Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 22 Oktober 2018 | 01.18 WIB

Menilik Sejarah Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Abi Sofian saat menunjukkan isi Museum SMB II Palembang - Image

Abi Sofian saat menunjukkan isi Museum SMB II Palembang

JawaPos.com - Museum Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang merupakan bukti bahwa Negara Belanda pernah menjalankan roda pemerintahan di Kota Palembang.


Alwi Alim, Palembang


Kota Palembang yang merupakan ibu kota Provinsi Sumsel dengan jumlah penduduk mencapai 3 juta ini banyak menyimpan cerita sejarah. Salah satunya Museum SMB II Palembang.


JawaPos.com berkunjung ke Museum SMB II yang berada di pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang.


Saat berada di sana, bangunan dua lantai yang sudah berumur lebih dari 60 tahunan, terlihat tetap kokoh dengan nuansa khas Belanda serta tangga setengah melingkar yang langsung dibuat oleh perusahaan Belanda pada zaman dahulu.


Tak ada sedikit pun yang diubah dari bangunan tersebut hanya perawatan yang terus dilakukan seperti pengecetan dan pencahayaan agar tetap memberikan kesan menarik.


"Welcome to the Museum Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang," sambut pak Abi Sofian yang merupakan penjaga museum membuat saya kaget.


Pria yang sudah berumur 60 tahun ini terlihat berbeda dengan bangunan bahkan Abi terlihat sudah lemah dan jalannya pun lambat. Meski begitu, ia tetap semangat memberikan informasi tentang sejarah tercipta Museum SMB II Palembang ini. Bahkan, Pak Abi pun dengan piawai menjelaskan dengan Bahasa Inggris.


Saya pun diajak Abi masuk untuk melihat isi di dalam museum tersebut. Ternyata isi museum tersebut terdiri dari beberapa prasasti seperti Prasasti Talang Tuo dan lain sebagainya. Namun, prasasti ini bukanlah yang asli melainkan replika yang tujuannya hanya mengingatkan sejarah dari prasasti tersebut.


Setelah mengunjungi setiap sisi ruangan, baru Abi menceritakan kisah dari Museum SMB II Palembang ini.


Berawal pada saat pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang pada tahun 1803. Museum ini merupakan rumah atau istana Kesultanan Palembang Darussalam.


Istana ini disebut juga Keraton Kuto Kecik yang mana bangunan hanya istana serta Masjid Agung Palembang yang dibangun dengan menggunakan batu bata.


Kemudian pada abad ke 17 atau tepatnya pada 1819, datang kolonial Belanda beserta pasukannya dan berhasil menduduki Kota Palembang. Sultan Mahmud Badaruddin II yang memimpin pemerintahan di Kota Palembang pun ditangkap dan diasingkan ke Ternate, Maluku Utara.


Tak hanya itu saja, pasukan Belanda pun melakukan penghancuran terhadap istana kesultanan tersebut serta melakukan penjarahan dengan menarik pajak semena-menanya kepada warga.


"Di tahun 1823, barulah Belanda membangun kontruksi Museum SMB II Palembang ini," kata Abi dengan nada yang penuh semangat.

Editor: Yusuf Asyari
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore