alexametrics
Audrey Maximillian Herli, Co-founder Riliv

Berkat Aplikasi Curhat, Masuk Daftar 30 Under 30 Forbes Indonesia

Curhat Meningkat Selama Masa Awal Pandemi
17 November 2020, 06:06:38 WIB

Fenomena curhat di media sosial membuat Audrey Maximillian Herli berpikir untuk membuat terobosan. Yakni, sebuah aplikasi untuk menampung curhat sekaligus memberikan solusi. Kini nama pemuda yang akrab disapa Maxi itu masuk daftar 30 Under 30 Forbes Indonesia.

HANAA SEPTIANA, Jawa Pos

KEINGINAN saya adalah kesehatan mental masyarakat menjadi lebih baik melalui teknologi informasi,” tegas Maxi saat dihubungi kemarin (13/11). Lima tahun lalu, dia mendirikan sebuah perusahaan rintisan atau start-up berbentuk aplikasi curhat. Konsepnya, pengguna bisa berkonsultasi dengan psikolog secara langsung melalui aplikasi tersebut. Kini aplikasi yang dinamai Riliv itu memiliki lebih dari 350 ribu pengguna dan 100 psikolog yang terdaftar.

Berkat usahanya, Maxi bersama sang kakak, Audrey Christopher Herli, baru saja mencapai prestasi. Yakni, terdaftar dalam 30 Under 30 Forbes Indonesia Februari lalu. Itu menunjukkan bahwa usaha rintisan mereka memiliki dampak signifikan bagi masyarakat. Khususnya pada bidang health care and science.

Selanjutnya, mereka juga dinominasikan untuk daftar 30 Under 30 Forbes Asia.

Maxi pun menceritakan berdirinya Riliv. Yakni, berawal dari pengalaman pribadi pada 2015. Saat itu, Maxi melihat banyaknya warganet yang memilih melampiaskan emosi dan curhat di media sosial. Sebagian malah mendapat hujatan atau cyberbullying. Bukannya mendapat saran atau solusi atas masalah yang diceritakan. Padahal, hal itu sangat rawan memengaruhi kesehatan mental seseorang.

Dari situ, muncul keinginan Maxi untuk membuat sebuah wadah guna menampung curhat. Yang diwujudkan dengan membuat sebuah start-up bernama Riliv. Warganet bisa bercerita dan diberi solusi yang tepat atas masalahnya. ”Jadi, Riliv menghubungkan psikolog berlisensi dan menerima layanan konseling profesional secara daring,” papar alumnus sistem informasi Universitas Airlangga itu.

Saat pendiriannya, Maxi mengalami sejumlah tantangan. Misalnya, harus meriset fenomena curhat di media sosial yang memengaruhi kesehatan mental. Itu dilakukan untuk mendapatkan dukungan dari berbagai pihak terkait. Sebab, Maxi bukan lulusan ilmu psikologi yang menguasai hal tersebut.

Dari riset tersebut, dia menemukan kesimpulan bahwa kesehatan mental tidak bisa disepelekan. Sebab, itu adalah fondasi yang menentukan kualitas kehidupan setiap orang. Baik kehidupan pribadi maupun lingkungan. ’’Karena itu, butuh sebuah wadah untuk menampung curhat dari masalah. Selanjutnya, harus ada solusi,” imbuh pria 28 tahun itu.

Saat dirilis pada 9 Agustus 2015, Riliv juga tidak memiliki psikolog profesional. Melainkan hanya mahasiswa psikologi sebagai penenang dan pemberi saran awal atau regular reliever. Namun, kepercayaan terhadap Riliv meningkat pada tahun selanjutnya. Sebab, mereka berhasil memenangkan sejumlah penghargaan, termasuk Google Android One 2015.

Tak lama setelah itu, psikolog profesional mulai bergabung. Potensi bisnis yang berbasis teknologi juga semakin terlihat. Warganet mulai menggunakan aplikasi tersebut untuk curhat tentang berbagai hal. Mulai masalah keluarga, percintaan, karir, hingga gangguan psikologi. Kini Riliv juga telah menggandeng berbagai pihak, termasuk Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi).

Saat namanya dan sang kakak masuk daftar 30 Under 30 Forbes Indonesia, Maxi menyatakan sangat senang. Sebab, itu dianggap sebagai langkah strategis untuk perkembangan start-up-nya. ”Sinergi dengan Forbes sangat berarti untuk menyebarluaskan isu kesehatan mental. Karena selama ini masih banyak yang menyepelekan,” kata pemuda yang pernah menjadi Google Student Ambassador South East Asia 2012 itu.

Maxi juga sedikit bercerita bahwa pandemi meningkatkan jumlah pengguna Riliv. Tepatnya pada Maret hingga Mei. Sebagian permasalahannya terkait menghadapi pandemi, baik secara mental, karir, maupun hubungan. Para individu itu memilih Riliv untuk menampung curhatnya. Terlebih, mereka belum bisa bertemu dengan psikolog secara langsung.

Kegigihan Maxi juga diakui salah seorang partner kerja sama Riliv. Yakni, founder Mindful Project Hendrick Tanuwidjaja. Dia digandeng Riliv untuk agenda kesehatan mental melalui meditasi. Menurut Hendrick, visi Maxi sama dengan visinya selama ini. Yakni, membantu sesama dalam bidang kesehatan mental.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Edy Pramana

Reporter : (*/c6/git)



Close Ads