
PENCINTA SENI: Mahmud Yunus berpose di depan sejumlah lukisan koleksinya yang menjadi penghias rumahnya di kawasan Pondok Mutiara
Hobi terkadang mengalahkan segalanya. Tidak mengenal status dan profesi. Begitu juga bagi Mahmud Yunus. Demi hobi dan kecintaannya terhadap seni, guru SMP itu rela mengeluarkan banyak uang untuk mengumpulkan ratusan lukisan. Rumahnya pun disulap menjadi rumah seni untuk publik.
JOS RIZAL
DI bawah rindangnya pepohonan bambu, di belakang permukiman Pondok Mutiara, berdiri rumah Mahmud Yunus yang elok. Bukan hanya dekorasinya yang terlihat berbeda dari rumah-rumah lain di blok CG. Namun, lukisan-lukisan yang terpampang di dinding rumah tersebut membuatnya terlihat memiliki nilai lebih. Ukiran kayu yang membalut rumah itu semakin menambah nuansa artistik.
’’Selamat datang di padepokan saya. Memang saya desain klasik seperti ini karena saya suka seni,’’ kata Willy, panggilan Mahmud Yunus, saat menyambut Jawa Pos.
Dia sengaja menjadikan rumahnya sebagai galeri. Dia kemudian menunjukkan galeri itu. Ada banyak sekali lukisan. Besar dan lebarnya beragam. Aliran lukisannya pun berwarna. Mulai lukisan realis yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, hiperealis yang memiliki resolusi tinggi, lukisan abstrak yang menggunakan warna dan bentuk tidak wajar, hingga lukisan ekspresionis yang menggunakan gambaran emosi kejiwaan pada setiap goresannya. ’’Dari semua lukisan itu, ada tiga yang paling saya suka,’’ ungkapnya.
Pertama, lukisan kali pertama yang dibeli pada 1989 karya Jansen Jasien. Lukisan itu menggambarkan sesuatu dengan segala aktivitas masyarakat di mulut bangunan. Mulai masyarakat biasa yang berlalu-lalang hingga petani yang membopong pancing dan ikan. Hitam putih warnanya. Bukan tanpa sebab lukisan itu menjadi salah satu yang disukai. ’’Ini kisah pertama saya mencintai seni rupa,’’ ungkapnya.
Perjumpaan Willy pada seni rupa terjadi sejak menempuh kuliah di jurusan Sejarah Antropologi IKIP Surabaya (kini Unesa, Red). Tepatnya pada 1984. Bukan suasana kampus yang membawanya pada seni rupa, tetapi kawan-kawannya di Balai Pemuda. ’’Karena sering kumpul dengan seniman dan melihat pameran di sana, saya jadi kepincut dengan lukisan,’’ tuturnya.
Willy selalu meluangkan waktu dengan kerabat dan koleganya sesama penyuka seni. Dari beberapa kesenian seperti musik dan sastra, bagi dia, seni rupa lebih berkesan. Sejak 1984 dia mengamati beragam seni hingga akhirnya pada 1989 memutuskan membeli lukisan Jansen Jasien.
’’Awalnya lihat-lihat lukisan dan butuh lama untuk memberanikan diri meluangkan uang dan membeli lukisan. Ternyata ada kesenangan dan kepuasan sendiri.’’ ungkapnya. Willy pun membeli lukisan itu dengan dua kali cicilan.
Lukisan kedua yang paling disuka adalah hasil goresan Andy Solaz pada 1992. Lukisan Andy bergaya realis. Yang dimiliki Willy adalah gambar seorang seniman ludruk ternama, Cak Markeso. Dia begitu menggemari Cak Markeso. Selain itu, dia begitu menggemari karya-karya Andy Solaz dalam setiap pameran seni rupa yang pernah diikuti. Karena itu, dia membelinya. ’’Meski dilukis pada 1992, saya baru bisa mendapatkannya dari sang pelukis pada 2001 dan langsung saya beli dengan harga yang sudah ditawarkan,’’ jelasnya.
Selanjutnya, Willy melangkah menuju ruang tidurnya. Dia membuka pintu yang bersebelahan dengan pintu galeri itu. Merangkak naik ke dipan tidurnya, kemudian meraih lukisan pria tua yang tengah duduk menyamping. Itulah lukisan sosok Cak Markeso. Dia bercerita, usaha untuk mendapatkan lukisan itu sedikit susah. Sama seperti lukisan pertamanya, dia membeli lukisan tersebut dengan mencicil dua kali. Dia merasa beruntung bisa memperoleh lukisan itu.
’’Tentang harga? Yang jelas, saya harus mencicil untuk mendapatkan lukisan ini,’’ katanya, lantas tersenyum.
Lukisan yang menggambarkan seniman Cak Markeso itu berukuran 1 x 1,5 meter. Dia memajangnya baik-baik di dinding kamarnya. Lukisan tersebut masih terbungkus plastik dan tampak terawat dengan baik. ’’Ditawar berapa pun nggak akan saya jual,’’ ucapnya.
Karya ketiga yang disukai adalah lukisan Cak Kandar. Seorang perupa yang namanya menggema hingga tingkat internasional. Dia merupakan perupa yang menggunakan bulu binatang sebagai media lukisnya. ’’Ini lukisannya,’’ tambah Willy sambil menunjukkan lukisan itu dari bilik kamarnya.
Willy memang sengaja menyimpan lukisan-lukisan yang dianggap paling baik dan berkesan di dalam kamarnya. Kenapa, takut dicuri? Willy hanya ngakak tanpa memberikan jawaban.
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
