Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 30 Desember 2024 | 02.04 WIB

Menjadi Ilustrator Medis Tidak Harus Dokter, Tapi Harus Kompeten

BUKA PETA BARU: Uti berupaya memopulerkan ilustrasi medis di Indonesia. Uti membentuk tim dan mendirikan Medimedi pada 2018. (DOKUMENTASI DOKTER UTI NILAM SARI) - Image

BUKA PETA BARU: Uti berupaya memopulerkan ilustrasi medis di Indonesia. Uti membentuk tim dan mendirikan Medimedi pada 2018. (DOKUMENTASI DOKTER UTI NILAM SARI)

JawaPos.com - Ketika mendengar istilah "ilustrator medis," banyak orang mungkin mengira profesi ini hanya bisa ditekuni oleh dokter atau tenaga kesehatan. Namun, menurut Uti Nilam Sari, seorang ilustrator medis, kenyataannya tidak demikian.

“Ilustrator medis tidak harus berlatar belakang dokter. Banyak jalur yang bisa ditempuh untuk menjadi profesional di bidang ini,” ungkapnya.

Uti menjelaskan, jika menilik sejarahnya ilustrator medis bisa berasal dari berbagai latar belakang. Mulai dari ilmu kesehatan seperti kedokteran, keperawatan, hingga kebidanan, meskipun tanpa dasar seni.

Sebaliknya, ada pula yang berasal dari dunia seni tanpa pemahaman ilmiah. "Ada juga yang tidak memiliki latar belakang seni maupun ilmu sains di awal perjalanan mereka," jelasnya. Karena pada hakikatnya, ilustrator medis adalah aktivitas yang bisa dipelajari asal tekun.

Sebagian ilustrasi media karya Dokter Uti Nilam Sari. (DOKUMENTASI DOKTER UTI NILAM SARI)

Namun, apa pun jalur yang dipilih, ada dua kompetensi utama yang harus dimiliki seorang ilustrator medis. Pertama, pemahaman ilmiah yang solid untuk memastikan hasil karya mereka secara scientifically approved. Kedua, kemampuan seni yang mampu menyajikan visualisasi yang menarik (visually engaging).

“Ilustrator medis harus bertanggung jawab, skillful, dan kompeten dalam kedua aspek ini,” tegas Uti.

Lantas, apakah harus ada sertifikasi? Dia menjelaskan, di negara maju seperti Amerika Serikat, sudah ada standar khusus untuk profesi ini, seperti sertifikasi Certified Medical Illustrator yang membutuhkan ujian tertentu. Namun, di Indonesia, ilustrasi medis adalah bidang yang masih berkembang.

“Di sini, ilustrator medis masih jarang. Untuk sekadar memastikan seseorang cukup kompeten di bidang ini saja masih menjadi tantangan, apalagi bicara soal sertifikasi,” kata Uti.

Ia menambahkan, sertifikasi mungkin baru akan menjadi isu di masa depan ketika bidang ini lebih berkembang di Indonesia. Untuk saat ini, fokus utamanya adalah meningkatkan kesadaran dan kualitas ilustrator medis dalam memenuhi dua kompetensi kunci tersebut.

Dengan semakin berkembangnya kebutuhan visualisasi medis, profesi ini memiliki peluang besar di masa depan. Siapa pun yang tertarik dapat memulai perjalanan mereka, terlepas dari latar belakang awal, selama bersedia belajar dan memenuhi standar yang diperlukan.

Uti meyakini, profesi ini bisa menjadi pilihan untuk generasi muda. Sebab prospek karirnya sangat besar. Mengingat urusan kesehatan adalah kebutuhan mendasar yang akan selalu ada dan berkembang selama manusia ada.

PENUH PERJUANGAN: Dokter Uti Nilam Sari menyelesaikan program medical visualisation and human anatomy di Skotlandia bersama sang suami. (DOKUMENTASI DOKTER UTI NILAM SARI)

"Kedokteran dan kesehatan akan selalu membutuhkan alat-alat pembelajaran untuk mencetak tenaga profesional yang kompeten," cetusnya.

Ia menambahkan, seiring dengan perubahan zaman dan perkembangan teknologi, kebutuhan ini terus berkembang menjadi semakin kompleks. "Karena itu, kita harus terus berinovasi dalam menciptakan alat-alat pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan masa kini dan mendatang," jelas Uti. (far)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore