Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 13 Mei 2017 | 23.51 WIB

Mengunjungi Situs Megalitikum Makam Batu Para Raja Sidabutar di Samosir

TETENGER SEJARAH: Juru kunci Bikner Sidabutar tengah meletakkan sesaji di atas makam Raja OP Ni Ujung Barita Sidabutar, raja kedua marga Sidabutar di Samosir. - Image

TETENGER SEJARAH: Juru kunci Bikner Sidabutar tengah meletakkan sesaji di atas makam Raja OP Ni Ujung Barita Sidabutar, raja kedua marga Sidabutar di Samosir.



Menjelang tengah hari, lelaki itu muncul. Usianya paro baya. Dengan nada ramah, dia bertanya kepada Jawa Pos soal keperluan mendatangi makam tua tersebut.



Begitu sadar bahwa lawan bicaranya berasal dari media, dia mengenalkan diri. Namanya Bikner Sidabutar, juru kunci makam. Kisah-kisah mengenai asal berdirinya makam pun meluncur dari mulutnya. Tentang silsilah orang pertama yang membawa marga Sidabutar.



’’Itu makam yang tengah, raja pertama kami. Raja OP Soribuntu Sidabutar,’’ jelasnya. Makam yang ditunjuk Bikner memang memiliki tampilan yang jauh berbeda dari 12 makam lainnya. Makam batu tersebut sudah terlihat menghitam. Ditumbuhi banyak lumut yang telah berkerak di permukaan batu.



Makam Raja OP Soribuntu Sidabutar memiliki ukiran khas. Di bagian depan terpahat kepala manusia berambut klimis. Pahatan itu terlihat menonjol pada bagian depan sarkofagus. Tapi, garis detailnya tak lagi terlihat tegas. Lumut dan usia telah menghaluskannya.



Di atas kepala patung itu terdapat benjolan setinggi 15 sentimeter. Benjolan itu disebut patung cucu. Patung cucu di atas kepala manusia tersebut dibuat raja sebagai pengharapan kepada generasi penerus untuk lebih baik darinya.



Sementara itu, di bagian tubuh makam terdapat beberapa tambalan semen. Menutup celah batu yang telah retak di sana-sini. ’’Ini kami tambal beberapa tahun lalu karena tertimpa batang pohon,’’ tutur generasi ke-14 Raja Sidabutar itu.



Makam raja pertama pembawa marga Sidabutar tersebut sudah ada sejak abad ke-17. Tepatnya pada 1640. Raja meninggal pada usia 115 tahun.



Sebagai raja pertama, OP Soribuntu Sidabutar belum mempunyai wilayah kekuasaan yang luas. Pada awal pemerintahannya, sang raja hanya berfokus untuk memimpin huta (kampung). Saat itu dia hanya berfokus pada pengaturan struktur masyarakat di huta. Agar setiap warganya tetap sejahtera dan tidak kekurangan sandang pangan. Raja belum terlalu memusingkan perluasan wilayah.



Tapi, penerusnya, Raja OP Ni Ujung Barita Sidabutar, lebih ekspansif. Mengerahkan para serdadu huta, sang raja mulai menguasai huta lain di sekitar Pulau Samosir. Klan Sidabutar pun memasuki era kejayaan. Luas kerajaan mencapai 5 kilometer persegi.



’’Wilayahnya luas. Sampai di balik bukit,’’ tutur Bikner sambil menunjuk bukit yang kini menjadi area pertanian warga Desa Tomok.



Luasnya kekuasaan Raja OP Ni Ujung Barita Sidabutar itu tecermin pada bangunan makamnya. Tingginya hingga 2 meter. Dua kali lipat tinggi makam Raja OP Soribuntu Sidabutar. Makam raja kedua itu juga punya ukiran yang lebih halus dan komplet. Patung kepala manusianya terlihat menyembul gagah di batu penutup makam.



Bentuk makam dengan patung kepala manusia tersebut mulai ditanggalkan saat raja ketiga, OP Solompuan Sidabutar, berkuasa. Sebab, sang baginda sudah memeluk agama Kristen. Karena itu, makam raja yang wafat pada 1829 tersebut berhias salib. Bangunan makam setinggi 1,75 meter itu juga sudah tidak menggunakan bahan batu. Semua terbuat dari semen.



Menurut Bikner, pria dengan lima putra itu, Makam Batu Sidabutar bukan sekadar kompleks kuburan. Ia menyimpan filosofi hidup tinggi. Khususnya mengenai sifat orang Batak yang terbuka terhadap segala hal. Salah satunya melalui kepercayaan.



Melalui generasi Sidabutar yang tercatat di setiap pemakaman itu, kerukunan agama bisa terlihat. Dari raja satu ke raja lainnya memberikan nuansa yang berbeda. Raja pertama dan kedua menganut kepercayaan atau agama Parmalim. Itu terlihat pada bentuk makam dan ornamen pendukungnya. Ada bendera tiga warna (putih, merah, hitam), daun sirih, serta jeruk purut. Tiga barang tersebut terlihat di setiap nisan penganut Parmalim.



Meski begitu, masyarakat Batak tetap terbuka dengan hadirnya kepercayaan atau budaya lain. Di tengah mayoritas penduduk yang menganut kepercayaan Parmalim, Raja OP Ni Ujung Barita Sidabutar pernah menempatkan serdadu muslim. Namanya Teuku Muhammad Said. Sebagai serdadu raja, Said punya banyak akal cerdik untuk mengalahkan musuh raja.

Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore