Di Delta Sungai Barito Itu, Populasi ”si Pemalu” Tumbuh Melebihi 100 Persen
Bertahun-tahun Sahabat Bekantan Indonesia
melestarikan bekantan dengan menjaga kualitas habitat dan meminimalkan penganggu eksternal. Masyarakat sekitar pun ikut terlibat dalam konservasi dan pengelolaan tempat wisata.
AGUS DWI PRASETYO,
Barito Kuala
---
KAPAL tongkang bertonase besar melintas di tengah aliran
Sungai Barito. Muatannya kosong. Siang itu, di sungai selebar 600–1.000 meter tersebut, kapal angkutan penumpang dengan ukuran lebih kecil juga hilir mudik. Sementara, beberapa nelayan menebar jala di pinggiran sungai dengan menaiki perahu kayu berukuran mungil.
Namun, begitu masuk ke sisi dalam Pulau Curiak, ingar bingar lalu lintas kapal besar di Sungai Barito langsung terasa redup. Delta yang dipenuhi tanaman mangrove rambai di sepanjang bibir sungai itu begitu hening dan tenang. Di tengah keheningan itulah, pengunjung bisa menyaksikan atraksi bekantan. Primata berhidung panjang dan bulu merah kecokelatan itu melompat dari satu pohon ke pohon lain.
Namun, kelompok bekantan itu perlahan menjauh ketika
perahu kelotok yang ditumpangi Jawa Pos mendekat ke bibir sungai. Binatang yang dijuluki monyet belanda tersebut seperti malu ketika aksinya dilihat dari dekat. ”Mereka memang pemalu, pasti kabur kalau didekati. Apalagi kalau ada suara bising,” kata Zainuddin, salah seorang relawan Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia (SBI).
Di Curiak yang hanya 15 menit ditempuh dengan menumpangi perahu kelotok dari Jembatan Barito, SBI mendirikan stasiun riset dan konservasi habitat alami bekantan. Secara administratif, pulau seluas sekitar 4 hektare tersebut berada di tiga desa. Yakni, Desa Marabahan Baru, Anjir Serapat Muara, dan Anjir Serapat Muara 1. Semua desa itu terletak di Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan (Kalsel).
Perahu yang ditumpangi Jawa Pos pada pertengahan Januari lalu itu lantas menyusuri ke sisi sungai yang lain. Menuju pondok Stasiun Riset Bekantan yang berhadapan dengan feeding station. Dari pondok yang dibangun menggunakan kayu ulin tersebut pengunjung juga bisa melihat aksi bekantan. ”Feeding station ini untuk menambah daya dukung pakan sementara,” ujar Amalia Rezeki, ketua Yayasan SBI.
Sejak 2013, Amalia bersama rekan-rekannya di SBI berfokus memulihkan populasi dan habitat bekantan di Curiak. Kerja sosial itu pun membuahkan hasil. Populasi primata yang menjadi maskot Kalsel itu tumbuh lebih dari 100 persen selama kurun waktu sembilan tahun. ”Awalnya, hanya ada 14 ekor. Sekarang sudah ada 30 ekor,” ungkap Amel, sapaan Amalia Rezeki.
Pada 2016, kamp penelitian bekantan didirikan. Mahasiswa dan peneliti, baik dari dalam maupun luar negeri, berdatangan ke stasiun riset tersebut. Mayoritas ingin melihat
kehidupan bekantan di habitat aslinya. Lalu, mempelajari siklus hidup (life cycle) dan sistem kehidupan sosial kelompok bekantan. ”Di sini ada tiga kelompok bekantan, kelompok Alpha, Bravo, dan Charlie,” paparnya.
Di antara kelompok itu, Alpha paling banyak. Ada 14 ekor. Meliputi induk bekantan jantan dan betina serta anakan. Menurut Amel, pejantan dewasa selalu menjadi pemimpin kelompok dan lazim mengawini lebih dari satu bekantan betina. ”Sistem mereka poligami secara sosial,” jelas dosen pendidikan biologi di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, tersebut.
Tidak pernah ada konfrontasi antarkelompok bekantan muda. Sekalipun, kelompok itu memasuki dan mengusik teritori kelompok lainnya. Selain itu, hasil penelitian Amel dkk berhasil membaca perilaku kehidupan bekantan betina muda yang menjadi pengasuh bayi-bayi primata tersebut. ”Jadi, ada babysitter di sistem mereka,” ungkap perempuan 33 tahun itu.
Dengan mengetahui siklus dan sistem sosial bekantan, SBI pun makin getol melakukan berbagai upaya
melestarikan habitat alami bekantan. Dan, meminimalkan faktor pengganggu eksternal yang dapat mengancam populasi ”si pemalu’ tersebut.
Amel mengungkapkan, pertumbuhan populasi bekantan itu bergantung kenyamanan habitatnya. Nah, sejauh ini hewan yang terdaftar pada CITES sebagai appendix 1 atau tidak boleh diperdagangkan secara internasional tersebut nyaman tinggal di Curiak seiring ketersediaan mangrove rambai yang melimpah. Pucuk daun mangrove air tawar itu merupakan makanan utama mereka.
”Kalau ada sedikit kerusakan habitat, mereka biasanya akan melakukan migrasi,” ujarnya.
Amel mencatat, ada beberapa faktor eksternal yang bisa memengaruhi kenyamanan bekantan di Curiak. Pertama, aktivitas lalu lintas kapal angkutan dan tongkang bertonase besar di Sungai Barito. Mesin kapal yang bising menjadi polusi suara. Oli buangan dari kapal juga mencemari sungai.
”Hilir mudik kapal, kemudian bunyi-bunyian, bisa mengakibatkan degradasi lingkungan habitat bekantan,” kata perempuan yang meraih penghargaan ASEAN Youth Eco-Champions Award (AYECA) pada 2019 tersebut. ”Tapi, alhamdulillah kebisingan di sini (habitat bekantan, Red) di bawah 55 desibel (dB), belum zona merah,” lanjutnya.
Selain menjaga habitat, Amel dkk terus mengedukasi masyarakat desa setempat tentang pentingnya menjaga kelestarian habitat alami bekantan. Pelan-pelan, masyarakat sekitar akhirnya paham. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang terlibat aktif dalam kegiatan
konservasi bekantan. ”Masyarakat saling mengingatkan kalau ada aktivitas yang mengganggu habitat,” tuturnya.
Konsep ekowisata Pulau Curiak itu tumbuh menjadi kegiatan positif bagi masyarakat. Ada lima kelompok masyarakat yang ikut andil dalam kegiatan konservasi bekantan dan lingkungan alam sekitar. Setiap kelompok beranggota 10 orang hingga 12 orang.
Tak jauh dari habitat bekantan, Amel dkk membangun tempat wisata berbasis tanaman mangrove: Mangrove Rambai Center. Unit usaha di Desa Marabahan Baru itu dikelola masyarakat desa setempat. Selain melihat bekantan, Amel dkk ingin mengedukasi wisatawan tentang pentingnya menjaga kelestarian mangrove tersebut.