alexametrics

Teh Kulit Biji Kopi, Diklaim Mampu Lindungi Lambung & Cegah Kanker

4 Oktober 2019, 20:19:15 WIB

Lilia Rosa Siti Nurjanah, alumnus Universitas Negeri Semarang (Unnes) sangat kreatif. Gadis asal Wonosobo ini berhasil menciptakan teh dari kulit biji kopi yang selama ini terbuang. Teh dalam kemasan yang diberi nama Kupi itu bahkan sudah memperoleh hak cipta dari Dirjen HAKI.

M HARYANTO, RADARSEMARANG.ID

TEH Kupi atau kulit kopi. Inovasi dari Lilia Rosa Siti Nurjanah itu dibuat model teh celup. Teh Kupi sudah dipatenkan di HAKI. “Aku sudah buat bukunya juga saat KKN,” ungkap gadis yang disapa Lia ini kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (2/10).

Menurut gadis kelahiran Wonosobo, 31 Januari 1998 ini, ia menciptakan teh dari kulit kopi itu saat melaksanakan kegiatan KKN di Desa Tledok, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Temanggung pada 2018 silam. Saat itu, ia masih kuliah semester 7. Selama 48 hari KKN, Lia dibantu teman-temannya dan dosen pembimbing melakukan riset dari komoditas andalan desa setempat, yakni kopi.

“Kulit dari biji kopi yang masih merah-merah itu kita kupas, lalu kita keringkan. Proses sampai kering itu minimal 3 minggu sampai 3 bulan, kemudian kita haluskan, sehingga sampai berupa seperti teh,” jelasnya.

Dikatakan, melalui uji laboratorium, Teh Kupi memiliki banyak manfaat. Ia mengklaim berkhasiat untuk melindungi lambung, mencegah kanker, mengencangkan kulit, mengatasi sembelit, dan bisa juga mengatasi pembuluh darah.

Dari temuan tersebut, lalu dibawa ke Kota Semarang untuk ditindaklanjuti. Bahkan juga disetujui oleh dosen pembimbingnya dan diteruskan ke universitas. Hingga akhirnya penemuan tim KKN dibuatkan hak cipta ke Dirjen HAKI.

“Sekarang sertifikat HAKI sudah keluar. Hak cipta itu berupa proses-proses membuat teh dari kulit kopi seperti itu. Tanggal 12 September pengumuman, berlaku dari 1 Januari 2019 sampai berikutnya selama 70 tahun,” bebernya.

Alumnus Fakultas Hukum jurusan ilmu hukum Unnes yang sudah diwisuda pada Juni 2019 lalu itu mengatakan, pihaknya sekarang terus berkoordinasi dengan perangkat desa tempatnya KKN untuk melakukan pengembangan potensi desa setempat.

“Saya sudah mau monitoring sampai sejauh mana pengembangannya? Kalau minggu-minggu kemarin menghasilkan produksi 5 kg setiap harinya. Kita belum berani banyak. Produksinya di Temanggung, dikelola orang sana, kita hanya memonitor,” ujarnya.

Gadis yang sekarang bekerja sebagai sekretaris Kantor Hukum DSM & Partners ini mengakui, masih mengalami kendala dalam pengembangan produknya tersebut, yakni dalam bidang pemasaran.

“Kita kesulitan akses pemasaran. Untuk perusahaan yang mau menerima kendalanya itu termasuk biaya. Padahal kita mau membantu masyarakat di situ berkontribusi,” terangnya.

Meski demikian, pihaknya akan terus berupaya mengembangkan hasil karyanya ini hingga ke tingkat internasional. “Rencana ke depan pastinya bisa memasarkan hasil teh ini ke masyarakat lebih luas. Syukur-syukur ke tingkat internasional. Karena teh dari bahan ini kan jarang ditemuin,” pungkas gadis yang tinggal, Sampangan, Gajahmungkur, Semarang ini.

Editor : Mohamad Nur Asikin



Close Ads