Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 28 Februari 2017 | 03.25 WIB

Karena Iba pada Penjual Mainan di Pinggir Jalan

FUNGSI BARU: Adien Gunarta (kiri) dan Mocha mma d Fadli. - Image

FUNGSI BARU: Adien Gunarta (kiri) dan Mocha mma d Fadli.

Dua pemuda berbakat membangun usahanya bukan berdasar keuntungan. Mereka juga memiliki misi tersendiri dalam menjual produk. Yakni, menggiatkan masyarakat untuk bangga berbahasa Indonesia.



DRIAN BINTANG SURYANTO



ADIEN Gunarta terlihat sibuk sekali Sabtu siang (25/2) itu. Meskipun hari libur, dia ’’mengurung dirinya’’ di kamar kos yang terletak di kawasan Jojoran. Bukan karena dia tidak mau keluar. Dia hanya sedang mengerjakan pesanan yang sudah menumpuk selama seminggu lalu. ’’Lebih baik pesanannya selesai dulu, baru saya keluar dari kamar,” tutur pria 22 tahun itu.


Di mejanya terlihat banyak sekali peralatan. Ada aneka rupa pensil dan spidol. Alat-alat tulis tersebut terkadang dia letakkan serampangan. Di sisi kirinya ada sebuah toolbox yangberisi berbagai macam alat tulis. Mulai pensil hingga pena kaligrafi. Alat-alat tulis berjejer apik di dalam toolbox bertingkat itu. Terkadang Adien menggapai toolbox tersebut untuk mencari alat yang dia inginkan. Namun, hal itu hanya dilakukan dalam waktu beberapa detik. Konsentrasinya seakan tidak mau dia lewatkan untuk memperhatikan yang lain.


Bukan hanya sebuah toolbox yang menemani Adien kala itu. Dia juga ditemani sahabatnya dalam berbisnis maupun dalam keseharian. Namanya Mochammad Fadli. Setiap kali Kacapuri dalam tahap produksi, dia selalu meluangkan waktunya untuk menemani Adien berkarya. ’’Ya saya bantu sebisanya saja soalnya yang membuat karyanya si Adien sendiri,” ujar pria 21 tahun tersebut. Sesekali dia juga memperhatikan Adien yang tidak mau diganggu. Handphone pun menjadi pelampiasan kebosanannya menunggu Adien mengerjakan pesanan.


Tidak butuh waktu lama, Adien sudah menyelesaikan satu talenan. ’’Kalau lagi mood ya bisa selesai lima menitan,” tutur Adien. Pengerjaan talenan tersebut memang bergantung pada suasana hati Adien. Jika dia sedang muram, tentu saja pengerjaan bisa memakan waktu lebih lama. ’’Bahkan, kadang saya geletakkan saja, seharian tidak dikerjakan,” kelakarnya, lantas tertawa.


Karena itu, mereka selalu memberikan batas waktu pengerjaan. Jika pemesan hanya membeli dalam jumlah satuan, mereka memberikan tenggat tiga hingga empat hari. Namun, jika pembeli memesan dalam jumlah besar, mereka membutuhkan waktu lebih lama pula. Mereka biasanya meminta waktu seminggu.


Beberapa saat kemudian, talenan yang dikerjakan Adien masuk dalam tahap selanjutnya. Setelah diberi garis tipis dengan menggunakan pensil, Adien memang menebalkan garis tersebut dengan spidol kaligrafi. Ketika dalam tahap penebalan, ada beberapa garis pensil yang tersisa. Di situlah Fadli mulai bekerja. Dia merogoh penghapus yang berada di dalam toolbox. Dengan segera dia sapukan penghapus itu untuk menghilangkan sisa garis bantu tersebut. ’’Tapi, seharusnya ini ditunggu sampai kering dulu. Kalau tidak, nanti spidolnya meluber ke mana-mana,” tuturnya. Biasanya, selain menghapus garis bantu, Fadli bertugas untuk memasarkan talenan yang sudah dibuat Adien.


Media yang mereka pilih dalam usaha itu memang tergolong sangat unik. Yakni, talenan. Papan kayu untuk alas memotong di dapur. Dengan sentuhan seni, papan kayu tersebut disulap menjadi cenderamata yang bernilai jual lebih tinggi. Selain itu, mereka mulai merambah media lain. Yakni, entong nasi yang juga terbuat dari kayu.


Pemilihan talenan itu berawal dari kegiatan sosial yang mereka lakukan. Setiap kali melewati salah satu swalayan di sekitar Jalan Arief Rahman Hakim, Adien melihat lelaki tua berjualan mainan. Namun, mainan tersebut tidak pernah terlihat laku. ’’Kasihan, lah,” ujar Adien.


Dia pun berinisiatif membantu. Adien membeli sembilan talenan ke salah satu pusat grosir di Surabaya. Dengan kemampuannya menulis indah, dia pun menghiasi sembilan talenan tersebut dengan tulisan-tulisan. Setelah itu, dia memberikan talenan tersebut ke bapak pedagang mainan untuk dijual.


’’Saya mikirnya, kalau dia berjualan talenan, bakal banyak yang lebih tertarik,” ujar pria asal Probolinggo tersebut. Talenan itu hanya dihargai Rp 5 ribu. Uang tersebut hanya cukup untuk mengganti ongkosnya membeli talenan. Uangnya diberikan sepenuhnya kepada bapak penjual mainan.


Namun, Fadli berpikiran lain. Dia tidak rela talenan tersebut dihargai Rp 5 ribu saja. ’’Ya iyalah. Seharusnya harganya lebih mahal,” terang Fadli. Karena pedagang mainan juga berkeberatan menjual talenan tersebut, Adien memberikan tantangan kepada Fadli.


Jika Fadli bisa menjual talenan itu dengan harga sesuai, Adien setuju membuat usaha bareng. ’’Untungnya, semuanya bisa saya jual sekaligus,” ujar Fadli, lantas tertawa. Karena itulah, Kacapuri lahir.


Nama Kacapuri terpilih lantaran sesuai dengan tujuan usaha. Mereka mengambilnya dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dalam KBBI, kacapuri berarti ruang induk sebuah istana. ’’Kami ingin karya ini menghiasi istana-istana pembeli produk kami,” ujar Fadli. Layaknya ungkapan, rumahmu istanamu.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore