
KOMPOSISINYA SUDAH PAS: Syafa menunjukkan slime yang baru selesai dibuatnya Sabtu (12/11). Slime tersebut akan dijualnya.
Syafa tertarik dengan slime sejak duduk di kelas IV. Awalnya, dia hanya melihat slime yang dibawa kakak kelasnya. Ketika kali pertama menyentuh slime, dia merasakan sensasi yang unik.
Lembek, lengket, dan kenyal. Bahkan, baju seragamnya juga sempat terkena slime. ”Saya penasaran. Kok lengket ya. Kena baju kok nggak bisa hilang,” kisahnya.
Dari situ, Syafa mulai mencari informasi tentang slime melalui YouTube. Berbagai informasi tentang slime pun bermunculan. Rasa penasaran untuk membuat slime sendiri pun kian tinggi.
Awalnya, dia meminta dibelikan sabun dan lem oleh ibunya. Tetapi, permintaan tersebut ditolak karena dianggap aneh.
”Kata mama, buat apa. Aneh-aneh saja kata mama. Mau minta uang buat beli slime yang sudah jadi, tambah nggak berani. Harganya kan mahal,” ungkapnya.
Syafa akhirnya memilih untuk menabung dari uang saku sekolah yang diberi orang tuanya setiap hari. Ketika uangnya cukup untuk membeli sabun, dia baru meminta ibunya ke supermarket.
Akhirnya, bahan-bahan pun lengkap. Termasuk lem dan sabun. ”Saya memilih nggak jajan. Duitnya dipakai buat beli lem,” ujarnya.
Uji coba pun dilakukan. Kali pertama, Syafa membuat clear slime, tapi gagal. Slime yang dibuat terlalu padat. Pada uji coba kedua, dia mencampur adonan bedak dengan gom (obat sariawan).
Lagi-lagi dia gagal. Yang ketiga, adonan justru terlalu cair. Namun, Syafa tidak patah semangat. ”Setelah uji coba kali kelima, saya baru berhasil membuat slime,” katanya.
Slime buatannya kerap dibawa ke sekolah. Beberapa temannya pun memesan. Dari situlah, orang tuanya mulai menyadari bahwa permainan slime memang digemari anak-anak.
”Saya minta tolong mama untuk dibelikan cup kecil-kecil. Sama mama langsung dibelikan,” ujarnya. Satu cup kecil slime yang berukuran sekitar 30 mililiter dijual seharga Rp 10 ribu–Rp 15 ribu.
Hasil kreativitas tersebut juga pernah dipamerkan di bazar sekolah. Tidak lebih dari dua jam, slime buatannya habis terjual. ”Saya bawa seratus cup, langsung ludes,” katanya.
Tidak hanya memenuhi permintaan teman-temannya di sekolah, slime buatannya juga sudah dijual di mal. ”Biasanya, setiap Jumat malam saya bikin slime. Sabtu-Minggu juga begitu. Kalau lagi ramai pesanan, mama bantuin saya mengemas,” ujarnya.
Menurut Syafa, membuat slime susah-susah gampang. Dibutuhkan konsentrasi, ketelatenan, dan kesabaran. Takarannya pun harus tepat. Sebab, tidak semua slime yang dibuat berhasil. Slime gagal jika terlalu cair atau padat.
Namun, ketika berhasil membuat slime, tambah Syafa, ada rasa puas tersendiri. ”Rasanya senang,” ungkapnya. Slime yang terlalu cair tidak bisa diperbaiki sama sekali.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
