
TIDAK TRAUMA: Eni Emiyanti mendandani Dwi Maulana sebelum berangkat ke sekolah. Sementara itu, Inayatul Izza menung gui sambil menonton TV di ruang kamar darurat.
Sejak peristiwa tersebut, lanjut Eni, aktivitas penduduk yang terkena puting beliung lumpuh total. Dia sama sekali tidak bisa masuk kerja hingga kemarin. Anak-anak pun tiga hari pascabencana tidak bisa sekolah karena kondisi rumah hancur berantakan. ”Mau kerja bagaimana, Mbak. Kondisi rumah masih kacau seperti ini,” ungkapnya.
Meski rumahnya hingga kini belum diperbaiki, Eni dan Nuril masih merasa beruntung. Sebab, mereka memiliki rumah yang belum tuntas dibangun. Lokasinya tepat di belakang rumah yang rusak disapu angin.
”Terpaksa dipakai karena tidak ada tempat lagi. Ya, jubel-jubelan enggak apa-apa. Yang penting bisa tidur,” ujarnya. Sementara itu, ayahnya yang pikun dititipkan di rumah saudaranya di desa tetangga. Sebab, kondisi rumah belum memungkinkan untuk ditempati ayahnya yang sedang sakit. ”Nanti kalau atapnya sudah dipasang, baru ayah saya ambil,” ujarnya.
***
Pindah Posisi Tidur, Tidak Menempel Tembok
MALAM begitu dingin di Dusun Kasak, Desa Terung Kulon, Kecamatan Krian, Selasa malam (21/2). Saat itu masih pukul 19.30. Aktivitas warga mulai berkurang. Sebagian besar warga sudah beristirahat di rumah masing-masing. Meski, kondisi rumah belum 100 persen dibenahi. Sebagian warga lain masih aktif membagikan bantuan berupa genting, asbes, dan semen dari posko bencana puting beliung RT 2, RW 3 ke rumah-rumah korban.
Jawa Pos didampingi Eni Emiyati, warga setempat yang juga menjadi korban puting beliung, berkeliling kampung. Suasana malam di kampung korban bencana terlihat sangat sunyi. Gelap. Sebab, masih banyak rumah rusak yang belum dihuni. Rumah-rumah yang tidak dihuni tersebut dibiarkan tanpa lampu. Tidak terkecuali rumah Eni yang masih rusak berat.
’’Malam ini, alhamdulillah tidak hujan, Mbak. Semalam (Senin malam, Red) hujan deras sekali ditambah guntur,” kata Eni. Ya, setiap kali hujan deras mengguyur Terung Kulon, para korban bencana puting beliung sedikit trauma. Apalagi, masih banyak rumah korban yang belum bisa diperbaiki. ’’Rumah saya, kalau sudah hujan, banjir semua. Gimana enggak banjir, lha wong atapnya saja enggak ada,” ujarnya.
Ya, pada Senin malam (20/2), Desa Terung Kulon memang diguyur hujan deras dengan angin yang cukup kencang. Eni sangat ketakutan setiap ada hujan kencang. Dia dan seluruh keluarganya yang menempati bangunan rumah yang belum jadi itu pun langsung keluar rumah dalam kondisi hujan karena takut terjadi puting beliung lagi. ’’Pas hujan dan ada angin kencang sekali, kami semua keluar. Enggak peduli hujan,” ujarnya.
Eni pun bersyukur hujan dan angin kencang tersebut bukanlah angin puting beliung. Dia bersama seluruh keluarganya langsung masuk ke rumah lagi. Meski begitu, di dalam rumah dia masih tetap takut setiap turun hujan deras dan angin kencang. Segala doa diucapkan sebagai pelindung dari segala bencana. ’’Alhamdulillah anak-anak tidak trauma. Mereka tidak tahu langsung kejadian puting beliung karena mata mereka saya tutupi,” ungkapnya.
Setelah cukup melihat suasana malam di Dusun Kasak, kami kembali ke rumah Eni. Lantaran gelap, kami harus berhati-hati mengendarai sepeda motor. Sebab, sekilas rumah Eni yang rusak setelah diterpa angin puting beliung tampak seperti tidak berpenghuni. ’’Anak-anak sepertinya sudah tidur semua. Nuril (adiknya) dan suaminya juga sudah tidur,” ujarnya.
Kondisi tempat tinggal darurat itu memang sangat memprihatinkan. Hanya ada dua kamar kecil yang bisa digunakan untuk tidur. Masing-masing kamar digunakan tiga orang. Belum lagi berbagai perabotan yang menumpuk di dalam kamar membuat ruangan semakin sesak. Meski begitu, Eni dan keluarganya tetap bertahan hingga rumahnya selesai diperbaiki. ’’Ya, seperti ini, Mbak. Seadanya kami tidur,” ungkapnya.
Malam itu, Jawa Pos hanya bisa menatap sendu wajah polos anak-anak yang tertidur pulas di atas kasur. Tanpa selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Kamar tanpa pintu itu pun hanya ditutupi kelambu sobek ala kadarnya. Ketika hujan turun, air menetes dari asbes kamar tersebut. Sebab, atapnya belum menutup secara sempurna lantaran bangunan rumah tersebut sejatinya masih belum jadi. ’’Kalau hujan, kami pindah posisi tidur. Kepala enggak menempel di tembok,” katanya.
Ya, kondisi tersebut sudah dijalani lebih dari seminggu pascabencana angin puting beliung. Sebab, bantuan material hingga kini masih belum turun. Eni mengatakan telah mendapat bantuan material dari posko. Yakni, 500 genting, 10 lembar asbes, 4 semen, dan 2 bongkok kayu. Namun, kebutuhan material untuk memperbaiki rumah yang rusak itu masih sangat banyak. ’’Masih sangat kurang. Kalau material itu kami pasang, ya hanya sebagian saja. Nanti malah rusak lagi,” ujarnya.
Eni menambahkan, setidaknya untuk memperbaiki rumahnya tersebut, dibutuhkan sekitar 3.000 genting. Namun, dia dan keluarganya belum memiliki biaya untuk memperbaikinya. Apalagi, selama terjadi bencana, dia sama sekali tidak bisa bekerja. Karena itu, dia hanya menunggu bantuan dari pemerintah untuk bisa memperbaiki rumahnya. ’’Asbesnya sudah kami pasang untuk kamar bapak. Sisanya masih belum,” ujar perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik sarung tangan di Gresik tersebut.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
