Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 Februari 2017 | 03.25 WIB

Karena Iba pada Penjual Mainan di Pinggir Jalan

FUNGSI BARU: Adien Gunarta (kiri) dan Mocha mma d Fadli. - Image

FUNGSI BARU: Adien Gunarta (kiri) dan Mocha mma d Fadli.


Biasanya Kacapuri melayani tulisan dengan bahasa Indonesia. Mereka sangat gemar jika harus menggarap pesanan dengan peribahasa di dalamnya. Hal tersebut didasari kecintaan mereka akan budaya Indonesia. Adien juga selalu menyempatkan diri untuk menulis nama pemesan yang dituju. Dan, nama pada sisi kosong talenan itu ditulis dalam aksara Jawa. ’’Saya hapalin sebelum bikin usaha,” celetuknya, lantas tertawa.


Namun, banyak pemesan yang memilih kata-kata dalam bahasa Inggris. Itu membuat mereka prihatin. ’’Harus ada juga yang melestarikan hal-hal semacam ini,” ujar Fadli. Karena itu, mereka sering memberikan promosi untuk menggalakkan minat pembeli agar memilih bahasa Indonesia. Mereka memberikan diskon spesial kepada pembeli. Apalagi untuk mereka yang mau menuliskan peribahasa di dalamnya.


Namun, itu dulu, ketika awal Kacapuri dibentuk. Mereka kini bingung bagaimana harus menggalakkan minat pembeli untuk memilih bahasa Indonesia. ’’Akhirnya kami mengikuti permintaan pembeli saja,” tambah Fadli.


Sebagian pembeli mengaku tidak mempermasalahkan harga. Lebih mahal tidak apa-apa asalkan tulisannya dalam bahasa Inggris. Tapi, Adien dan Fadli tidak menyerah. Mereka akan mengadakan promo lagi. Terutama saat Bulan Bahasa dan Sastra Indonesia pada Oktober tahun ini.


Dua sahabat itu juga pernah mendukung kesenian asal Gresik yang hampir punah. Yakni, damar kurung, lampion berbentuk kubus dengan berbagai lukisan yang menghiasi badannya. Tradisi itu memang mulai terkikis zaman. Tak banyak lagi orang yang menggunakan lampion untuk penerangan.


Adien dan Fadli pun melakukan aksi sosial untuk melestarikan damar kurung. Mereka menyisihkan keuntungan selama sebulan untuk menyumbang ke yayasan pelestari kesenian tersebut. ’’Kami juga bikin talenan dengan edisi khusus damar kurung,” jelas Adien. Talenan itu berbentuk kotak dengan bagian yang runcing di atasnya, menyerupai atap rumah panggung. Bentuk tersebut mereka buat sedemikian rupa sehingga menyerupai lampion asal Gresik.


Hingga kini, Kacapuri sudah berdiri selama satu setengah tahun. Bagi para penggiat usaha, waktu tersebut tergolong tidak lama. Namun, dalam jangka waktu itu, Kacapuri sudah melanglang buana. Konsumennya juga sangat beragam. Mulai Sabang sampai Merauke, mereka pernah layani. Mereka juga pernah mengirim pesanan hingga ke luar negeri. ’’Paling sering sih pesanan dari negara tetangga,” ujar Fadli. Namun, mereka masih terkendala pengiriman barang. Sebab, biasanya bandara sulit sekali mengirim material yang terbuat dari kayu.



Tentu saja hal tersebut tidak mematahkan semangat mereka. Dengan gigih, mereka berjuang untuk mengembangkan usaha. Tidak hanya dengan tujuan melestarikan budaya, mereka juga ingin memiliki kacapuri masing-masing. Tempat yang bisa dihiasi dengan hasil kerja keras dari usaha yang mereka lakukan selama ini. (*/c7/dos/sep/JPG)

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore