Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 15 Agustus 2018 | 16.46 WIB

Tersiksa Glossopharyngeal Neuralgia sampai Sulit Menelan

Dewi Pratiwi setelah sembuh. - Image

Dewi Pratiwi setelah sembuh.

Nyeri telan sangat sering dikaitkan dengan radang tenggorok. Tapi, bukan itu yang diidap Dewi Pratiwi dan Tan Siu Yun. Rasa sakit saat menelan itu sangat hebat dan tiba-tiba. Keduanya mengalami gangguan medis bernama glossopharyngeal neuralgia.


DWI WAHYUNINGSIH, Surabaya


---


TAN Siu Yun masih ingat betul kejadian pada 10 Juli lalu. Saat minum air, tahu-tahu bagian lehernya terasa seperti terpelintir. Rasa sakit itu begitu luar biasa. Jika ditanya skala 1-10, Tan dengan yakin menjawab 10 (sakit banget).


Jika sakit sudah muncul, leher bagian kanan selalu dia tekan dengan kencang sampai memerah. Tujuannya satu, membuat rasa sakit itu teralihkan.


Tan panik. Jangankan makan, menelan ludah saja terasa tersiksa. Agar tak menelan ludah, Tan tentu saja jadi kerap meludah. Dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorok (THT) pun didatangi.


"Waktu diperiksa, tidak ada gejala radang. Jadi, diduga mengalami stroke," cerita Fanny Sutianto, putri Tan, yang mendampingi sang ibu setelah operasi Rabu (1/8).


Dokter merujuk Tan agar berkonsultasi kepada dokter spesialis saraf atau jantung. Saat memeriksa, dokter tersebut memastikan bahwa itu bukan stroke. Ibu empat anak tersebut kembali dirujuk ke spesialis THT yang lain.


Kali ini dokter menyebut gangguan di lehernya akibat radang. Antibiotik sudah diminum. Obat pereda nyeri yang dikonsumsi tak meredakan rasa sakit. Tan kembali berganti dokter. Pemeriksaan CT scan dan MRI dijalaninya Tetapi, tetap tidak terlihat ada yang salah dalam gambar tersebut.


Tan pindah ke jalur terapi akupunktur. Ada perubahan. Rasa sakit itu hilang. Tapi hanya sesaat seusai menjalani terapi. Setelah itu, nyeri hebat tersebut kembali menyerang. "Dua kali rawat inap. Yang terakhir hasilnya ya dipasang sonde itu. Katanya, katup pencernaannya nggak berfungsi," lanjut Fanny.


Berat badan sang ibu sempat turun dan lemas. Fanny dan keluarga terus mencari informasi upaya menyembuhkan sang ibu. Ada rekan kerja Fanny yang menyarankan untuk berkonsultasi kepada dokter spesialis bedah saraf.


Dokter M. Sofyanto SpBS memberi tahu bahwa ada saraf IX yang "selingkuh" dengan pembuluh darah. Namanya selingkuh, ya nempel terus. Istilah medisnya, glossopharyngeal neuralgia. Nyeri di area tenggorok akibat gangguan saraf.


Jalan satu-satunya, saraf dan pembuluh darah itu dijauhkan atau disekat. Tentu, melalui operasi. Tan sejak muda selalu ogah operasi. Apa pun sakitnya. Ditambah ada riwayat darah tinggi. ''Kali ini saya lebih milih operasi daripada harus menahan sakit lebih lama lagi,'' ungkap perempuan yang tinggal di Surabaya tersebut.


Tan menjalani operasi selama sekitar empat jam. Beberapa jam pascabedah di ICU, dia sudah boleh minum. Tan trauma. Kala itu, dia hanya berani minum seteguk. Barulah pada hari berikutnya, dia bisa menghabiskan sebotol air hingga tengah hari.


Dewi Pratiwi mengalami kondisi serupa. Perempuan yang tinggal di daerah Depok itu kesakitan luar biasa saat menelan. ''Pertama muncul saat saya baru tiba di Jeddah untuk melaksanakan haji pada akhir 2006,'' tutur Dewi saat dihubungi Jawa Pos, Selasa (7/8).

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore