Jejak Kebaikan di Pos Jaga Perumahan dan Warung Nasi (11)
Kepemimpinan Serda Guntur Ari Prasetyo sebagai ketua RT di kampungnya tak akan pernah dilupakan. Begitu pula keegaliteran Kopda Dirgantara Nugroho Putranto.
DIMAS N.A., SHABRINA P., W.Z. BUSTOMI, Surabaya,
Jawa Pos
---
YANTO berkali-kali mengetuk kusen pintu dengan jari telunjuk kanannya. Kepadanya, Jawa Pos meminta mengingat kenangan apa saja yang pernah dilalui bersama Kopda (Tlg) Dirgantara Nugroho Putranto.
Bibirnya mengatup. Alis kirinya diangkat. ”Banyak banget,” kata pria yang bertugas sebagai petugas keamanan di kompleks tempat kru KRI Nanggala-402 itu tinggal di kawasan Surabaya Barat.
Dia kali terakhir bertemu dengan Nugroho –sapaan akrab Kopda Dirgantara Nugroho Putranto– dua minggu sebelum Nanggala hilang kontak di perairan utara Bali pada Rabu tiga pekan lalu (21/4). ”Tiap lewat pos jaga kompleks, ada saya di dalam pos, beliau (Nugroho, Red) selalu menyapa sambil membungkukkan badan,” kenang Yanto dengan suara yang terdengar bergetar.
Itu menunjukkan keegaliteran Nugroho yang menurut Yanto tak hanya ditunjukkan kepadanya. Tak jarang, keduanya menghabiskan waktu mengobrol di pos jaga. Yanto sering bercerita tentang menantunya yang juga bertugas sebagai prajurit TNI di Papua kepada Nugroho. ”Setiap libur bertugas, beliau tak pernah absen keliling kompleks dengan anaknya pada pagi hari,” ucapnya.
Sebelum bertemu dengan Yanto,
Jawa Pos sempat menghubungi Martha Famira Minardo, istri Nugroho. Namun, Martha masih enggan diwawancara. ”Doakan saja ya,” ujarnya, lalu menutup sambungan telepon. Nugroho menikah dengan Martha Famira Minardo dan dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Shaka. Tahun ini usia pernikahan keduanya memasuki tujuh tahun.
Sriminah pun tak memiliki hubungan saudara dengan Serda (Mes) Guntur Ari Prasetyo. Namun, pemilik Warung Nasi Ayu di kawasan Candi Lontar, Surabaya Barat, itu juga mengenang kru KRI Nanggala tersebut dengan penuh haru. Sriminah mengenal Guntur sejak anggota TNI Angkatan Laut itu masih kecil. Sebab, di warung itulah dulu Guntur kerap membeli bekal sebelum berangkat ke sekolah. Mulai SD hingga SMP. ”Bu, beli sarapan, pisang goreng, tahu isi, ote-ote,” kata Sri menirukan cara Guntur berbicara saat mampir sebelum ke sekolah.
Sampai menginjak dewasa dan sudah menjadi anggota TNI-AL, Guntur tetap rendah hati. Hingga akhirnya, dia sempat dipercaya menjadi ketua RT 1, RW 14, Kelurahan Lontar, Sambikerep, Surabaya. ”Ketika itu dia masih tinggal di rumah orang tuanya di kawasan Candi Lontar Wetan, Surabaya,” jelas Sriminah yang bersahabat dengan ibunda Guntur yang meninggal lima tahun silam.
Setelah menikah, Guntur tinggal berpisah dari orang tuanya. Namun, ayah Guntur tetap tinggal di rumah tersebut, lantas menikah lagi. Setiap dua pekan, Guntur mampir menjenguk orang tuanya di rumah itu bersama istri dan anak-anaknya. ”Kalau dia ke sini, mobilnya biasanya diparkir di bawah pohon nangka itu,” ungkap Sriminah sembari menunjuk sebuah pohon di depan warungnya saat ditemui pekan lalu (5/5). ”Sama saya juga masih ingat banget karena dulu kan sering ke sini,” lanjutnya.
Tahun lalu, ayah Guntur, Karyani, meninggal. Tak lama setelah kepergiannya, rumah orang tua Guntur di kawasan Candi Lontar Wetan kosong. Saat
Jawa Pos mampir ke rumah tersebut, tak tampak ada penghuni di rumah yang bercat kuning dan hijau itu.
Peristiwa tenggelamnya KRI Nanggala-402 tak pelak membuat hati Sriminah ikut teriris. Tak terbayang di benaknya, anak kecil yang dulu sering membeli gorengan sebelum berangkat sekolah meninggal di bawah lautan. Setiap hari dia nonton televisi untuk menyaksikan berita KRI Nanggala-402. Tak jarang, dia sampai diprotes sang anak karena terus saja nonton berita yang sama, sejak siang sampai matahari tenggelam.
”Masio tandang gawe iku yo tak pateni komporku. Tak ndelok TV sedinoan (meski sedang mengerjakan pekerjaan rumah, kumatikan komporku. Kulihat TV seharian)” ujar Sriminah yang berjualan di kawasan Candi Lontar sejak 1990.
Setiap menonton TV tentang berita Nanggala, air matanya tak terbendung mengenang sosok Guntur yang ceria dan baik hati. Juga, memiliki sisi kepemimpinan yang baik di tengah lingkungan warga.
Berda Asmara, istri Guntur, merupakan dosen PG PAUD, Fakultas Keguruan, Universitas Nahdlatul Ulama (Unusa). Senin (26/4) dua pekan lalu civitas academica Unusa mengadakan salat Gaib dan tahlil untuk Guntur dan semua kru Nanggala di area parkir kampus di Surabaya. ”Semoga semuanya menjadi syuhada,” tutur Rektor Unusa Achmad Jazidie di sela kegiatan tersebut.
Berda turut hadir. Pelukan hangat dari para dosen perempuan menyambutnya. ”Semoga ada mukjizat dari Allah supaya para kru diberi keselamatan,” ucap Berda sembari bergetar.
Pihak Unusa juga memberikan beasiswa pendidikan kepada putri Berda yang masih berusia 8 tahun. ”Beasiswanya sepanjang keinginan dari sang anak. Bismillah,” katanya.
Baca juga: Pas Sudah di Kapal pun Masih Sempat Kirim Foto ke Ayah
Pada hari yang sama di kawasan Manukan Yoso, Surabaya, Maya, istri Lettu (T) Anang Sutrianto, juga tak kuasa berkata banyak. Mengenakan jilbab biru tua, kedua mata Maya, seperti dilansir
jawapos.com, masih sembab. Suaranya terbata-bata ketika menerima kunjungan tamu. Pelatih Pramuka Kwarcab Surabaya itu hanya mengatakan terima kasih kepada semua pihak yang sudah melayat. ”Terima kasih sudah datang. Mohon maaf atas kesalahan suami saya,” ucapnya pelan.
Yanto juga beberapa kali menarik napas panjang selama bertutur tentang Nugroho. Meski mendiang bukan saudara atau kerabat, kebaikan dan keramahannya demikian membekas. ”Batin saya selalu menangis kalau ingat beliau,” katanya.