Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 19 Januari 2017 | 01.36 WIB

Serka Mar Ery Subiasno, Marinir Berprestasi di Bidang Olahraga Tinju

KAYA PRESTASI: Serka Mar Ery Subiasno menunjukkan beberapa sabuk tinju yang pernah diraihnya. Di atas ring, dia dikenal sebagai Erik Destroyer. - Image

KAYA PRESTASI: Serka Mar Ery Subiasno menunjukkan beberapa sabuk tinju yang pernah diraihnya. Di atas ring, dia dikenal sebagai Erik Destroyer.

Hidup Ery tidak bisa dilepaskan dari olahraga tinju. Sejak SD, dia bergabung dengan sasana di kampungnya. Hobi itu terus berlanjut sampai ketekunan dalam berlatih mengantarkannya meraih beragam gelar kejuaraan nasional.



HASTI EDI SUDRAJAT



PADA 21 September 2014, kejuaraan Sabuk Emas Panglima TNI Jenderal Moeldoko memasuki babak akhir. Laga puncak dalam rangka memeriahkan HUT Ke-69 TNI itu berlangsung alot. Jual beli pukulan disajikan kedua petinju yang bertanding. Salah seorang petinju tersebut adalah Serka Mar Ery Subiasno. Petinju berjuluk Erik Destroyer itu merupakan prajurit Brigif-1 Marinir Gedangan, Sidoarjo.


Ery sempat tersudut di ronde pertengahan. Kombinasi pukulan jab dan uppercut dari lawan beberapa kali mendarat di tubuh dan wajahnya. Hantaman dari lawan mengakibatkan pelipis kanan Ery pecah hingga darah segar mengalir. Namun, pria 31 tahun tersebut tidak mau menyerah. ’’Laga terakhir. Dan, itu adalah sabuk panglima. Jadi, harus ada perjuangan lebih,’’ ucapnya saat ditemui Jawa Pos di Mako Brigif-1 Mar pada Kamis (12/1).


Bapak satu anak tersebut menuturkan, saat itu dirinya memaksa diri untuk tidak menghiraukan rasa sakit yang dirasakannya. Sikap serupa ditunjukkan ketika lawan berhasil menembus pertahanan yang dibuatnya di ronde terakhir. Saat itu Ery mendapatkan pukulan telak di rusuk kiri.


’’Sempat mau jatuh saking kerasnya pukulan yang datang,’’ katanya. Dia memang terhuyung setelah mendapatkan pukulan tersebut. Meski begitu, Ery tidak ingin perjuangannya kandas begitu saja. Ery mengambil langkah mundur untuk mencari ruang bernapas. Dia memasang wajah seakan pukulan tersebut tidak membuatnya merasa sakit.


’’Bagian dari strategi agar lawan tidak merasa di atas angin,’’ ujarnya. Baku pukul dua petinju makin sengit menjelang detik-detik terakhir. Ery mengeluarkan segenap kemampuannya untuk mencari celah. Beberapa kali pukulannya mengenai lawan dengan telak. ’’Saya akhirnya menang angka,’’ jelasnya dengan penuh rasa bangga.


Ery menyebut kejuaraan itu sebagai salah satu momen yang tidak akan terlupakan. Meski, sebelumnya dia beberapa kali memenangi kejuaraan yang berbeda. Sebagai anggota militer, Ery merasa sangat bangga dapat merebut sabuk emas dari kejuaraan tinju yang diprakarsai panglimanya.


Sejak kecil, pria kelahiran 30 September 1985 itu memang akrab dengan olahraga tinju. Ery berlatih sejak masih duduk di bangku kelas III. Saat itu dia menimba ilmu di sasana di kampungnya. Namanya Tinju Muda Boxing Camp (TMBC). ’’Disuruh bapak ikut latihan di sana,’’ ungkap pria asal Jetis, Jogjakarta, tersebut.


Bukan tanpa sebab dia diarahkan untuk berlatih tinju meski usianya masih belia. Usut punya usut, Ery kecil ternyata cukup bandel. Hobi berantem. Saat berkelahi, dia memiliki kebiasaan melempar batu ke lawan. ’’Bapak ingin anaknya ketika berkelahi tidak memakai batu. Berbahaya kalau kena kepala,’’ tuturnya.


Hampir setiap hari, suami Indri Rahmawati itu berlatih di sasana. Ery biasa menjalani latihan sore hari setelah pulang sekolah. Dia hanya libur ketika akhir pekan. Meski harus menjalani program latihan yang cukup berat pada usia belia, Ery merasa enjoy. ’’Waktu masih SD sudah pernah juara. Jadi, juara III kejuaraan amatir nasional kelas 38 kilogram di Jakarta,’’ ungkapnya.


Bakat tinjunya makin berkembang beberapa tahun kemudian. Ery meraih juara I kejuaraan tinju amatir kelas 57 kilogram di Makassar. Sejak saat itu, alumnus SMPN 2 Gamping, Sleman, Jogjakarta, tersebut menjadi langganan juara. ’’Kejuaraannya berbeda-beda. Ada yang di Jakarta, Ngawi, Surabaya, dan Malang,’’ terangnya.


Saat duduk di bangku SMA pada 2003, Ery memperoleh kesempatan bertanding di ajang Pra-PON. Ery yang ingin berkarir di dunia tinju tentu tidak ingin menyia-nyiakan momentum tersebut. Dia berharap bisa menjadi juara agar dapat mengikuti PON XVI setahun selanjutnya di Palembang, Sumatera Selatan. Namun, apa daya keinginannya harus pupus. Ery yang harus menjalani dua kali pertandingan untuk bisa mengisi slot ke PON XVI takluk di laga kedua. ’’Sudah menang sekali di pertandingan pertama. Akhirnya, tidak bisa ikut PON,’’ sesalnya.


Ery marah kepada dirinya sendiri. Bahkan, dia merasa tidak lagi mempunyai semangat untuk bertanding. Di sisi lain, tidak lama setelah Pra-PON berlangsung, pendaftaran TNI-AL dibuka. ’’Saya pilih masuk militer. Daftar di Jogja dan langsung diterima,’’ katanya.


Setelah menempuh pendidikan, Ery ditugaskan Brigif-1 Mar di Surabaya. Siapa sangka, setahun bertugas, dia tiba-tiba menerima perintah dari pimpinan untuk berlatih tinju di Amphibi Boxing Camp. Itulah sasana tinju yang dikelola Brigif-1 Mar. ’’Ikut-ikut kejuaraan dan tetap juara. Materi latihan dari kampung ternyata tidak hilang,’’ ucapnya, lantas tersenyum.

Editor: Suryo Eko Prasetyo
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore