
Para pemain dan crew film Indonesia Satu.
Satu lagi, sebuah karya anak bangsa hadir melalui film indie. Indonesia Satu, merupakan refleksi negeri terkini. Mengkritisi arogansi individu. Sekaligus mengajak orang untuk kembali membanggakan warna Indonesia, Merah dan Putih.
DIDA TENOLA-SURABAYA
17 Anak-anak berdiri terpaku, mengelilingi seorang perempuan. Perempuan itu kemudian melontarkan pertanyaan kepada anak-anak tersebut. "Dapat dari mana baju kalian?," tanyanya dengan nada bicara meninggi.
Suasana hening seketika. Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu. Anak-anak berusia belasan tahun itu tampak menundukkan kepalanya. Sebagian di antara mereka ada yang menggenggam lantas meremas tangannya sendiri, tanda gugup ketakutan.
Salah satu dari anak-anak itupun kemudian memberanikan diri untuk menjawab. "Aku tidak tahu siapa dia ibu. Yang jelas dia bilang, warna bajuku yang paling indah," ucapnya.
Mendengar ucapan itu, satu anak lainnya menyahut. "Tidak ibu, dia bilang warnaku yang paling indah," timpal anak lainnya.
"Bohong ibu, mereka berdusta! Yang paling indah adalah warna bajuku," sahut lagi anak yang lain.
Mendadak, semua anak-anak itu saling bersahutan tidak mau mengalah satu sama lain. 17 Anak itu merasa bila warna baju yang dikenakannya adalah yang paling indah.
Sore yang awalnya hening, mendadak riuh karena perdebatan sepele. Masalah baju. Anak-anak itu saling mengklaim yang paling bagus. Padahal baju tersebut adalah pemberian seseorang yang tidak dikenal.
"Stop! Ibu benar-benar kecewa dengan kalian. Hanya gara-gara baju saja kalian jadi bertengkar," teriak perempuan tadi memotong perdebatan di antara 17 anak-anak. Sang perempuan lantas pergi sambil berlinang air mata. Anak-anak itu hanya bisa saling menatap satu sama lain.
Cuplikan dialog di atas adalah salah satu scene yang akan tayang di film Indonesia Satu. Saat JawaPos.com mendatangi lokasi pembuatan film di kawasan Tenggilis Mejoyo, Surabaya, matahari sudah mulai kembali ke peraduannya. Para pemain film beradu akting sore menjelang Maghrib.
Petang itu adalah Minggu ketiga pembuatan film. Salah seorang penggagas film adalah Ketua Persatuan Artis Penyanyi Pencipta Lagu dan Pemusik Indonesia (PAPPRI) Sastra Harijanto Tjondrokusumo.
Hari, sapaan akrabnya, lantas menjelaskan salah satu scene yang dimainkan sore itu. Menurutnya, perempuan itu adalah sosok Ibu Pertiwi. Sedangkan 17 anak-anak melambangkan hari kemerdekaan RI 17 Agustus. Sekaligus merepresentasikan rakyat.
"Tadinya warna yang dikenal anak-anak itu cuma warna Indonesia, merah dan putih. Setelah dirusak oleh someone yang ngasih baju itu, jadi beraneka warna. Di situlah masalah muncul. Karena anak-anak itu menonjolkan egonya. Lupa sama warna aslinya," jelas Hari.
Beraneka warna tersebut juga diibaratkan seperti kehadiran partai politik (parpol). Parpol-parpol tersebut seakan lupa dengan warna asli Indonesia. Mereka lebih banyak memikirkan kepentingan golongan dan saling menjatuhkan satu sama lain untuk berebut kekuasaan.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
Dugaan Penipuan Lowongan Kerja Libatkan Eks Camat Pakal, DPRD Surabaya Desak Pengawasan ASN Diperketat
Deretan 11 Kuliner Pempek Terenak di Bandung yang Wajib Masuk Daftar Kunjungan
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi! Daftar Line Up Skuad Clash of Legends 2026 Barcelona Legends vs DRX World Legends di GBK
Heboh Isu Perselingkuhan Istri Ahmad Sahroni dengan Seorang Duda Drummer Band Tahun 90-an, Netizen: Ketahuan Mulu Mesra-mesraan di Publik
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
Harga LPG Non Subsidi Naik per 18 April 2026, Cek Daftar Harga Terbarunya!
9 Soto Legendaris di Bandung, Kuliner Murah Isian Melimpah tapi Rasa Juara
