Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 3 Agustus 2017 | 01.55 WIB

Irwan Barlian, Dokter yang Buka Kepala Pasien dalam Keadaan Sadar

HEBAT: Dokter Irwan Barlian Immadoel Haq menyalami dan mengajak pasiennya berkomunikasi sebelum melakukan operasi. - Image

HEBAT: Dokter Irwan Barlian Immadoel Haq menyalami dan mengajak pasiennya berkomunikasi sebelum melakukan operasi.


Irwan sangat suka metode operasi dalam keadaan pasien sadar. Sebab, fungsi motorik pasien bisa dilihat secara langsung. Sebab, tidak jarang ada gangguan fungsi saraf yang tak tedeteksi karena pasien dioperasi dalam keadaan tidak sadar. Saat pasien bangun, tiba-tiba ada yang error.


Padahal, untuk mengoperasi pasien dalam keadaan sadar, juga ada tantangannya. Kalau pasien gelisah, otaknya bisa mengalami pembengkakan yang berujung kematian. ’’Karena itu, sebelum melakukan proses ini, tim dokter selalu memberikan pengertian sejelas-jelasnya kepada pasien agar mereka tetap dalam kondisi nyaman saat dibangunkan di ruang operasi,’’ ujar Irwan.


Meski Irwan sering sukses menjalankan operasi, tentu ada kalanya Tuhan berkehendak lain. Pada 2010 dr Irwan menangani pasien yang mengalami kecelakaan dengan pendarahan otak parah.


Kondisi pasien itu begitu parah sehingga Irwan dan tim dokter tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Pasien pun meninggal di meja operasi. Itu adalah kali pertama pasien Irwan meninggal di atas meja operasi.


’’Rasanya ya stres. Sampai berminggu-minggu malah,” ungkapnya. Tetapi, meski begitu, tidak berarti operasi berhenti. Sebagai seorang dokter, dia harus profesional. Kehidupan pribadinya tidak boleh mengganggu pekerjaannya. Dia tetap harus tersenyum dan fokus ketika menghadapi pasien.


’’Stres ini urusan saya, bukan orang lain. Jadi ya harus dipendam sendiri, nggak boleh dilemparkan ke orang lain,” tutur Irwan.


Cara paling ampuh untuk mengobati stresnya, dengan bertemu anak dan istrinya. Melihat tawa dan senyum mereka, Irwan merasa beban yang ditanggung saat bekerja langsung lenyap.


Dengan kesibukannya sebagai dokter, waktu istirahat yang dimiliki pun hanya 3–4 jam. Tetapi, rupanya hal itu tidak mengganggu performanya ketika menangani operasi. Dia tetap bisa fokus dan melakukan operasi dengan baik. ’’Ya nggak mungkin ngantuk. Kan ngelihat darah. Itu jadi adrenalin untuk fokus,’’ ujar dokter yang mengambil spesialis di Universitas Airlangga tersebut.


Keterbatasan waktu istirahatnya tersebut rupanya tidak mengganggu kedekatan dengan tiga putranya. Meski baru tidur jam berapa pun, Irwan selalu menyempatkan bertemu dengan anak-anaknya sebelum berangkat lagi ke rumah sakit. ’’Itu adalah waktu yang paling efektif buat quality time saya dan keluarga. Soalnya, kalau saya pulang kerja, anak-anak kan sudah tidur,” jelasnya.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore