Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 6 April 2017 | 23.32 WIB

Sanggar Teras Warna dan Gerakan Sosial untuk Kampungnya

CERIA: Anak-anak Kampung Kaliasin menunjukkan hasil karya di Sanggar Teras Warna. - Image

CERIA: Anak-anak Kampung Kaliasin menunjukkan hasil karya di Sanggar Teras Warna.


Kini perkusi menjadi sarana yang dianggap paling ampuh untuk berkomunikasi. Waktu di sela-sela latihan terkadang menjadi sarana untuk meluapkan permasalahan dan mencari solusi. ”Biasanya, kalau habis main, kami sharing. Kalau ada yang punya masalah, cerita di sini,” ucapnya.


Pemain perkusi terdiri atas berbagai latar belakang. Ada yang penganggur, sudah bekerja, ada juga yang masih sekolah. Tak ada batasan memang dalam grup yang diberi nama Teras Warna Percussion tersebut. ”Kalau anggota tetap, tidak ada. Kadang yang ikut lima. Kadang 15 atau bahkan 20,” cerita Faiz.


Kebebasan untuk ikut berpartisipasi menjadi senjata yang ampuh. Karena itu, di Sanggar Teras Warna seolah tidak ada batasan. ”Yang mau ikut ya langsung ikut, gitu aja,” ujarnya.


Alat untuk perkusi ternyata bukan kendala bagi Sanggar Teras Warna. Justru hal itu menarik banyak pihak. Tak sedikit yang sengaja meninggalkan alat musiknya untuk digunakan latihan. ”Jimbe dan lainnya itu ditaruh di sini begitu saja sama anak-anak. Biar bisa dipakai sama yang lain katanya,” cerita pria kelahiran Surabaya itu.


Tak jarang, mereka mengkreasikan sendiri alat-alat perkusi. Misalnya, membuat alat musik dari paralon yang ditutup ban karet. Suara yang dihasilkan pun unik. Mirip suara gambang. ”Yang ini memang dibuat untuk menimbulkan kesan etnis saat dimainkan,” terang Faiz saat menunjukkan alat hasil kreasi mereka.


Teras Warna Percussion rutin berlatih setiap Rabu malam selepas isya. Berbagai tawaran manggung sudah jadi hal biasa sekarang. Hampir tiap minggu pasti ada yang menjadikan mereka sebagai suguhan utama dalam sebuah acara. ”Minggu ini, sekitar 16 April, kami akan tampil di Surabaya Town Square,” terang Faiz.


Faiz mengakui, membina para pemain perkusi tidak mudah. Tak jarang, pelatih perkusi harus punya kesabaran lebih. ”Ada yang dhedhel (berpikir lambat) karena kebanyakan minum-minum mungkin. Jadi, ngajarnya harus pelan-pelan,” ujarnya, lantas tertawa.


Kegiatan lain juga digagas oleh Sanggar Teras Warna. Salah satunya Kampung Kota Lama Surabaya. Berawal dari acara tujuh belasan, kini acara Kampung Lama itu menjadi agenda rutin. ”Dulu awal di Kaliasin Gang 2. Terus, tahun kemarin di Gang Pompa,” ujar Faiz.
Kampung Kota Lama Surabaya mengusung tema Surabaya tempo dulu. Intinya, dalam kegiatan tersebut, warga di Gang Kaliasin menjadi tuan rumah. Jualan makanan-minuman dilakukan oleh warga Kaliasin di gang sempit itu. ”Warga di Gang Kaliasin itulah yang mengisi stan-stan pamerannya. Mereka yang berjualan,” kenang Faiz.


Tak disangka, kegiatan seperti itu disambut baik warga. Jadi, warga berjualan di depan rumah masing-masing. Yang berjualan juga memakai pakaian khas Jawa seperti kebaya. ”Seak ada event itu, mereka minta diadakan lagi dan lagi,” ucapnya.


Sanggar yang berada 100 meter ke selatan Tunjungan Plaza itu rencananya menyelenggarakan sebuah pameran bertajuk Kampung Murup. ”Nanti pertengahan April kami adakan Kampung Murup. Banyak nanti rangkaian acaranya. Puncaknya diadakan pertengahan Mei,” ujarnya.


Kampung Murup merupakan usaha Sanggar Teras Warna untuk membangkitkan apa yang sudah tidur di Kampung Kaliasin. ”Kami ingin menghidupkan kembali Kampung Kaliasin. Baik ekonominya, sosialnya, budayanya, dan apa pun,” ujar Faiz.


Kampung Murup akan diawali dengan mural art. Coretan kreatif warga Kampung Kaliasin akan dimulai dari timur kampung tersebut. Tepat di tembok milik sebuah perusahaan swasta. ”Kampung itu sejak ada tembok itu sepi. Seolah-olah enggak ada kehidupan waktu malam,” cerita Faiz.


Sebelumnya, warga Kaliasin yang terlibat untuk mural art mengikuti workshop terlebih dahulu. Tak ada batasan untuk mereka berkreasi. Yang jelas, enak dipandang. ”Nanti ikut workshop, dilatih cara memadukan warna dan sebagainya,” ujar Faiz.


Sanggar Teras Warna tak henti-hentinya berkreasi. Seolah-olah mereka berani menunjukkan bahwa warga Kaliasin tidak tenggelam oleh kemewahan kota metropolitan. Meskipun gedung pencakar langit yang tidak jauh dari sana bisa saja sewaktu-waktu mencaplok mereka.



Eksistensi diri lewat kreasi dirasa menjadi jalan yang paling humanis untuk tetap eksis. Tidak sekadar berbicara ngalor-ngidul tanpa hasil. Sanggar Teras Warna menunjukkan itu. Menjadi gerakan sosial yang sosial. Bukan gerakan sosial yang abal-abal. ”Bagi Sanggar Teras Warna, mempertahankan kemandirian itu lebih gagah,” katanya. (*/c6/dos/sep/JPG)

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore