
Bassit Nasida Ria, Rien Jamain memegang foto grup Nasida Ria angkatan pertama
Wawasan Buchori yang jembar berasal dari ketekunannya membaca. Materi bacaannya juga luas. Tidak hanya kitab-kitab, tapi juga majalah-majalah sains. Di koran-koran, Buchori tidak pernah melewatkan berita internasional. Isu-isu kontemporer tersebut lantas disandingkan dengan perspektif Alquran dan hadis.
Mekatronika, majalah karya anak-anak ITB (Institut Teknologi Bandung), adalah salah satu bacaan kesukaannya. Buchori punya berseri-seri majalah itu. "Terbit, saya langsung beli. Terbit lagi beli lagi," katanya.
Bom Nuklir bisa jadi terinspirasi majalah tersebut. Lagu itu tidak berdasar Hiroshima dan Nagasaki, tapi pada perlombaan senjata nuklir antara blok Timur dan Barat dalam perspektif Perang Dingin.
Lagu terfavorit Buchori adalah Tahun 2000. Dia menulis lagu itu sekitar 1982. Saat itu dia sudah melahap berbagai kajian ilmuwan di berbagai belahan dunia akan periode pergeseran zaman besar-besaran pada era milenium ketiga.
"Itu sudah lama ditulis, tapi orang-orang ndak mau baca," ujarnya.
Sehingga ketika lagu itu tercipta, kata Buchori, orang-orang pada "ngelamun". Sekian tahun berselang, ketika milenium baru akhirnya tiba, keakuratannya terbukti.
Dalam lagu itu, Buchori menulis manusia yang hidup berkalang mesin. Makan minum dilayani mesin, sampai tidur pun berkawan mesin. Realitas itu terbukti berpuluh-puluh tahun kemudian saat orang-orang tidur bersama dengan smartphone miliknya.
Dalam Tahun 2000 juga ditulis pekerjaan manusia yang semakin banyak digantikan mesin. Juga sawah dan ladang yang berganti menjadi permukiman serta gedung-gedung bertingkat.
Dalam menulis lirik dan lagu, Buchori menyebutnya seperti "mengaduk-ngaduk" berbagai bahan untuk kemudian dicarikan nada musik yang pas. Kadang prosesnya cepat, kadang butuh waktu.
Perdamaian, misalnya, ditulis dalam waktu seminggu. Sedangkan Bom Nuklir diselesaikan kurang dari sebulan. "Ada lagu Jangan Main Cerai, itu sampai setahun, nggak cocok diubah lagi, nggak cocok lagi," ungkapnya.
Proses itulah yang turut mengantarkan lagu-lagu Nasida Ria hingga mampu menembus zaman. Dan, akhirnya mengundang ketertarikan penyanyi dan musisi lain untuk merilis ulang.
Perdamaian, sebagaimana diketahui, di-cover Gigi dalam album Raihlah Kemenangan (2004). Band yang sama juga merekam ulang Kota Santri di album Pintu Sorga (2006). Sebelumnya, Kota Santri lebih dulu di-cover duet Krisdayanti-Anang Hermansyah.
Belakangan, beberapa lagu Nasida Ria juga sempat populer di media sosial. Misalnya, Wajah Ayu Untuk Siapa yang mengibaratkan kehormatan perempuan sebagai "mangga ranum" dan kebejatan laki-laki seperti kampret (kelelawar).
Warganet dihebohkan oleh kata-kata kampret tersebut. Penggalan-penggalan klip video lagu tersebut pun dijadikan meme khas anak-anak zaman now.
Fenomena kekinian itu memperlihatkan luasnya daya jangkau Nasida Ria. Dari generasi ke generasi. Tak hanya Indonesia, tapi juga luar negeri.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
