
SEJARAH: Situs Gua Song Terus di Punung, Pacitan, Jawa Timur.
Perbukitan selatan Jawa atau Pegunungan Sewu menyimpan sejarah peradaban manusia yang masih tersembunyi. Berikut penelusuran JawaPos.com bersama peneliti Pusat Arkeologi Nasional.
RIDHO HIDAYAT, Yogyakarta
PEGUNUNGAN Sewu terbentang memanjang di sepanjang pantai selatan. Mulai dari Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta di bagian barat hingga kawasan Tulungagung, Jawa Timur. Pegunungan itu punya bentang alam kawasan karst yang sangat unik.
Minggu (5/11) merupakan hari terakhir para peneliti menggali sisa sejarah di situs Gua Braholo, Gunungkidul. Lokasi tanah tandus perbukitan di Dusun Semugih, Desa Semugih, Kecamatan Rongkop.
Jatmiko, salah seorang peneliti senior di Pusat Arkeologi Nasional mengungkapkan hasil penelitian selama sebulan terakhir. Dia mengakui penelitiannya belum cukup memuaskan. ''Belum ada hal-hal baru, temuan masih sama,'' ucap Jatmiko mengawali pembicaraan.
Temuan yang dia maksud berupa fosil-fosil fauna. Sepeti kerbau hutan, makaka (monyet), gajah, rusa, bulus, tapir, dan badak. Temuan itu hasil penggaliannya di 16 kotak dan penambahan tiga kotak galian pada penelitian 2016–2017.
''Pada 2017 target kami sebenarnya di 16 kotak itu ada salah satu kotak kedalamannya tujuh meter. Mau kami perdalam lagi untuk mencari temuan baru. Tapi waktu yang tidak cukup, dilanjutkan akhir 2018 mendatang,'' tutur Jatmiko.
Temuan situs Gua Braholo itu kisah awalnya pada 1996 silam. Ketika dia sedang meneliti situs Gua Song Terus pada 1994 bersama rekan-rekan para peneliti. Sibuk di situs Pacitan, Jawa Timur, kemudian dia bersama rekannya melakukan survei ke sejumlah lokasi yang ada di Pegunungan Sewu.
Pada 1996 kemudian, ditemukanlah Gua Braholo dan diteliti hingga 2001. ''Selama itu kami menemukan dua rangka manusia purba berumur sekitar sembilan ribu tahun. Kemudian penelitian terhenti karena masalah dana,'' kenangnya.
Meski kala itu dia masih aktif melakukan penelitian di Gua Song Terus, Gua Braholo tetap menjadi bagian dari tugasnya. 16 kotak yang digali, berukuran 2 x 2 meter dengan kedalaman bervariasi. Dari tiga hingga tujuh meter.
Ribuan fosil hewan ditemukan di situs itu. Manusia purba atau Homo Sapiens, kemungkinan menjadikan lokasi itu sebagai tempat untuk menyantap hasil buruan. ''Keinginan kami bisa menemukan kembali kerangka manusia yang lebih tua. Untuk fosil hewan, paling tua di lapisan 33 ribu tahun,'' terangnya.
Fokus di Gua Braholo dan situs di Indonesia bagian timur seperti Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara, situs Gua Song Terus saat ini dilanjutkan oleh peneliti lain yang bekerjasama dengan Prancis.
Dikatakan Jatmiko, Gua Song Terus di Desa Wareng, Kecamatan Punung itu temuannya berupa kerangka manusia purba masih menjadi Homo Sapiens tertua di Jawa. ''Homo Sapiens atau manusia purba modern yang tertua masih di Punung Pacitan itu,'' analisisnya.
Baik di Punung maupun Gua Braholo di Gunungkidul, ke depannya dia rencanakan akan membangun museum. Hal itu untuk wahana edukasi mengenai peradaban manusia di Gunung Sewu. (bersambung)

Daftar Pemain Timnas Argentina dan Aljazair di Grup J Piala Dunia 2026
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Daftar Pemain Inggris dan Kroasia di Grup L Piala Dunia 2026
7 Weton Tulang Wangi Darah Manis yang Disukai Mahluk Halus Menurut Primbon Jawa, Weton Anda Termasuk?
Daftar Pemain Spanyol dan Tanjung Verde di Piala Dunia 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Surat Pernyataan Manajer Kopdes Merah Putih Bocor di Medsos, Undur Diri Kena Denda Rp 100 Juta?
Prediksi Skor Iran vs Selandia Baru di Piala Dunia 2026: Team Melli Diterpa Gejolak Geopolitik Tapi Punya Kans Menang
Prediksi Skor Arab Saudi vs Uruguay di Piala Dunia 2026: La Celeste Dijagokan Menang!
