Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 20 Januari 2017 | 19.48 WIB

Kenangan DAMRI, Bus Kota, dan Transportasi Masal Surabaya

ANGKUTAN LEGENDARIS: Bus kota DAMRI beroperasi dari Terminal Purabaya, Bungurasih, Sidoarjo ke segala penjuru dalam kota Surabaya. - Image

ANGKUTAN LEGENDARIS: Bus kota DAMRI beroperasi dari Terminal Purabaya, Bungurasih, Sidoarjo ke segala penjuru dalam kota Surabaya.

Angkutan masal tidak hanya membawa fungsi layanan warga. Ia juga menjadi penanda zaman yang membawa kenangan.



TAUFIQURRAHMAN



Berjalan di bawah lorong pertokoan. Di Surabaya yang panas. Debu-debu ramai beterbangan, dihempas oleh bis kota. Bis kota sudah miring ke kiri oleh sesaknya penumpang. Aku terjepit di sela-sela ketiak para penumpang yang bergantungan...(Franky & Jane; Bis Kota 1979)



SETELAH googling demi googling dilewati dengan keyword yang kabur, akhirnya suara kakak beradik Franky dan Jane Sahilatua mengalun di ruang tamu Kuswadi, salah seorang pensiunan Perum DAMRI. Jawa Pos berkunjung ke rumahnya pada Rabu pagi (18/1).


Lagu Franky dan Jane tentang sensasi bus kota Surabaya kemudian dinikmati untuk beberapa saat.’’Nah, iya itu, itu lagunya,’’ kata Kuswadi menunjuk layar YouTube.


Lagu Franky dan Jane cukup untuk menggambarkan suasana hati orang Surabaya saat naik bus kota. Transportasi masal tersebut adalah primadona di kalangan warga Surabaya pada dekade 70–90-an. Bentuknya mewah, besar, dan gagah. Tarifnya juga murah. Naik bus kota menjadi kesenangan yang bisa diakses semua kalangan.


Namun, sisi minusnya juga berjibun. Terutama kalau tempat duduk penuh. Penumpang terpaksa berdiri di sepanjang lorong tengah. Berpegangan pada sebatang besi di atap. Kalau bus benar-benar sesak, penumpang harus rela menikmati berbagai macam aroma keringat. Apalagi ditambah bus yang miring. Yang paling kiri paling apes.


Kuswadi sudah lebih dari 40 tahun mengabdi di DAMRI. Tepatnya sejak jawatan angkutan milik pemerintah itu kali pertama mengoperasikan bus kota di Surabaya pada 1975. Meski ingat-ingat lupa, dia masih bisa merangkai ingatan tentang evolusi bus kota Surabaya.


Kuswadi menjelaskan alasan Franky dan Jane menyebut bus Kota Surabaya selalu saja miring. Layout tempat duduk bus Kota Surabaya senantiasa berubah-ubah. Mengikuti jenis maupun merek pabrikan armada yang diimpor DAMRI. Sejak trayek bus Kota Surabaya dibuka pada 1975, DAMRI mendatangkan bus jenis Mitsubishi Fuso. Bentuknya cebol, pendek secara vertikal maupun horizontal. ’’Orang manggilnya bus kebo. Jelek mukanya,’’ ucap Kuswadi.


Varian pertama, layout bus tersebut berupa dua baris kursi di kanan dan kiri. Setiap baris terdiri atas dua deret kursi. Tersedia ruang cukup luas di tengah bagi penumpang berdiri. Tidak lama kemudian, ada peremajaan.


Nah, layout bus angkatan kedua Fuso yang membuat bus kota Surabaya miring. Baris sebelah kanan tetap berbentuk dua deret. Tetapi, kursi di baris sebelah kiri menempel di sepanjang dinding kiri bus. Tempat duduk menghadap ke arah dalam. ’’Ada sisa lebih dari satu meter untuk ruang penumpang berdiri, pakai pegangan,’’ jelas Kuswadi.


Lantaran lebih banyak ruang di kiri, penumpang pun dijejalkan di ruang tersebut. Saat itu ruang berdiri malah tampak lebih sesak daripada ruang sebelah kanan. Bus pun berat sebelah. Dari kejauhan sudah bisa dilihat jalannya miring. ’’Makanya, lagunya jadi bus miring. Miring terus. Ada yang sampai pernya patah,’’ ungkap Kuswadi, lalu tersenyum-senyum.


Era si Fuso pun berakhir. Penggantinya datang dari India. Tata Motors tipe D306 dan E306. Saat itu sudah memasuki 1977. Layout-nya kembali seperti semula. Dua di kiri, dua di kanan. Seperti apa bentuknya? Ingat-ingatlah film India.


Meski menjadi primadona warga Surabaya, kemunculan bus DAMRI di Kota Surabaya sama dengan kedatangan transportasi masal lain, selalu diiringi kegembiraan dan polemik. Yang setuju menganggap bus DAMRI murah, daya angkut besar, dan rutenya terjangkau. Yang menolak merasa kehadiran bus DAMRI melumpuhkan bemo, lin, dan angguna.


Tidak jarang, para pengusaha maupun sopir angkutan lainnya ’’menyerang’’ secara frontal bus-bus milik Perum DAMRI. Misalnya, saat rute baru dibuka untuk jurusan Kutisari–Demak pp via Gubeng dan THR. Ketika itu didatangkan beberapa armada bus pabrikan Jepang, Hino seri BX, untuk melayani rute baru tersebut. Markas busnya berada di Kutisari.

Editor: Thomas Kukuh
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore