Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 8 Mei 2017 | 10.31 WIB

Rifki Hadi S. dan Muhammad Yusha A. Ciptakan Alat Tambal Ban Portabel

PENUH INOVASI: Rifki Hadi Setyawan (kiri) dan Muhammad Yusha Anwar menunjukkan piala kemenangan mereka Sabtu (6/5) di SMK YPM 8 Sidoarjo. - Image

PENUH INOVASI: Rifki Hadi Setyawan (kiri) dan Muhammad Yusha Anwar menunjukkan piala kemenangan mereka Sabtu (6/5) di SMK YPM 8 Sidoarjo.


Idenya sederhana, tetapi sangat bermanfaat. Layak jika karya dua siswa SMK YPM 8 Sidoarjo ini meraih juara dalam kompetisi teknologi tepat guna se-Sidoarjo.





FIRMA ZUHDI AL FAUZI





PIALA dengan puncak berwarna dominan merah marun itu memiliki tinggi 50 sentimeter. Di bagian kakinya tertulis ’’Juara 1 Lomba Karya Teknologi Tepat Guna (TTG) Kategori Siswa Pelajar, Badan Pemberdayaan Masyarakat Perempuan dan Keluarga Berencana (BPMPKB) Kabupaten Sidoarjo’’.



Mulai tahun ini badan tersebut berubah nama menjadi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, serta Keluarga Berencana (PMD, P3A, KB) Kabupaten Sidoarjo. ’’Ini piala yang berhasil saya menangkan bersama Muhammad Yusha Anwar,’’ ujar Rifki Hadi Setyawan saat ditemui di sekolahnya, SMK YPM 8 Sidoarjo, Sabtu (6/5).



Saat lomba itu berlangsung, Rifki masih duduk di bangku kelas XII. Adapun Yusha adalah adik kelasnya. Dalam lomba karya TTG yang dilaksanakan akhir 2016 itu, mereka berkolaborasi membuat alat tambal ban portabel. Karya tersebut ternyata mendapat apresiasi dan nilai maksimal dari dewan juri. Posisi juara pun mereka sabet.



Selasa (25/4) Rifki diminta maju ke panggung sekolah saat acara pelepasan siswa SMK YPM 8 Sidoarjo. Rifki yang tahun ini lulus mendapat penghargaan dari sekolah sebagai salah satu siswa berprestasi yang mengharumkan nama sekolah. Selain Rifki, ada tiga siswa lain yang turut menerima penghargaan.



’’Pihak sekolah sangat bangga,’’ kata remaja kelahiran Sidoarjo, 30 Maret 1999, itu. Rifki lantas menjelaskan, bentuk alat tambal ban tersebut lebih ramping dari alat tambal ban di pinggir jalan. Sesuai dengan namanya, alat tambal ban tersebut mudah di bawa ke mana saja.



’’Bahannya juga terbuat dari besi, hanya lebih kecil,’’ kata penghobi renang itu. Beratnya, lanjut Rifki, hanya sekitar 1 kilogram. Tingginya 10 sentimeter dan berdiameter 8 sentimeter. Sayang, Rifki tidak bisa menunjukkan bentuk fisiknya. Sebab, alat itu masih berada di tangan panitia lomba. Rifki juga tidak punya dokumentasinya.



Menurut Rifki, saking kecilnya, alat karyanya bisa diletakkan di jok motor atau dikaitkan ke rangka sepeda. ’’Karena ukurannya segitu, biasanya digunakan untuk (menambal ban, Red) motor dan sepeda pancal saja. Untuk mobil belum bisa lantaran butuh tekanan panas yang lebih tinggi,’’ kata putra pasangan Samsul Hadi dan Sulistyo Utami itu.



Tidak hanya bisa menambal ban motor matik dan bebek, alat tambal ban portabel karya Rifki dan Yusha juga bisa digunakan untuk ban besar milik motor gede (moge). Pada alat tambal ban biasa, pemanasnya menggunakan spiritus dan api. Pada alat mereka, pemanasnya bukan api, melainkan energi listrik. ’’Untuk mengoperasikannya, alatnya itu dicolokkan ke stopkontak listrik. Bisa juga disiasati menggunakan baterai atau aki. Sistem pemanasannya mirip heater,’’ jelas Rifki.



Karena itu, alat tambal ban tersebut cukup praktis dibawa saat touring ke hutan atau daerah terpencil. Jika sewaktu-waktu ban motor bocor, pengendara tidak perlu panik mencari tempat tambal ban. Yang penting siap sedia dengan baterai atau aki. ’’Belum lagi jika touring-nya tengah malam. Kan nggak ada tempat tambal ban yang buka,’’ tuturnya. ’’Kasihan kan kalau kena musibah ban bocor begitu. Sudah berat mendorongnya, belum pasti tempat tambal bannya di mana,’’ lanjut Rifki yang mengatakan bercita-cita masuk TNI-AL. Itulah yang menginspirasi Rifki untuk membuat alat tambal ban portabel.



Dia juga sering melihat pamannya, Asmuin, menambal ban di rumahnya di Dusun Prumpon, Desa Suruh, Kecamatan Sukodono. Itulah salah satu faktor membuatnya semakin kuat. ’’Pekerjaan sambilan paman,’’ ucap anak pertama dari tiga bersaudara itu.



’’Setiap melihat paman nambal, saya mikir dari dulu alatnya tetap sama. Kira-kira apa ya yang beda dan terkesan lebih modern,’’ katanya, lantas tersenyum. Untuk mematangkan idenya, Rifki rutin mengajak Yusha untuk berdiskusi. Kebetulan Yusha juga gemar mengutak-atik barang di laboratorium permesinan. Sama seperti Rifki.



’’Akhirnya kami membuatnya bersama. Mulai cari besi bekas untuk bahannya, ngelas sendiri besi tersebut, sampai merancang kelistrikannya,’’ papar Yusha. ’’Selanjutnya, kami konsultasi ke Pak Yus’ad Afandi yang biasa membimbing,’’ tambah remaja kelahiran Sidoarjo, 18 Oktober 1999, tersebut.



Betapa bahagianya mereka saat karya itu rampung dan berhasil digunakan. Alat tersebut diujicobakan langsung ke ban motor miliknya. Percobaan pertama, listriknya sempat mengalami korsleting. Kabelnya terbakar. Pada percobaan kedua, tidak ada kendala lagi. Ban yang bocor berhasil tertambal. Hasilnya tidak kalah dengan alat tambal ban model lawas.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore