
Ngadinem (kanan) dan Sutarno (tiga dari kanan) saat menikmati kemeriahan Monastiraki bersama para TKI di pusat Kota Athena.
Bukan hanya itu, sejak ekonomi Yunani memburuk, banyak imigran yang mendapat perlakuan kurang ramah dari penduduk asli Yunani. Terutama orang-orang tua yang uang pensiun dan tunjangan sosialnya dipotong atau tidak dibayar lagi oleh pemerintah Yunani.
”Biasanya nenek-nenek yang suka marah, mereka bilang kenapa para imigran tidak pulang saja ke negara kalian. Saya pernah dimarahi juga,” kisah Sutarno, lalu tersenyum.
Memang, tak selamanya kisah para TKI di Yunani dibalut kesedihan. Sutarno mengatakan, masih banyak TKI yang hingga saat ini mendapat gaji penuh dari bosnya, termasuk jatah libur dua minggu dan tiket pergi pulang dari Yunani ke Indonesia.
Selain itu, para TKI memiliki posisi tawar tinggi karena jasanya yang sangat dibutuhkan. Meski kemampuan berbahasa Yunani para TKI kalah oleh para pramuwisma asal Filipina yang memang benar-benar dilatih pemerintahnya, ketekunan dan etos kerja para TKI tak tertandingi.
Karena itu, Sutarno mengakui, sebagai ketua IKKIY, dirinya hampir setiap hari dihubungi para agen maupun orang Yunani yang ingin mencari pramuwisma asal Indonesia. Informasi itu selalu dibagikannya melalui jejaring sosial Facebook sehingga jika ada TKI yang merasa tidak kerasan karena gajinya dipotong bisa pindah mencari bos baru.
”Tapi, jarang ada yang pindah karena hubungan dengan bos sudah telanjur baik,” ujarnya.
Meski hidup di negeri yang tengah diimpit krisis ekonomi, banyak yang mengatakan bahwa mengais rezeki di Yunani masih lebih baik daripada kembali ke kampung halaman. ”Kalau pulang, paling jadi buruh tani. Jadi, lebih baik di sini dulu, siapa tahu kondisinya bisa segera membaik,” kata Narti, TKI asal Tulungagung yang sudah delapan tahun merantau di Yunani.
Meski hidup jauh dari keluarga di kampung halaman, para TKI itu tak merasa sebatang kara karena kuatnya persaudaraan. Selain IKKIY, ada perkumpulan Van Ngapak serta Paguyuban Musik dan Joget (Pamujo). ”Mayoritas kami berasal dari Tulungagung, Cilacap, dan Banyuwangi,” ujar Sutarno.
Setiap Minggu, saat para TKI mendapat jatah libur, hampir selalu ada acara kumpul-kumpul. Sore itu, di rumah yang disewa Hendrik dengan biaya EUR 500 per bulan, beberapa TKI tengah asyik berkumpul dan bercengkerama. Ada Yuli, Narti, Dwi Lestari, dan Yuni asal Tulungagung, lalu Mutamimah dan Suliah asal Trenggalek.
Hendrik mengatakan, biasanya jumlah TKI yang berkumpul di rumahnya bisa sampai 20 orang setiap Minggu. ”Sekarang kebetulan lagi musim panas. Jadi, banyak teman yang diajak bosnya liburan ke pulau,” ujarnya. (Bagian-1/Bersambung)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
