Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 9 Juni 2017 | 18.38 WIB

Jatuh Bangun Voice of Baceprot, Band Metal dengan Personel Berjilbab

TETAP FEMININ: Personel Voice of Baceprot Widi Rahmawati, Euis Siti Aisyah, dan Firda Kurnia dalam sebuah momen. - Image

TETAP FEMININ: Personel Voice of Baceprot Widi Rahmawati, Euis Siti Aisyah, dan Firda Kurnia dalam sebuah momen.


Dukungan keluarga menguatkan para personel Voice of Baceprot menghadapi kritik dan hujatan. Lagu-lagu mereka bertutur tentang problem di sekolah hingga perusakan alam. Dalam waktu dekat diundang berkolaborasi dengan Superman Is Dead.





BAYU PUTRA, Jakarta





FIRDA Kurnia selalu saja terkekeh kalau mengingat nasib drum pertama bandnya. Tiap kali Euis Siti Aisyah, sang drumer, terlalu kencang menggebuk, berantakanlah alat musik tersebut.



Maklum, itu bukan drum sebenarnya. Tapi beberapa peralatan drum band yang disatukan dengan memakai tali.



’’Jadi, kalau berantakan, ya kami harus menyusunnya lagi pakai tali, hehehe...’’ kenangnya.



Tapi, itulah bagian dari jatuh bangun yang turut membentuk mereka sekarang: Voice of Baceprot (VoB). Sebuah band beraliran –dalam istilah mereka sendiri, hip metal funky– yang tengah jadi perbincangan luas.



Tak semata karena skill masing-masing personel, yakni Firda (gitar, vokal), Siti (drumer), dan Widi Rahmawati (bas). Serta keempat lagu yang telah mereka hasilkan. Tapi juga karena keseharian mereka yang berjilbab.



Tak terhitung kritik, bahkan hujatan, yang diarahkan kepada mereka hanya karena tiga remaja asal Garut itu berjilbab dan memainkan musik keras. Bahkan, ada yang mengirim direct message ke Instagram Firda untuk menawari mereka manggung di Sabah, Malaysia. Syaratnya, mereka harus membuka jilbab.



Tentu saja tawaran itu langsung mereka tolak. ’’Kami ingin tetap berkarya tanpa menghilangkan kewajiban kami sebagai muslimah,’’ tegas Firda.



Tumbuh di lingkungan agamis, tantangan seperti itu sudah mereka alami sejak awal memilih ekstrakurikuler musik di MTs Al Baqiyatussolihat, Garut, 2014. Firda, Siti, serta Widi lahir dan besar di tiga kampung berbeda di Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut.



Rumah mereka juga tidak bisa dibilang berdekatan. Widi tinggal di Kampung Cigerek dan Siti di Kampung Bukit Dipa. Sedangkan yang paling pelosok adalah Firda yang tinggal di Kampung Pasir Pogor.
Banjarwangi merupakan kawasan perbukitan. Dibutuhkan minimal dua jam dari kecamatan tersebut untuk sampai ke pusat Kota Garut.



Di antara mereka bertiga, Widi merupakan personel termuda. Dia lahir pada 3 Desember 2001. Sedangkan Firda kelahiran 28 Juni 2000 dan Siti lahir pada 17 Agustus 2000.



Sedari awal mereka harus bergumul dengan larangan orang tua, kritik tetangga, dan cibiran teman.



Jadilah dari awalnya tujuh orang yang memilih ekstrakurikuler tersebut, akhirnya hanya tersisa tiga orang yang kini menjadi personel VoB.



Mereka juga harus memulai dari nol. Di antara ketiganya, paling hanya Siti yang sedari awal menunjukkan bakat ngedrum. ’’Sejak kecil saya memang suka memukuli apa saja barang di sekitar saya, hehehe,’’ ungkap Siti.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore