
HARI PERDANA: Armand van Kempen melintasi Jembatan Suramadu. Di belakangnya ada Piet van Kempen yang juga menjadi navigator.
Di antara tiga jet ski yang meluncur, hanya ada dua yang terlihat berjalan seiringan. Yakni, jet ski bertipe FX SVHO yang ditumpangi Armand dan Piet van Kempen serta jet ski bertipe VX Deluxe yang ditunggangi Reno dan saya.
”Loh, ke mana si Agung?” ujar Reno. Hati mulai berkecamuk. Meskipun perjalanan hanya beberapa puluh meter dari daratan, pikiran buruk selalu ada. Saya ingat apa yang Piet pernah pesan kepada saya. Ketika tidak ada daratan di sejauh mata memandang, di situlah suasana hati akan seirama dengan ombak yang ditunggangi. Bergulung-gulung tak keruan.
Armand yang sejak tadi melaju begitu cepat mendadak berhenti. Dia kemudian berbalik arah. Sepertinya, bukan hanya saya dan Reno yang menyadari kehilangan Agung dari rombongan. Suasana pun mendadak siaga. Pandangan kami sebar ke semua arah. Selain sampah, kami hanya disuguhi dengan pemandangan air laut menyentuh langit.
Untungnya, kami berangkat dengan persiapan yang betul-betul matang. Tidak ada satu pun dari kami yang berangkat dalam keadaan tidak siap. Masing-masing kru di dalam jet ski dibekali dengan satu HT (handie talkie) dan satu GPS (global positioning system). Dengan demikian, dalam keadaan darurat, kami masih bisa melakukan kontak satu sama lain dan mencegah untuk tidak tersesat.
Reno kemudian berinisiatif untuk melakukan kontak dengan Agung yang berada di belakang. HT yang selama ini dia kaitkan di dada pun disahut dengan serampangan. ”Agung, posisi di mana Gung? ganti,” ucapnya dengan waswas.
Kata-kata yang sama diulang beberapa kali. Namun, Agung tidak juga membalas pertanyaan yang Reno lontarkan sejak tadi. Hening menyelimuti tiba-tiba. Debur ombak menjadi suara latar belakang kami. Matahari yang tepat di atas kepala membuat suasana semakin tegang. Panas. Saya sudah tidak bisa membedakan, mana air yang berasal dari kucuran keringat dan mana yang berasal dari laut. Semuanya bercampur menjadi satu.
Ombak yang kami hadapi memang lebih tinggi daripada biasanya. Setidaknya, lebih tinggi dari yang pernah saya dan Armand tunggangi saat latihan 11 Juni.
Kekhawatiran pun mulai terasa. Reno yang sejak tadi memanggil nama Agung tidak mendapatkan respons sama sekali. ”In position, masih tertinggal di belakang nih,” jawab Agung dari radio komunikasi.
Mendengar hal tersebut, Armand langsung melajukan jet ski-nya untuk menjemput Agung. Naluri kepemimpinannya seolah diuji saat mengetahui salah seorang krunya tertinggal. Sementara itu, Reno memutuskan untuk berhenti dan memberikan tanda di lokasi terakhir tersebut.
Kami menunggu cukup lama. Setengah jam sudah berlalu sepeninggal Armand untuk menjemput Agung. Komunikasi juga belum dilakukan. Sejak tadi Reno yang tetap mencengkeram HT berharap adanya kontak. Ada dua kemungkinan yang berbeda. Armand sudah berhasil mengendalikan keadaan. Atau, keadaan berjalan di luar kendali sehingga tidak ada satu pun dari mereka yang sempat melakukan kontak.
Lokasi tempat kami berpisah tergolong jauh dari daratan. Ombak yang mengapungkan jet ski kami serasa membuat daratan nun jauh di sana melambai-lambai. Pemandangan Jembatan Suramadu yang terasa megah jika dilihat dari dekat hanya seperti seutas tali dari pandangan kami.
Keruhnya air laut menjadi pemandangan yang biasa. Tak jarang, buih-buih air laut juga tercipta. Bukan karena hantaman ombak yang menghantam laut tenang. Buih tersebut tercipta dari tabrakan air laut dengan sampah yang terapung di lautan. Buih itu membuat perbatasan antara lautan keruh dan lautan lepas yang berwarna biru. Sungguh pemandangan yang sangat memprihatinkan.
Di tengah batas tersebut, sampah tidak lupa menghiasi pemandangan air laut. Mulai ranting pohon berukuran kecil hingga popok bayi yang terapung entah dari mana. Saya serasa bukan menunggangi lautan dengan menggunakan jet ski. Tapi, menunggangi sampah dengan jet ski.
Setengah jam hampir berlalu ketika satu titik menyembul dari permukaan laut. Naik, turun, naik, turun, menciptakan gerakan seirama yang mulai saya hafal. Semakin dekat, titik tersebut mulai memperlihatkan bentuknya. Itu adalah jet ski dengan 200 tenaga kuda yang dikendarai Armand dan Piet. Di belakangnya, jet ski Agung terlihat menyusul dengan pelan. ”Mesinnya tersangkut sampah,” celetuk Armand ketika bersanding dengan jet ski kami.
Banyaknya volume sampah yang menggenangi lautan memang menjadi tantangan tersendiri bagi rombongan jet ski ini. Tidak seperti kapal feri ataupun kapal besar lainnya, baling-baling pendorong jet ski sangat rapuh. Sedikit saja sampah yang masuk bisa mengakibatkan kejadian fatal. Daya dorong hilang. Bisa-bisa jet ski tersebut harus berakhir di bengkel, seperti awal kami melakukan latihan.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
