Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 13 Februari 2017 | 13.08 WIB

Wahyudi Riyanto, Mantan Pembuat Property Art Opera Van Java, yang Kini Jadi Incaran

SURVIVE: Wahyudi (kiri) dengan anak dan karyanya - Image

SURVIVE: Wahyudi (kiri) dengan anak dan karyanya


Manusia jatuh itu untuk kemudian bangkit. Ujaran tersebut tampaknya menjadi pegangan Wahyudi Riyanto. Sempat terpuruk, kini dia sukses berkat kostum karakter hero buatannya. Omzetnya mencapai puluhan juta per bulan.





DIMAS NUR APRIYANTO, Jakarta





GANG rumahnya di kawasan Tegal Parang Utara, Mampang Prapatan, terbilang sempit. Namun, itulah rumah Wahyudi Riyanto, pria 40 tahun, yang kini dianggap sebagai salah seorang pembuat kostum karakter hero papan atas di Indonesia.



Dari halaman depan, rumah Wahyudi tampak sederhana. Tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Begitu masuk rumah, mata langsung disambut sejumlah kostum karakter hero buatannya. ’’Itu ada karakter Darth Vader dan Iron Man,” ujar Wahyudi sambil menunjuk ke karakter yang dimaksud.



’’Kalau kostum di sini sekarang, yang udah jadi, tapi tidak untuk dijual. Tapi untuk disewakan,’’ tambahnya.



Tepat tiga tahun lamanya Wahyudi menggeluti dunia bisnis pembuatan kostum karakter. Jumlah karakter yang tercipta sudah tak terhitung lagi. ’’Kalau ditanya berapa kostum yang saya buat, saya lupa. Sudah banyak banget. Mungkin ratusan atau bahkan lebih,’’ ucap Wahyudi, kemudian tawanya pecah.



Dunia bisnis pembuatan kostum karakter dijalani Wahyudi sejak 2014 lalu. Sebelumnya, dia adalah seorang penganggur. Pada 2013–2014, dia menyandang status tersebut. Bahkan, dia mendapatkan bisik-bisik tak enak hingga istrinya hampir nyerah. ’’Istri hampir minta cerai waktu itu karena saya nggak kerja. Nganggur gitu,’’ terangnya.



Sebelum menganggur, Wahyudi adalah pembuat propertyart di stasiun televisi swasta. Salah satu program acara televisi yang dia pegang adalah Opera Van Java (OVJ). Dia bertanggung jawab membuat berbagai macam properti.



’’Saya bekerja sebagai pembuat properti dari 2011 hingga 2013, setelah itu menganggur,’’ tutur pria kelahiran 1976 tersebut.



Suami Widiastuti itu menyatakan, dunia seni dengan membuat kostum karakter bukan hal yang baru. Sejak kecil, Wahyudi dekat dengan seni. ’’Sudah senang nggambar saat masih kecil. Cuma, nggak tersalurkan bakat menggambar waktu itu,’’ ucapnya, lantas tertawa.



Pria yang berulang tahun tiap 13 Maret tersebut menuturkan, usaha pembuatan kostum karakter diawali karena permintaan sang anak. Tepatnya, anak pertama. Kala itu, kata Wahyudi, anak pertamanya ingin dibuatkan kostum karakter Iron Man. Akhirnya, dia mencoba merealisasikan permintaan anaknya.



Semua bahan untuk membuat kostum kala itu didapatkan dari tempat kerjanya di stasiun televisi. Bahan tersebut adalah EVA foam. ’’Bahan limbah (EVA foam, Red) dari sisa pembuatan properti saya ambili, lalu dibawa pulang. Kemudian, saya pakai untuk membuat kostum,’’ terangnya.



Langkah pertama, dia membuat konsep karakter di atas kertas dengan menggunakan pensil. Wahyudi sempat menunjukkan kepada koran ini bagaimana dirinya menggambar. Jari jemarinya begitu lihai menghubungkan satu garis dengan garis lain. Tidak dibutuhkan waktu lama, kepala karakter war machine tuntas.



’’Kalau sudah digambar konsepnya, baru beranjak ke langkah lain. Langkah berikutnya, membentuk ke EVA foam-nya. Lalu, memberikan lapisan penguat cat sebelum dilumuri cat,’’ papar ayah Pramudhia Ananta Yassa dan Pramaswara Ananta Wasesa itu.



Setelah selesai membuat kostum tersebut, rasa senang menggelora pada diri anaknya. Juga dirinya. Wahyudi menggunakan kostum itu ke bekas tempat kantornya. Tujuannya satu, memamerkan karyanya. Tidak sedikit teman dekat di tempat kerjanya yang terkejut. ’’Sekalian memasarkan juga loh,’’ ujarnya. Hal tersebut sempat viral di media sosial.



Dia menjelaskan, di balik kostum yang dikenakan saat itu, dicantumkan nomor telepon dan keterangan jasa pembuatan kostum karakter. Ternyata, cara tersebut mutakhir. Bukan hanya calon konsumen kostumnya, ternyata cara itu membuatnya menjadi berita. Dia mengaku mendapatkan banyak tawaran untuk mengisi acara-acara di televisi swasta.



’’Setelah tampil di televisi, hari itu juga saya langsung mendapatkan banyak telepon dari konsumen. Pengin buat ini dan itu. Kalau dihitung-hitung, waktu itu ada lebih dari sepuluh telepon,’’ ungkapnya.



Untuk membatasi permintaan tersebut, Wahyudi mengaku dirinya sempat menolak banyak tawaran. Banyak telepon yang tidak diterima olehnya. ’’Saya takut nggak bisa merealisasikan permintaan konsumen,’’ ujarnya, lantas tertawa.



Wahyudi tidak pernah berpikir sebelumnya bila berkat permintaan sang anak, dirinya dapat menyelamatkan banyak hal dalam kehidupannya. Termasuk menyelamatkan keberlangsungan keluarganya dan membuktikan kepada orang yang pernah mencacinya.



’’Saya sangat bersyukur dapat menyelamatkan keluarga hingga membuktikan kepada banyak orang bahwa saya sudah nggak penganggur lagi,’’ ucapnya.



Kemudian, kualitas tiap produk menjadi prinsip nomor wahid. Dalam hal itu, tidak boleh ada tawar-menawar, katanya. Harga aman produk nyaman menjadi visinya dalam berbisnis. ’’Memberikan kualitas produk yang utama kepada konsumen ya,’’ jelasnya.



Setelah mengetahui keberhasilan Wahyudi, tidak sedikit pihak pertelevisian yang ingin menariknya untuk bekerja kembali. Termasuk stasiun televisi bekas tempatnya bekerja. Sayangnya, Wahyudi enggan kembali. ’’Saya sudah nyaman bekerja di rumah, sambil nonton anak-anak dan ditemani istri. Enak banget kan,’’ katanya. (*/c22/ano/sep/JPG)


Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore