta Senin lalu (26/2).
Bahkan, ibu satu anak tersebut juga mengalami gegar otak. Dibutuhkan 2,5 tahun untuk memulihkan kondisi. "Untung, saya dapat bantuan pengobatan dari Marriott. Ada asuransi perusahaan yang meng-cover," ungkap perempuan 40 tahun itu.
Seiring berjalannya waktu, Suaersih pun mulai bisa berdamai dengan masa lalu. Buntutnya, marah dan dendam kepada pelaku memudar. Yang ada justru maaf.
Tentu ada campur tangan pihak ketiga dalam proses rekonsiliasi tersebut. Dalam kasus Erni, semua berawal dari pertemuannya dengan Hasibullah Satrawi. Dari sana dia bertemu dengan para korban aksi terorisme lainnya. Mereka saling berbagi cerita dan menguatkan.
Lewat perantara Aida pula Erni akhirnya bertemu dengan Ali Fauzi. Ali bersama Erni masih ingat betul momen saat Ali mendatangi meja di sebuah restoran tempat Erni menunggu. Erni dan Ali lantas bersalaman. "Saya dari Bali, Pak," ujar Erni mencoba tersenyum dalam pertemuan pertama pada Maret 2015 itu.
Ajaibnya, mereka berdua hanya butuh beberapa bulan untuk akrab. Bersama Hasibullah dan Aida, juga beberapa mantan napi teroris dan korban, keduanya mulai berkelana menyebarkan kampanye rekonsiliasi antara korban dan mantan pelaku.
Pada Mei 2015 Aida menggelar kegiatan kampanye perdamaian di Lamongan. Ada Erni dan Sudirman, salah seorang korban Bom Kuningan. Ada juga Iswanto, anggota tim perdamaian Aida sekaligus mantan pelaku Bom Kuningan.
Erni secara mendadak punya "ide gila" untuk berkunjung ke rumah Ali Fauzi. Ide Erni itu disampaikan kepada Hasibullah, yang kemudian agak ragu-ragu menyampaikannya kepada Ali. "Pak, itu sebuah kehormatan bagi saya," jawab Ali sebagaimana yang diulanginya saat dihubungi Jawa Pos kemarin (3/3).
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Malaysia vs Vietnam: Superkomputer Jagokan The Golden Star Warriors
Prediksi Skor Pisa vs Empoli di Coppa Italia: Azzurri Bisa Menang Lewat Adu Penalti!
Prediksi Skor Deportivo La Coruna vs Elche: Comeback The Blue and Whites di La Liga Bakal Sengit!
Prediksi Skor Palermo vs Lecce di Coppa Italia, Inzaghi Siap Bikin Kejutan
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Persebaya Surabaya Siapkan Penyerang Pengganti Alex Martins di Super League
Rela Kesampingkan Urusan Pribadi, Perjuangan Ibu Atlet Sepak Bola Masa Depan Indonesia
Prediksi Skor Cremonese vs Sampdoria di Coppa Italia, Optimisme Marco Giampaolo
BEM UI dan Puluhan Aliansi Mahasiswa Bakal Gelar Demo Besar di Bundaran HI Besok, Ini 8 Tuntutannya
Prediksi Skor Sassuolo vs Cesena di Coppa Italia: Jay Idzes Berpeluang Starter!
