Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 6 Oktober 2018 | 17.20 WIB

Berkunjung ke Jambi, Jangan Lupa Singgah ke Pasar Kemarik Sitimang

Sejumlah keramik yang dijual di Pasar Keramik Sitimang Jambi - Image

Sejumlah keramik yang dijual di Pasar Keramik Sitimang Jambi

PASAR Keramik Sitimang Kota Jambi punya daya tarik tersendiri. Ini surga bagi para pemburu pajangan dan perabot rumah tangga dari keramik dan sudah eksis sejak 40 tahun lalu. Singgahlah ke sini bila berkunjung ke Jambi


MUHAMMAD HAFIZH ALATAS


BERADA di Gang Mega pasar Kota Jambi, pasar keramik itu biasa disebut Pasar Sitimang. Sudah ada sejak tahun 1970 lalu. Kini pasar keramik tidak lagi dikelola pemilik aslinya, sudah turun-temurun.


Berbeda dengan beberapa tahun lalu, saat ini pengunjung pasar tidak terlalu ramai. Satu jam disana hanya terlihat ada satu dua pengunjung yang menyambangi toko keramik.


Pemilik toko memang tengah mengeluhkan sepinya pengunjung. Penurunan omset karena menurunya pengunjung mulai dirasakan sejak 2015 lalu. Hal itu dampak ekonomi masyarakat.


“Sejak 2015 penurunan pengunjung mencapai 50 persen. Sebelumnya ada 30 hingga 40 pengunjung setiap hari, kini hanya ada sekitar 15 pengunjung saja per hari,” kata Diak, pengelola toko keramik milik H Zakariah (Ayah kandung Diak).


“Kami ada tiga orang disini, dua kakak saya juga dagang keramik, itu di sebalah sana,” sebut pria 30 tahun itu dengan menunjuk sisi kiri tokonya.


Sebagian besar pengolala toko keramik di Pasar Sitimang bukan lagi pemilik asli. Sudah turun temurun beberapa generasi. Bahkan, saat ini sekitar 90 persen pemilik toko keramik merupakan warga seberang Kota Jambi. “Saya sudah generasi kedua. Yang lama sudah banyak tak ada lagi,” imbuhnya.


Dari sekitar 20an toko keramik sebelumnya, kini hanya tersisa dan bertahan 8 toko. Sejak tahun 2000 banyak pemilik toko yang beralih dari dagang keramik.


Barang yang mengisi pasar keramik sitimang merupakan impor dari Beijing, Tiongkok. Dulunya barang masuk melalui jalur laut via Batam. Setahun terakhir dengan aturan pemerintah, barang harus lewat darat dengan container.


Beragam jenis keramik tersedia di sana, mulai dari tempat sendok, pajangan dinding, pajangan meja, pajangan lemari, perabot rumah tangga hingga guci. Harga yang dibanrol paling murah Rp 30 ribu dan termahal Rp 3 juta.


Konsumen yang datang mengunjungi pasar sitimang itu tidak hanya dari Kota Jambi, banyak dari kabupaten tetangga, dan juga dari luar Provinsi Jambi. Bahkan juga ada bule. “Banyak dari Lampung, Palembang. Juga ada dari Pulau Jawa,” sebut Diak.


Solihin, penjaga toko kermaik lainnya menyebutkan, ramainya pengunjung pasar keramik juga musiman. Sangat ramai saat puasa menjelang lebaran dan musim haji. “Kalau musim haji, yang datang banyak dari daerah. Setelah mengantar keluarganya berangkat haji, belanja disini. Kalau saat puasa, jumlah pengunjung bisa melonjak 10 kali lipat,” kata Solihin.


Pasar keramik Sitimang mulai buka pukul 8.30 WIB dan tutup pukul 16.30 WIB. Pengunjung luar provinsi ramai datang saat hari libur. Mereka datang dari berbagai Provinsi, diantaranya Lampung, Palembang, Pekan Baru.  “Peminatnya musiman,” sebutnya.


Pada hari biasa, omzet yang didapat pemilik toko keramik berkisar Rp 6 hingga 8 juta. Jika hari libur lebih dari itu.
“Kalau puasa dan musim haji, omzetnya puluhan juta,” ujarnya.

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore