Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 6 November 2015 | 18.41 WIB

Hmmm... Beginilah Dalaman Vivid Adult Entertainment dan Cara untuk Tetap Eksis

Markas Vivid Adult Entertainment di Los Angeles. - Image

Markas Vivid Adult Entertainment di Los Angeles.

Sebagaimana entitas bisnis lainnya, Vivid bertahan dan tetap jadi raksasa industri hiburan dewasa karena bisa menyiasati perubahan. Berikut penelusuran wartawan Jawa Pos KARDONO SETYORAKHMADI yang baru kembali dari Los Angeles.



= = = = =  



SEBUAH meja dari kayu oak dan rak penuh trofi menghiasi ruangan berukuran 5 x 5 meter. Terletak di lantai 4, dari ruangan itulah sebuah bisnis yang per tahun menghasilkan USD 1 miliar (Rp 13,5 triliun) digerakkan.



“Kalau saya tidak membuat hal yang berbeda, tentu tak akan berhasil,” tutur Steven Hirsch, CEO Vivid Adult Entertainment, kepada Jawa Pos.



Di kantor yang berlokasi di Cahuenga Boulevard, Los Angeles, Amerika Serikat, itulah Hirsch harus memutar otak untuk membuat perusahaannya yang bergerak di bidang adult entertainment alias hiburan khusus orang dewasa terus survive di tengah berbagai perubahan.



Kisah Vivid menjadi raksasa di sektor adult entertainment bermula pada 1984. Terlahir dari keluarga yang berkecimpung di bisnis serupa, Hirsch mulai bekerja di perusahaan ayahnya.  “Lalu, saya bertemu dengan David James dan Bill Asher,” katanya.



Di AS, industri film dewasa merupakan industri besar dan dilindungi hukum. Berdasar data Video Software Dealers Association, total omzet industri tersebut di AS tahun lalu mencapai USD 12 miliar (Rp 163 triliun). Bahkan, ada penghargaan khusus untuk para pelaku yang terlibat di dalamnya yang diberi nama AVN Awards, semacam pelesetan Oscars.



Trofi yang berjejer di kantor Hirsch tadi berasal dari ajang tersebut, yang sekaligus menandakan kesuksesan perusahaan yang dipimpinnya. Karena itu pula, tak mudah untuk bertemu Hirsch atau mendapat akses ke perusahaannya.



Sebelum melakukan wawancara, saya harus menjalani sejumlah interview dengan juru bicara Vivid, Jackie Markham. Korespondensi berlangsung sampai 10 kali sebelum Vivid membuka diri.



Nah, setelah bertemu David James dan Bill Asher tadi, Hirsch membentuk brand sendiri. “Karena video, saya cari nama perusahaan yang ada kata videonya dan gampang diucapkan. Jadilah ketemu nama Vivid itu,” imbuh pria yang lahir pada 25 Mei 54 tahun silam tersebut.



Pertama, dia melakukan talent scouting dan melakukan branding serius pada Vivid Girls. Sebutan itu mengacu pada para aktris yang dikontrak secara eksklusif oleh Vivid. Salah satu generasi pertama adalah Asia Carrera.



Kemudian, dibuatkan serangkaian acara off air untuk Vivid Girls dan di-branding secara khusus. Sampai akhirnya mereka sukses membentuk basis penonton yang kuat.



Kedua, Vivid melakukan pembedaan terhadap produksi mereka. Studio itu pula yang memperkenalkan konsep celebrity sex-tape. Salah seorang yang pernah menjadi bintangnya adalah salah seorang sosialita paling terkenal di planet ini, Kim Kardashian.



Meski sempat terjadi polemik hukum dengan Kim, tetap saja Vivid dianggap secara legal menguasai video tersebut. Pada 2010, di antara sekian ratus ribu video dewasa yang beredar di AS, sepertiganya diproduksi Vivid.



Memasuki pertengahan 2000 ketika film dewasa kian gampang didapatkan secara gratis di internet, Vivid pun terpukul. Tapi, sebagaimana entitas bisnis lainnya, mereka pun melakukan penyesuaian.

Editor: Ayatollah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore