Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 2 Desember 2021 | 14.48 WIB

Laksma TNI Ahmad Samsulhadi dan Kegemarannya Mencipta Lagu Campursari

Laksamana Pertama TNI dr Ahmad Samsulhadi MARS. (Septian Nur Hadi/Jawa Pos) - Image

Laksamana Pertama TNI dr Ahmad Samsulhadi MARS. (Septian Nur Hadi/Jawa Pos)

Di balik profesinya sebagai perwira TNI-AL dan dokter penanganan pasien Covid-19, Laksamana Pertama TNI dr Ahmad Samsulhadi MARS menekuni hobi tarik suara. Sebuah album campursari berhasil diciptakan.

SEPTIAN NUR HADI, Surabaya

ALBUM itu berisi sepuluh lagu. Yakni, berjudul Kuntho Gulo Aren, Yo Wis Ben, Selendang Iki, Wedang Kopi Gulo Aren, Kembang Plataran, Tak Gantung Kangenku, Prasetyaku, Bocah Khas, Ilir-Ilir, dan Sholat. Seluruh lirik menggunakan bahasa Jawa. Semuanya sudah direkam dan empat lagu di antaranya telah memiliki klip video.

Semua karya Samsul diunggah ke media sosial (medsos) melalui kanal YouTube. Grup yang mengiringi bernama Kadang Kidung Menoreh.

Dalam dunia tarik suara, Laksamana Pertama TNI dr Ahmad Samsulhadi MARS memiliki nama panggung Didik Ashadi. Didik merupakan nama panggilan masa kecil. Ashadi adalah akronim nama aslinya. Yaitu, Ahmad Samsulhadi.

Tak disangka, lagu campursari karyanya lumayan disukai masyarakat. Itu dibuktikan dari jumlah penonton klip video dan subcsriber pada kanal YouTube-nya.

”Di kolom komentar, kebanyakan penonton memberikan respons positif. Dan baru-baru ini, karyanya mendapatkan pujian dari Bapak KSAL. Itu yang membuat saya tambah semangat untuk berkarya,’’ kata Didik di Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Kogabwilhan II, Senin (29/11).

Penanggung jawab RSLI Kogabwilhan II itu mengaku menggeluti tarik suara sejak duduk di bangku SD. Juara menyanyi sering didapat. Namun, Didik mulai menyeriusi hobinya pada Maret 2020. Saat awal-awal pandemi Covid-19 masuk ke Indonesia.

Cinta, sosial, dan masyarakat menjadi tema saat pembuatan lagu. Salah satunya terinspirasi kisah orang tua. Terutama sang kakek. Samsulhadi mengaku lahir dari keluarga sederhana.

Masa kecilnya dijalani full bersama sang kakek Muh. Idris yang dikenal sebagai kiai.

Oleh sang kakek, warga diajari cara salat dan ilmu agama. Bukan hanya warga setempat, kakeknya juga memutuskan keliling ke pelosok kampung untuk berkhotbah menyiarkan ajaran Islam. Di antaranya, Madiun, Tulungagung, Malang, Ponorogo, dan beberapa daerah pelosok lainnya. Terutama daerah yang masyarakatnya dinilai belum begitu paham ilmu agama. Didik selalu menemani sang kakek dalam mensyiarkan ilmu agama.

”Ikut (kakek) keinginan sendiri. Setiap merantau memakan waktu dua tahun. Karena itu, SD-ku sering pindah-pindah,’’ ujar pria kelahiran Kulon Progo (Lembah Bukit Menoreh), 8 Juli 1965, itu.

Dalam lagu Tak Gantung Kangenku misalnya. Lirik lagu itu berisi tentang rasa kangen kakek kepada sang nenek saat merantau.

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore