Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 14 September 2017 | 03.50 WIB

Satu Ruang, Tiga Pelajaran, Tiga Puluh Dua Murid Rohingya

Suasana kelas di sekolah hasil sumbangan masyarakat Indonesia di Desa Thet Kay Pyia Ywar Ma - Image

Suasana kelas di sekolah hasil sumbangan masyarakat Indonesia di Desa Thet Kay Pyia Ywar Ma


Di sekolah tersebut, para murid umumnya malu-malu ketika ada orang asing yang datang. Ketika kamera diarahkan kepada mereka, biasanya mereka langsung melihat papan tulis atau buku. Sebisa-bisanya tidak menoleh ke kamera.



Tapi, beberapa kali mereka mengintip. Mungkin penasaran. Jika sudah demikian, mereka akan tersenyum dan membiarkan dipotret.



Tipikal lainnya, mereka biasanya diam ketika diajak berbicara. Bahkan ketika ditanya soal nama.



Ketika Jawa Pos dan guru Kyaw meminta seorang siswi untuk membacakan naskah bahasa Inggris yang disalinnya ke buku, dia diam saja. Bahkan, ketika sudah dibujuk gurunya, dia bergeming. ''Mungkin dia malu karena tidak banyak orang asing yang ke sini,'' timpal Kyaw, lantas tersenyum.



Di Myanmar, sebenarnya ada aturan soal seragam sekolah bagi sekolah dasar. Atasan seragam berwarna putih dengan celana atau rok hijau.



Tapi, di Desa Thet Kay Pyia Ywar Ma, beberapa murid tidak memiliki pasangan seragam itu. Sebab, umumnya mereka berasal dari keluarga miskin.



Jawa Pos sempat melihat beberapa murid mengenakan seragam yang sudah usang dan rusak. Selain warna putih yang cenderung menguning atau cokelat, rok beberapa siswi juga sobek. Namun, mereka tetap cuek dan pergi sekolah lengkap dengan bedak thanaka di wajah.



Soal alas kaki, tidak semua memakai sandal. Kebanyakan nyeker sehingga kaki mereka tampak kotor. Apalagi, akses menuju sekolah itu tergenang air semata kaki. Kondisi diperburuk oleh halaman sekolah yang berlumpur karena guyuran hujan.



Meski serba terbatas, kondisi warga Rohingya di Thet Kay Pyia Ywar Ma dan La Ma Chae tetap lebih baik ketimbang mereka yang harus mengungsi. Mungkin karena itu pula, para pelajar di dua desa tersebut sangat bersemangat ke sekolah.



Tidak ada yang merasa terganggu dengan seragam usang dan kaki yang belepotan dengan lumpur kering. ''Mereka senang ke sekolah. Karena itulah, banyak anak kecil yang datang ke sini untuk ikut belajar,'' imbuhnya.



Para guru di sekolah tersebut juga tidak berasal dari lulusan sekolah khusus keguruan. Bahkan, mereka mengaku tidak mendapatkan sekolah sampai jenjang perguruan tinggi. Enam guru di sekolah itu umumnya lulusan sekolah di situ juga. Alias berijazah SD.



Karena itu, ketika melihat cara para guru tersebut mengajar, mereka masih menggunakan cara lama. Memegang kayu rotan, lebih banyak menyalin ulang dari buku ke buku tulis, sampai memberikan banyak tugas.



Interaksi dengan murid juga jarang. Misalnya, merangsang mereka untuk mengutarakan pendapat. Namun, tidak ada pilihan lain karena umumnya orang Rohingya terisolasi. Karena itu pula, kualifikasi para guru yang diminta mengajar oleh negara tidak terlalu diperhatikan.



''Tapi, kami sudah diberi standar dalam mengajar,'' terang Kyaw.



Selain ruang kelas dan toilet, sekolah tersebut nyaris tak punya fasilitas lain. Ruang guru, perpustakaan, hingga pagar belum ada. Padahal, perpustakaan sangat diperlukan supaya wawasan murid bertambah.

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore