Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 8 Juli 2018 | 21.02 WIB

Tokoh-Tokoh yang Berusaha Merekatkan Hubungan Indonesia dan Rusia (2)

MAESTRO BAHASA: Victor Pogadaev dengan kamus bahasa Rusia-Indonesia dan Indonesia-Rusia yang dia susun di rumahnya, di Moskow, akhir Juni lalu. - Image

MAESTRO BAHASA: Victor Pogadaev dengan kamus bahasa Rusia-Indonesia dan Indonesia-Rusia yang dia susun di rumahnya, di Moskow, akhir Juni lalu.


Ketika itu Pogadaev bekerja sama dengan ahli bahasa lain yang bernama L.N. Demidyuk. Kamus itu terdiri atas 25.000 kata.


Sebelumnya, pada 1997, Pogadaev juga membikin panduan percakapan bahasa Rusia dan Indonesia. Namun, karya tersebut tidak bisa dibandingkan dengan kamus yang dia susun.


Setelah kamus itu terbit, Pogadaev tidak mau berhenti. Pada 2008, bersama penerbit dari Moskow, Russky Yazik-Media, dia menerbitkan kamus serupa. Tetapi, kali ini lebih ambisius: dua bab dalam satu buku. Yakni, bahasa Rusia-Indonesia dan Indonesia-Rusia. Tebalnya menembus 1.136 halaman. Terdiri atas 60.000 kata.


Setelah kamus itu hadir, dia menulis surat kepada penerbit Gramedia di Jakarta. Isinya meminta kerja sama agar kamus yang sama bisa terbit di Jakarta. Gramedia setuju.


Juga, setelah proses yang menurut Pogadaev sangat menyenangkan, kamus tebal bahasa Rusia-Indonesia dan Indonesia-Rusia akhirnya terbit di Jakarta. Namun, yang ini tidak setebal terbitan Moskow karena "hanya" memuat 35 ribu kata. "Oplahnya sektar 5.000. Jadi, cukup laris," terang Pogadaev.


Selain terjemahan, kamus-kamus Pogadaev juga dilengkapi dengan gambar. Jadi, bukan cuma terjemahan kata, melainkan juga buku yang memberikan pandangan soal kebudayaan. Misalnya, kalau ada kata keris dalam kamus tersebut, orang Rusia tidak akan bertanya-tanya lagi. Sebab, memang ada gambar keris di sebelahnya.


Kesulitan terbesar bagi Pogadaev adalah banyaknya kata baru yang belakangan muncul dan mewarnai khazanah bahasa Indonesia. Jadi, dia menggunakan arsip koran untuk melakukan penelitian. "Misalnya kata merakit. Dulu, rasanya, itu tidak ada. Sekarang ada," katanya.


---


Saat ini Pogadaev adalah profesor di Institut Hubungan Internasional Rusia (MGIMO) yang berada di bawah kendali Kementerian Luar Negeri Rusia. Dia tentu saja mengajar bahasa Indonesia.


Pogadaev juga sudah menyusun enam buku antologi sastra Indonesia. Dia juga menerjemahkan buku berjudul Mencari Mimpi yang memuat karya-karya para sastrawan terkemuka Indonesia seperti Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, dan Taufiq Ismail.


Proyek terbarunya adalah buku berjudul Puisi dari Leher Gunung, sebuah antologi puisi kontemporer para penyair perempuan Indonesia. Dia bekerja sama dengan sastrawan Indonesia Hilda Winar. Rencananya, akhir tahun ini buku itu terbit di Moskow.


Yang juga cukup menyita waktu Pogadaev adalah posisinya sebagai wakil presiden Perkumpulan Nusantara. Organisasi itu terdiri atas pakar-pakar Asia Tenggara dari kampus paling prestisius di Rusia, Moscow State University.


Tahun ini Perkumpulan Nusantara sudah berusia 50 tahun. Mereka telah menerbitkan 20 buku. Seluruhnya berisi kajian budaya Melayu-Indonesia. "Jadi, saya kira, untuk merekatkan hubungan kedua bangsa, penting sekali belajar bahasanya. Ini agar kedua bangsa besar yang dulu sangat erat ini bisa saling mengenal kembali." 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore