Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 April 2017 | 03.46 WIB

Kisah Peneliti Pusjatan Ciptakan Beton Ringan Mortar Busa

BERKARYA: Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Geoteknik Jalan dari Pusat Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. - Image

BERKARYA: Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Geoteknik Jalan dari Pusat Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.



Dibutuhkan waktu hampir setahun untuk merampungkan racikan bahan yang benar-benar bermutu dan siap pakai. Uji coba dalam skala lab tidak hanya sekali dua kali dilakukan. Tapi, ratusan kali dengan berbagai kombinasi jenis pasir, semen, dan air. Peneliti dari Pusjatan yang terlibat dalam riset awal tersebut puluhan orang. ”Ramuan kami ini satu-satunya di dunia. Sekarang sedang didaftarkan untuk dapat paten,” ungkap Rudy bangga.



Dia menjelaskan, sebelum ramuan tersebut ditemukan, memang ada penelitian pada 2007. Penelitian itu mendapatkan dukungan dari Japan International Cooperation Agency (JICA). Bahkan, Pusjatan mendapatkan hibah foam compressor dari Jepang.



Kerja sama penelitian dengan Jepang tersebut juga bertujuan mendapatkan komposisi beton ringan berkualitas. Tapi, itu hanya penelitian dalam skala laboratorium. Pernah uji coba campuran tanah, semen, dan busa, tapi tidak membuahkan hasil menggembirakan. Racikan itu ternyata memperlihatkan retakan-retakan beton saat dicetak. Tentu tidak bagus untuk fondasi atau bahan timbunan yang semestinya bisa kuat dan tak retak.



Kini teknologi mortar busa yang diracik para peneliti Pusjatan itu tidak lagi berada di dalam rahim laboratorium. Tapi, sudah lahir dan berdiri kukuh menjadi bagian dari struktur sipil yang dimanfaatkan masyarakat. Misalnya, menjadi bahan timbunan ringan untuk flyover Pelangi Antapani, Bandung.



Peresmian jalan layang dengan bentang 44 meter itu dihadiri langsung oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla pada 24 Januari 2017. JK hadir karena tertarik dengan teknologi baru penggunaan mortar busa yang dipadu dengan baja lengkung bergelombang atau corrugated. Khusus baja lengkung itu memang hasil kerja sama dengan perusahaan Posco dari Korea Selatan.



Keunggulan teknologi Corrugated Mortarbusa Pusjatan (CMP) tersebut adalah lebih murah, lebih cepat pengerjaannya, lebih tahan lama, dan ramah lingkungan. Biaya konstruksi CMP hanya Rp 8,84 juta per meter persegi. Bandingkan dengan biaya teknologi konvensional yang menggunakan PCI Girder atau beton yang mencapai Rp 14,87 juta per meter persegi. Sedangkan umur layanan bisa lebih dari 100 tahun.



Waktu pengerjaan pun hanya enam bulan. Sebaliknya, dengan teknologi lama, biasanya butuh waktu pengerjaan sampai setahun. Umur layanan bisa lebih dari 100 tahun. Pembangunannya pun ramah lingkungan karena sedikit menggunakan material alam.



Fahmi Aldiamar, peneliti Pusjatan lainnya, mengungkapkan bahwa sebenarnya waktu pengerjaan itu bisa hanya empat bulan. Dalam pembangunan flyover Antapani, pihaknya butuh waktu dua bulan untuk mengurusi jaringan utilitas seperti kabel dan pipa di bawah tanah agar tidak tertabrak fondasi. ”Persiapan alat dan pembangunan paling hanya empat bulan,” jelas pria yang menjabat kepala Seksi Penyelenggaraan Balitbang Geoteknik Jalan Pusjatan itu.



Namun, sebelum mengaplikasikan pada flyover Antapani, teknologi mortar busa diuji coba di berbagai daerah. Setelah selesai di lab, ramuan sempat dibawa untuk uji skala lapangan di Jembatan Kedaton, Cirebon, pada 2009.



Pengujian awal itu cukup sukses. Selanjutnya adalah uji coba pada 2010 di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, untuk penimbunan tanah lunak. Pada 2011 dipakai untuk timbunan jembatan di Kepulauan Riau. Sedangkan pada 2013 dipakai untuk timbunan ringan area bekas longsoran di Lahat, Sumatera Selatan. Akhirnya timbunan dengan mortar busa itu malah bisa dipergunakan untuk pelebaran jalan.



Tahun ini teknologi mortar busa yang dipadu baja lengkung juga disiapkan untuk menyelesaikan kemacetan di exit toll Brebes alias Brexit. Bahkan, dalam jangka panjang, ada rencana untuk menerapkan pada lebih dari seribu lintasan kereta api jalur Jakarta–Surabaya. ”Kami sebagai peneliti tentu bangga. Apa yang kami teliti tidak berhenti di meja lab. Tapi, berguna langsung untuk masyarakat,” ungkap Rudy. (*/c10/owi)








Editor: Miftakhul F.S
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore