MENAMBAH ILMU: Ni Made Prami Dewanggi alias Gia di Kampus University of California, Davis.
Gia terpilih menjadi asisten penelitian di salah satu laboratorium neurosains kognitif ternama di Amerika Serikat (AS) setelah mengungguli 150 pendaftar lain. Juga pelajari komunikasi dan desain kopi.
LAILATUL FITRIAN, Surabaya
---
”DITERIMANYA bulan lalu, tapi baru mulai aktif minggu ini,” ujar Gia saat dihubungi Jawa Pos dari Surabaya kemarin (9/10).
Semua berawal dari ketertarikannya pada ilmu cognitive neuroscience atau neurosains kognitif.
Saking penasarannya, Gia cukup sering memanfaatkan office hour yang diterapkan University of California (UC), Davis, AS. Yakni, wadah untuk bertanya atau berkonsultasi secara privat dengan dosen. Dosen itu pula yang kemudian menyarankannya mendaftar research assistant di Luck Lab.
Ternyata dia terpilih setelah menyisihkan 150 kompetitor atau pendaftar lain. ”Di sini aku membantu pengoleksian data dari penelitian menggunakan electroencephalogram (EEG). Simpelnya, aku menguji subjek dengan EEG,” jelas pemilik nama lengkap Ni Made Prami Dewanggi tersebut.
Tentu kesempatan itu berharga mengingat belum ada universitas di Indonesia yang menggunakan EEG. Gia tengah menjalani studi di UC Davis lewat program IISMA (Indonesian International Student Mobility Award). Dia memulai perjalanannya sebagai awardee sejak summer quarter awal Agustus. Di sana Gia banyak menjajal mata kuliah multidisiplin lain.
”Aku ambil cognitive neuroscience dan computational cognitive neuroscience yang masih cukup berhubungan sama jurusan aku, psikologi. Sama design of coffee karena ayahku pencinta kopi dan aku mau tahu lebih banyak cara membuat kopi,” ungkap mahasiswi psikologi Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, tersebut.
Dengan menimbang manfaatnya untuk karier di masa depan, Gia juga mengambil studi introduction to mass communication and presentation, communication and collaboration skill for international students (studi pengenalan komunikasi massa dan presentasi, komunikasi, serta keterampilan kolaborasi untuk mahasiswa internasional).
Menurut dia, semua pekerjaan profesional akan membutuhkan kemampuan dan pengetahuan komunikasi yang baik. ”Ilmu ini juga akan sangat berguna untuk posisi aku yang saat ini masih menjadi chief marketing officer (CMO) Sekreativ,” ungkap gadis yang bulan ini genap berusia 21 tahun itu.
IISMA menjadi impiannya sejak menjadi mahasiswa baru. Dua tahun dia dedikasikan untuk belajar IELTS dan aktif berkegiatan. Gia sempat tidak percaya diri akan mendapat skor tinggi. Karena itu, dia mempertimbangkan mengambil universitas di Eropa.
”Ternyata skorku cukup tinggi dan itu bikin kepercayaan diriku naik. Aku pilih Amerika karena ingin pergi sejauh yang aku bisa untuk menuntut ilmu. Go big or go home!” tuturnya.
Pilihan itu juga tak terlepas dari andil orang tua Gia. Meski merasa khawatir melepas anak sulungnya merantau jauh, mereka mendukung penuh keputusan dia sejak awal. Gia pun selalu memberitahukan perkembangan pendaftarannya, dari lolos tahap wawancara hingga menjadi awardee.

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
