Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 Desember 2016 | 20.37 WIB

Bank Sampah Kampung Arjuno Produksi Bioetanol dari Limbah Plastik

HASIL LIMBAH PLASTIK: Ilham Kamaruddin menunjukkan bioetanol hasil olahan limbah plastik dari bank sampah di kampungnya. - Image

HASIL LIMBAH PLASTIK: Ilham Kamaruddin menunjukkan bioetanol hasil olahan limbah plastik dari bank sampah di kampungnya.

Banyaknya sampah plastik membuat Ilham Kamaruddin gelisah. Lelaki 28 tahun itu lantas memanfaatkannya sebagai bahan dasar untuk membuat bioetanol. Warga pun semangat karena mendapatkan penghasilan tambahan dari penjualan sampah plastik.





ARIF ADI WIJAYA





CAIRAN di dalam botol tersebut tampak seperti teh susu. Cairan itu berwarna cokelat muda dengan endapan abu-abu pada bawah botol. Baunya menyengat, mirip spiritus, tapi lebih tajam.



Cairan bioetanol itu merupakan hasil olahan bank sampah Kampung Arjuno, Desa Bedanten, Bungah. Kampung yang juara lomba Gresik Berhias Jawa Pos 2016 tersebut tergolong aktif dalam mengolah sampah.



Semuanya tak terlepas dari campur tangan Ilham sebagai penggagas produksi bioetanol. Warga setempat rutin menimbangkan sampah anorganik di bank sampah dua pekan sekali.



Plastik menjadi limbah yang paling mendominasi. Namun, tidak semua plastik memiliki nilai jual. ”Yang tidak laku dikumpulkan dan diolah (menjadi bioetanol, Red),” katanya.



Sejak adanya lomba Gresik Berhias Jawa Pos pada April lalu, warga kampung Arjuno mempunyai kebiasaan baru. Yakni, memilah sampah dan limbah rumah tangga.



”Sampah organik diolah menjadi kompos,” ucap Ketua RT 9, RW 3, Kampung Arjuno Mukhlis. ”Yang (sampah) plastik ditimbang di bank sampah dan diganti uang. Itulah (uang) yang membuat warga semangat,” lanjutnya.



Dengan kebiasaan tersebut, bank sampah bisa menghasilkan 250 mililiter bioetanol. ”Kadar oktannya mencapai 36.



Hingga saat ini, belum dipakai,” terang alumnus Fakultas Teknik Universitas Trunojoyo Madura itu. Alat pembuatan etanol tergolong sederhana.



Hanya dibutuhkan drum besi bekas, pipa besi 1 meter dengan diameter 10 sentimeter, dan kaleng bekas.



Pipa besi disambungkan pada drum dengan menggunakan las. Kaleng digunakan sebagai penampung air dingin di ujung pipa.



”Plastik dipanaskan. Asap hasil pembakaran itu akan mencair dan keluar melalui pipa besi. Hasilnya merupakan bioetanol mentah yang harus kembali diolah,” terangnya.



Ilham berencana menggandeng pemerintah untuk memproduksi bioetanol. Sebab, dibutuhkan plastik lebih banyak untuk produksi dalam jumlah besar.



Selain itu, alatnya harus memadai. Dengan begitu, bioetanol berbahan plaatik bisa diproduksi secara masal.

Editor: Administrator
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore